LiteraSIP

19 November 2023

Percakapan Ponsel dan Sajadah

Oleh Satya Michellia*

 

 

Huh, lagi, lagi, ia rebahan, padahal matahari di luar sana sudah meninggi. Burung-burung sudah berterbangan ke sana kemari, para pekerja pun sudah sibuk menjemput rezeki, bahkan emak-emak sudah sibuk ngerumpi. Akan tetapi, kenapa manusia satu ini masih asyik rebahan kembali?

Mulai, mulai, ia mulai memainkan ponselnya. Kalau sudah begitu ia tak pernah ingat waktu, alhasil selalu melewatkan waktu berharganya itu. Sebenarnya, jika mau, ia dapat menggunakan waktu yang disia-siakan itu untuk melakukan berbagai hal yang ia tunda. Apalagi beberapa waktu yang lalu, ia mengamuk-ngamuk tidak jelas karena beberapa pekerjaan tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Setelah dua jam berlalu, ia menguap lebar dan ponselnya dilemparkan begitu saja ke atas meja di samping kasur, lalu ia memiringkan badannya. Tak lama suara dengkur pun terdengar. Ckckck, tak habis pikir aku dengan manusia ini! Masih pagi begini, malah tidur lagi!

“Aduuuh…” terdengar suara erang kesakitan, ternyata berasal dari si ponsel. “Duh, sialan manusia itu! Seenaknya saja melemparku, tak tahu apa kalau badanku sakit semua???” Si ponsel menggerutu tak karuan, memaki-maki manusia malas itu.

“Percuma kau maki-maki, dia tidak akan mendengar, karena pada dasarnya dia sudah tuli, bahkan suara adzan pun tidak diindahkannya,” aku menimpali gerutuan si ponsel. “Kau harus lebih banyak sabar seperti aku, lihatlah sampai tubuhku berdebu pun aku tak diliriknya.”

“Ah iya, kasihan sekali kau. Sudah berdebu, asal tergantung pula pada hanger,” si ponsel menimpali sembari terkekeh-kekeh. Ya, ya, ya, aku memang tak seberuntung dia yang selalu dibawa ke mana-mana. Bahkan aku sendiri tak ingat kapan terakhir kali digunakan oleh manusia tukang rebahan itu.

Layar si ponsel berkedap-kedip dan badannya bergetar, entah apa yang terjadi, tapi aku sering melihat manusia itu langsung meraih si ponsel jika ia seperti itu. Andaikata manusia itu bersikap seperti itu juga padaku setiap kali aku bergoyang tersenggol olehnya, aku akan merasa bahagia sekali. Namun sayang, aku hanya bisa diam di saja, tak bisa bergetar maupun berkedap-kedip.

“Hei, kau sedang apa?” tanyaku pada si ponsel. Layar ditubuhnya masih menyala dan badannya pun masih bergetar.

“Oh, aku sedang menerima banyak pesan dari teman-teman manusia malas itu,” jawab si ponsel. Tak lama kemudian getarannya berhenti, tapi layarnya masih tetap menyala. “Kenapa? Kau penasaran?”

“Ya, sejujurnya aku penasaran dengan semua yang ada padamu, sehingga manusia itu selalu membawa dan menggenggammu setiap saat. Sebenarnya apa keistimewaanmu itu?” Jawabku panjang lebar pada si ponsel.

Layarnya kembali berkedap-kedip dan bergetar, ia terkekeh-kekeh kembali. “Tentu saja karena aku istimewa,” jawab si ponsel dengan jumawa. Layar di tubuhnya menjadi sangat terang dan bergetar hebat. “Berbeda denganmu yang tak bisa diajak berbicara, melaluiku ia dapat berbicara dan terkoneksi oleh siapapun, di mana saja dan kapan saja,” tukasnya. “Bahkan ia dapat bertemu dengan orang yang berbeda negara hanya dengan menggunakanku, aku juga dapat menghiburnya ketika ia sedih ataupun bosan.”

Aku mengibas-ngibaskan tubuhku dengan kesal, sehingga membuat hanger bergoyang-goyang dan debu-debu beterbangan. Huh, tapi kan aku juga dapat menjadi perantara bagi si manusia malas itu pada sosok yang lebih agung dari pada orang-orang yang sering terhubung dengannya?

“Hei, jangan salah! Aku pun dapat membuat manusia itu terhubung dengan sosok agung di semesta ini. Sama denganmu, ia dapat menghubunginya kapan saja dan di mana saja.” Aku menyanggah pernyataannya dengan menggebu.

