12 November 2023
Puisi-Puisi Sri Umsi
Oleh Sri Umsi*

TABEBUYA UNGU AKU TITIP RINDU
Aku simpan kuncup-kuncup rindu
Di antara pucuk-pucuk rantingmu
Hingga saatnya mekar makhkotaku
Di akhir musim di kotamu
Tak akan gugur tabebuya ungu
Meski gersang jiwaku menanti musim berganti
Luruh daunmu melambungkan mantra
Menghembuskan embun rindu
Merekahlah bunga-bunga cinta
Aku tahu, sekering akhir musim
Seperih jiwaku menantimu
Menahan rindu bertalu
Menghidu kuncupmu yang menebar candu
Terjeratku di kotamu
Surabaya, Juli 2023
LARUNG JOLEN DI TELUKMU
Gending bertalu merebak di kalbu
Jelita penari gemulai bak putri mahkota
Iring-iringan penggiring sepanjang pesta
Kulihat prajurit para raja
Tandu terhormat persembahan
Rakyat merendah di hadapan lautan
Menunduk menahan keangkuhan pada alam
Membisikkan mantra-mantra merayu Tuhan
Akankah cahaya-cahaya dilemparkan di kedalaman jiwa
Ataukah dicabut tanpa sisa karena niat berbeda
Dilarungnya jolen ke tengah samudera
Menghempaskan segala kesombongan manusia
Membisikkan pesan pada ombak
Sampaikan salam rindu pada raja Suleman
Di telukmu kutatap cakrawala mengharu
Angin merentangkan layar-layar impian
Perahu-perahu cadik menegadah
Diciumnya ombak ditampungnya banyak cinta
Dalam pelukan mentari
Telukmu menebar wangi
Cilacap, 29 Juli 2023
ANAK-ANAK PANTAI
Dada telanjang kulit menghitam
Sesuram harapan dan cita-cita tentang masa depan
Yang hanya tahu tentang menjaring ikan
Dan esok tak ada mulut kelaparan
Sedang panen hanyalah tengkulak yang memetik harapan
Perih luka tersiram asin lautan
Hanya secuil luka dalam kehidupan
Masa bermain yang indah tentulah bercumbu dengan sampan
Dayung dan gelombang besar menjadi lelucon tak berkesudahan
Anak-anak berhati malaikat
Tak paham bermain game online dan instagram
Istana pasir dan kelomang jadi hiburan
Mungkinkah mereka kelak menjadi pemimpin masa depan?
Entahlah, hanya alam yang menyimpan jawaban
Cilacap, 20 Juni 2023
DI TEPI SERAYU VAN MANTHERON MERAYU
Kuhirup aroma malam
Di tepian sunyi Serayu
Kuhamparkan lengkung harapan
Titik-titik cinta Van Mantheron
Panasnya malam
di antara gemetar canting cintamu
Keriput jemarimu merayuku memelukmu
Menelusuri cinta Van Mantheron
Yang tersisa di setiap hamparan
Di palung kalbu van mantheron menjeratku
Membisik rindu tentang lahirnya mantheron baru
Aku tergugu, ada cinta dan ragu
Menatap sendu ringkih punggungmu
Yang teguh memuja Tuhanmu
“HU.” Kau sebut Rabbmu
Dalam setiap tiupan canting
Memberikan roh pada titik-titik yang kau hampar
Membawa selembar cerita menyentuh jiwa
Melahirkan mantheron sepanjang masa
DI KAKI MERAPI AKU KEMBALI
Mungkin sejuk udaranya tak kuhirup lagi
Tapi sejuk pelukan ibu selalu kurindu
Setelah hari- hari panjang kulalui
Ingin segera aku bersimpuh di kakimu
Merapi tetaplah menjulang tinggi
Dan aku hanyalah kurcaci kesayangan ibu
Yang selalu mencari hangat harum peluhmu
Yang mengalir di sungai-sungai penanda lanjut usiamu
Aku akan kembali
Di kakimu terselip artefak jiwaku
Yang kau ukir sepanjang waktu
Untuk memelukku
Boyolali, 27 Juli 2023
===
*Sri Umsi, ibu rumah tangga pecinta sastra dan wastra tinggal di kota Cilacap Bercahaya. Karyanya bisa dibaca pada kumpulan puisi Bunga yang Terserak (Hyang Pustaka, 2023) dan tersebar pada beberapa antologi bersama ataupun media online .