3 September 2023
Puisi-Puisi Tjak S. Parlan
Oleh Tjak S. Parlan*

Cerita Lama tentang Protein
Tual-tual kayu telah diberkati dengan jalinan
tali dan tradisi. Tual-tual kayu tumung yang terapung
di Sungai Goiso Oinan. Tual-tual kayu yang menunggu
dalam dingin, larut dalam bulan-bulan pasang-surut:
bulan-bulan payau menuju pembusukan kayu.
Tapi bagi para penghuni estuari, payau-basah
adalah rumah dengan liang-liang air bersih,
sarang yang pernah dipasang para perempuan,
suaka paling sempurna bagi para moluska:
cacing-cacing kayu warna susu vanila.
Maka ketika musim sedang tenang,
para perempuan datang menyiangi batang-batang
dan membawa pulang cacing-cacing bertubuh bening
sebagai pengganti ikan, teman bersantap bersama anyang:
sambal segar dengan perasan jeruk nipis, penghalau rasa amis.
Tapi akan ada yang tetap bertahan, akan terus ada
yang harus dihidupi, akan ada batang pohon baru dari hulu
bagi sekumpulan toek—cacing penggerek kayu
dari kedalaman air payau.
Tual-tual kayu mengulang cerita-cerita lama
tentang protein—cerita sehari-hari yang kadar sedihnya
tersiar samar dalam kabar statistik. Cerita yang lazim
tentang bagaimana cara menyalahkan iklim,
tentang bagaimana menyelamatkan sungai
ketika banjir telah lama sampai.
Ampenan, 17 Maret 2023
Mengingat Januari
Januari masih bertahan dalam cuaca basah
ketika seseorang bersepeda menggumamkan
sepotong lagu lama—seperti Tom Waits
menggerutui kenangannya yang patah.
Tapi aku tak setabah
nostalgia itu, seringnya jatuh
dan menggigil saat hujan tumpah.
Januari masih bertahan dengan kemuraman
yang sama. Gerimis panjang tak jelas jedanya.
Seringnya sore-sore ketika seorang pria
melintas di taman tanpa jas hujan.
Seringnya pada jam-jam ketika
pintu keberangkatan menganga
membuka ingatan-ingatan lama
tentang hujan di bandara,
tentang sesuatu yang menunggu dibicarakan
selepas pintu kedatangan,
tentang segala hal yang kautinggalkan
di kota penuh masjid:
teringat makan malam di trotoar Cakranegara,
juga jejakmu di Jalan Sriwijaya
—di depan Kantor Pos besar
kita pernah memesan jagung bakar.
Januari masih bertahan dalam segala ingatanku
terhadapmu, dalam kemuraman-kemuraman itu,
dalam kebahagiaan-kebahagiaan sederhana
yang tak tertanggungkan.
Ampenan, 27 Januari 2023
Para Pemetik Kangkung
Sebelum pasar buka dan derit cidomo
pertama datang menjemput, para perempuan pemetik
telah rampung mengikat kangkung.
Sejak subuh yang berpeluh, mereka mengikat
kereng pada pinggangnya yang kencang
dan menyingsingkan segala yang kurang
ke pasar pagi yang terbuka untuk segala harga.
Tapi selalu saja, tak ada penawar yang lebih tinggi
untuk seikat yang gemuk dan segar,
seringnya tak sebanding dengan
kenikmatan sepiring pelecing,
seringnya tak sepadan dengan
daftar menu di meja makan.
Sebelum pantai ramai dikunjungi,
sebelum sawah kembali menampung padi,
sebelum Sungai Jangkok kembali
berwarna Pramuka, sebelum restoran buka
dan merayu para pelancong dengan paket wisata,
para pemetik telah handal menakar sambal:
mereka gemar atau memang tahu
saat yang tepat merasakan pedas
—pedasnya nasib yang menyengat
ketika jatuh tenggat.
Pagesangan, Mei 2017-Agustus 2023
Tamasya ke Museum Kota
Di ruangan ini kita lebih mudah terkesima
pada diorama, warna cahaya pada benda-benda,
juga masa lalu yang meninggalkan gema
lebih panjang ketika jam-jam sepi pengunjung.
Di ruangan ini, selebihnya suwung
—sunyi yang membentang ke jalan
masa depan.
29 Januari 2023
Berkunjung ke Perpustakaan
Kita mengunjungi sepi, lorong-lorong
yang memanjang ini. Kepala kita semakin kosong
dan mata kita lebih cepat mengantuk.
Barangkali kita perlu tidur sejenak di buku-buku
agar terbangun sebagai kutu.
Ampenan, 26 Januari 2023
===
Glosarium
- Anyang (Mentawai) : Sambal mentah terbuat dari cabai, bawang merah, dan jeruk nipis. Biasanya dinikmati bersama toek.
- Cidomo (Sasak) : Alat tranportasi tradisional Pulau Lombok, semacam delman.
- Kereng (Sasak) : Sarung.
- Pelecing (Sasak) : Pelecing atau pelecing kangkung merupakan masakan khas suku Sasak (Lombok) berbahan utama kangkung.
- Toek (Mentawai) : Cacing penggerek kayu, hidup di kawasan estuaria dalam batang-batang kayu tumung yang direndam di sungai. Toek merupakan salah satu kuliner (ekstrem) khas di Kepulauan Mentawai.
===
Tjak S. Parlan, lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Buku kumpulan puisinya Cinta Tak Pernah Fanatik (2021), masuk dalam 10 Besar Kusala Sastra Khatulistiwa, 2021. Saat ini mukim di Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.