Si ponsel tertawa terbhak-bahak, “Lalu, kalau begitu, kenapa ia tak pernah menggunakanmu lagi? Bahkan melirikmu pun tidak?”

Aku tak dapat membalas perkataannya, toh apa yang dikatakannya benar, manusia itu tak pernah lagi menggunakanku semenjak keluarganya berantakan dan pekerjaan-pekerjaannya tak terselesaikan. Terakhir kali menggunakanku, ia dalam kondisi marah dan menangis. Tak sampai di situ, ia pun mengugat, mengkritik dan menyalahkan semua kondisi yang dialaminya pada Sang Pencipta. Setelah puas, aku pun tak pernah digunakannya lagi.

Tiba-tiba si ponsel mengeluarkan bunyi yang nyaring hingga membangunkan manusia malas itu. Ia tak langsung bangun, tangannya meraba-raba dibalik punggungnya, tapi ia tak menemukan ponsel yang dicari. Akhirnya, ia membalikkan tubuhnya, lalu bangkit setelah menyadari ponsel miliknya ada di atas nakas. “Ya, halo.” Tangan kanannya memegang si ponsel, sedangkan tangan kirinya merapikan rambutnya yang acak-acakan.

Tak disangka setelah itu ia langsung turun dari tempat tidur, si ponsel diletakkan sembarangan dalam kondisi masih mengeluarkan suara di seberang sana, “Halo, halo, Firza, halo…!”

Kulihat ia hanya mencuci muka, lalu merangkap pakaiannya dengan jaket jins lusuh, kemudian meraih sling bag yang tersampir di sandaran kursi. Suara gerutuan pun keluar dari mulutnya, setelah menemukan kunci motornya ia menutup pintu dengan keras dan tak lupa si ponsel ia bawa.

Saat tengah malam, tiba-tiba terdengar bunyi kunci kamar dibuka, lalu sosok seseorang memasuki kamar yang gelap ini. Klik, lampu kamar menyala, oh ternyata si manusia malas itu. Ia datang dengan tertatih dan sempoyongan, air mukanya tak bisa kuterjemahkan, hingga tiba-tiba ia melemparkan sling bag-nya ke lantai dengan keras hingga si ponsel terpental keluar.

Dengan mata merah menyala, ia menyingkirkan semua benda yang ada di hadapannya. Buku-buku di rak ia tarik tak beraturan, kertas-kertas di atas meja ia singkirkan hingga jatuh berantakan. Sesudah itu, dengan nafas terengah-engah, tubuhnya lunglai, lalu ia menundukkan wajahnya ke lantai. Menangis meraung-raung, entah apa yang terjadi hingga membuatnya hancur berantakan seperti kondisi kamar ini sekarang.

“Hei, ponsel, apa yang sebenarnya terjadi?” Tanyaku pada si ponsel yang tergeletak di lantai. Layarnya berkedip-kedip lemah, “Kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan ketika ingin mengabarkan padanya bahwa mereka rujuk kembali.” Setelah menjawab pertanyaanku, layar si ponsel mati.

Ternyata, begitu rupanya, pantas manusia itu terlihat sangat frustasi sekali. Tiba-tiba ia meraihku yang tergeletak di lantai karena perbuatannya, membersihkanku dari debu, lalu meletakkanku dengan lembut di lantai. Selanjutnya, ia pergi ke kamar mandi, bersuci lalu memakai pakaian terbaiknya yang dulu selalu ia kenakan untuk pergi ke mesjid.

Dengan terisak, ia memulai ritual ibadahnya. Rakaat demi rakaat ia lakukan dengan lelehan air mata hingga membuatku basah. Hingga akhir ibadahnya pun ia masih menangis, bahkan semakin kencang sampai tubuhnya berguncang-guncang.

Ah, akhirnya kau menggunakanku lagi, meskipun kau harus mendapatkan teguran dari Tuhan berupa kematian.

 

===

*Satya Michellia adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki ketertarikan dengan dunia kepenulisan. Karyanya terpadat pada buku antologi bersama teman-temannya dengan judul Berbahagialah, Wahai Ibu! dan Maafkan Bunda Jika Kau Harus Berbeda. Selain itu karya penulis juga dapat ditemukan dalam buku antologi yang diterbitkan oleh SIP Publishing, yaitu Tinta Keberuntungan dan Pintu Berwarna Hijau.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *