LiteraSIP

12 November 2023

Dua Calon Bapak

Oleh Ludira Lazuardi*

 

 

Malam begitu sunyi. Aku bisa mendengar detak jam dinding yang terpajang di tembok ruang tunggu rumah sakit ini dengan jelas. Di depanku duduk seorang laki-laki yang diam terpaku. Satu tangannya menopang pipi sementara tangan lainnya menggenggam sesuatu dengan sangat erat sampai ototnya menonjol. Wajahnya diliputi kecemasan. Aku bisa mendengar napasnya berat, beradu dengan detak jam dinding. Bibirnya gemetar seperti sedang mendaras doa.

Melihat lelaki itu aku seperti menatap cermin, karena aku pun seperti dia. Bahkan mungkin aku lebih kacau. Sadar aku juga sedang menopang dagu, refleks aku menurunkan tanganku dan tersenyum. Ah, aku tidak sendirian berada dalam ketidakpastian ini. Anehnya, aku menjadi sedikit lebih tenang.

Menit-menit berlalu dengan lambat, membuat dada seperti terbakar karena terlalu keras menahan sabar. Istriku sedang berjuang melawan maut, sedangkan aku hanya bisa termangu. Hanya ada aku dan lelaki itu di lorong terkutuk ini. Aku lantas menghampirinya dan mencoba memulai pembicaraan untuk mencairkan keadaan.

“Sudah lima belas tahun menikah, kami belum juga dikaruniai keturunan.” Dia mulai bercerita. “Setiap menginjak usia kehamilan lima bulan, janin selalu meninggal di dalam kandungan. Kata orang pintar, hal itu terjadi karena kutukan. Kini sepertimya usaha kami tidak sia-sia.” Kecemasan laki-laki itu memudar setelah ia mencurahkan isi hatinya padaku. Barangkali karena aku orang asing, dia menjadi terbuka. “Memiliki anak adalah impian terbesar istriku, oleh karena itu aku rela melakukan apa saja,” lanjutnya sambil menatap genggaman tangan.

Setali dua uang dengan kisahku, sebentar lagi aku juga akan menjadi bapak. Kata bidan, calon anak kami perempuan. Kami sudah mempersiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan buah hati pertama kami. Rania kami pilih sebagai namanya kelak. Kamar dan perlengkapan warna pink kami dekorasi secantik mungkin. Kami tidak sabar dipanggil ayah dan mama. Bahkan aku sudah membayangkan seperti apa nanti jika ia dewasa.

Untuk perempuan yang hamil tua, istriku tergolong wanita yang kuat. Masih beraktivitas ke sana kemari bahkan berkendara sendiri. Aku sudah melarangnya, tetapi tetap saja dia tidak mau mendengarkan. Hingga apa yang kutakutkan terjadi. Di tengah perjalanan pulang dari belanja, dia mengalami kecelakaan dan kini aku masih menunggu dalam ketidakpastian tentang nasib mereka berdua.

Suara tangisan menggema. Lelaki teman bicaraku terhenyak dari duduknya sampai menjatuhkan benda yang dari tadi ia pegang erat. Aku melihat sekilas benda itu sebelum sempat ia mengambilnya dengan terburu-buru. Benda yang aneh. Semacam tabung kaca berisi cairan merah pekat dan garis-garis hitam menyerupai bulu atau mungkin rambut.

“Ini adalah pelindung bayiku.” Dia berkata dengan terbata, seperti pencuri yang kepergok, tetapi masih mencari alasan. Padahal aku tidak bertanya dan dia tidak perlu menjelaskan apa-apa.

“Oh,” jawabku singkat.

Tepat setelah laki-laki itu masuk menemui anggota keluarga barunya, lampu kamar operasi istriku padam. Dengan penuh harapan aku menunggu dokter keluar untuk memberiku kabar gembira seperti teman sepenantianku tadi. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Duniaku seketika runtuh. Istriku memang berhasil bertahan. Akan tetapi, saat aku menanyakan kondisi Rania kecil, dokter malah kebingungan.

“Maaf, Pak, istri Anda tidak hamil.”

“Apa? Saya menemani dia periksa ke dokter kandungan. Saya mendengar detak jantung dan melihat pergerakan bayi kami dalam perut. Kok bisa-bisanya Anda bilang istri saya tidak hamil?” Aku marah dan membentak dokter yang menangani istriku. Lalu aku tersentak memikirkan kemungkinan terburuk, “Apakah dia keguguran?”

“Tidak, Pak. Kenyataanya memang istri Anda dalam kondisi tidak hamil. Mari saya tunjukkan hasil pemeriksaannya,” jawab dokter dengan yakin. Aku lunglai ke lantai. Apa sebenarnya yang terjadi?

Beberapa hari kemudian aku mendatangi kantor polisi untuk mencari tahu perkembangan penyelidikan atas kecelakaan yang menimpa istriku. Berhubung di tempat tersebut memang rawan terjadi lakalantas, maka pihak berwajib sudah memasang CCTV. Konon, banyak orang mencari tumbal di sana. Sering didapati aneka macam bunga disebar di jalan itu. Aku heran masih saja ada orang yang percaya hal demikian.

Dari hasil rekaman, polisi menjelaskan bahwa yang terjadi adalah murni kecelakaan tunggal. Jadi tidak akan ada penyelidikan lebih lanjut. Aku diizinkan untuk melihat rekaman juga.  Betapa herannya aku melihat mobil istriku yang melaju dalam kecepatan normal tiba-tiba terpental, seperti menabrak sesuatu di tengah jalan, sedangkan tidak ada apa-apa di sana.

Aku pasrah. Saat hampir mengalihkan pandangan tiba-tiba aku merasa ada sesuatu. Aku amati lebih dekat rekaman itu. Di antara beberapa orang yang menolong, ada seseorang yang mendekati istriku dan melakukan sesuatu yang janggal. Aku amati lagi dan meminta petugas memperjelasnya. Meski tetap samar, tampak orang itu memegang rambut istriku. Aku yakin sekali dia sedang mengguntingnya. Tidak ada yang memperhatikan perbuatan anehnya itu. Diam-diam dia memasukkan potongan rambut tadi ke dalam sebuah wadah kecil.

Seseorang yang sosoknya tidak asing. Aku amati lagi dan lagi sambil mengingat siapa dia, di mana aku bertemu. Dan ya, dia adalah lelaki itu. Lelaki yang kuanggap kawan senasip di ruang tunggu rumah sakit. “Bangsat!”

 

===

*Ludira Lazuardi, penulis cerpen dan puisi yang tinggal di Yogyakarta. Dapat dihubungi via instagram @sekat_senja atau email lauafallen@gmail.com

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *