7 Januari 2024
Sekumpulan Camar dan Perahu yang Pergi
Oleh Tin Miswary*

“Pengungsi-pengungsi itu terlalu malas, jorok dan suka membuat keributan,” kata Nyak Lah kepada istrinya petang itu, ketika beberapa perahu mendekati pantai Kuala Raja.
Mendengar ocehan suaminya, yang selalu diulang-ulang setiap kali ada pengungsi yang datang, Dek Nong tersenyum, senyum kesedihan yang selalu muncul tatkala para pengungsi menuruni perahu dan berdiri lesu di bibir pantai.
“Tidakkah kau ingat pada tsunami yang singgah di pantai ini?” tanya Dek Nong pada suaminya yang berdiri angkuh seraya tangannya mengibas-ngibas ke arah laut, mengusir pengungsi yang datang.
Itu bukanlah kali pertama ia bertanya pada suaminya dan bukan pertama kali pula suaminya melukis senyum sinis di bibirnya, senyum yang membuat pertanyaan Dek Nong jatuh terjerembap di hamparan pasir, di bawah batang kelapa yang berayun pelan. Dek Nong hanya bisa melempar pandang ke tepian pantai, menyaksikan tubuh-tubuh ringkih yang mengiba dengan mata redup seraya menatap haru anak-anak yang menangis, menarik-narik tangan ibu mereka di pantai itu.
Dalam beberapa tahun ini pengungsi itu semakin ramai saja. Mereka bagai laron mengerubungi lampu-lampu, membuat orang-orang di pantai Kuala Raja dan pantai-pantai sekitar merasa curiga kalau mereka akan membuat koloni baru di tanah itu, merebut tanah dan mengusir penghuninya.
Awalnya para pengungsi itu diterima dengan baik oleh penduduk yang bukan saja menyediakan tempat untuk berlabuh, tapi juga seabrek makanan yang siap disantap untuk mengisi perut-perut mereka yang lapar. Namun, perlakuan itu segera berubah setelah beberapa pengungsi itu melarikan diri dan membuat masalah di tenda-tenda pengungsian.
“Mereka tak boleh diberi hati!” kata Nyak Lah pada Dek Nong yang masih duduk setengah berjongkok pada geuleupak, di bawah rindang pohon kelapa, sementara Nyak Lah masih berdiri menatap laut.
“Mereka sengaja diselundupkan ke kampung kita untuk suatu saat mereka merebut tanah ini dan mengusir kita seperti Israel mengusir Palestina,” lanjut Nyak Lah dengan intonasi suara meyakinkan.
Belakangan ini Nyak Lah memang sering membaca postingan di laman facebook yang berisi berita tentang pengungsi Rohingya. Dalam berita yang viral itu tertulis bahwa pengungsi Rohingya adalah orang-orang yang menyamar untuk membuat koloni baru, untuk menjajah negara-negara yang mereka kunjungi dan lalu membunuhi tuan rumah seperti Netanyahu menggempur Gaza. Nyak Lah yang tak pernah lulus SD karena harus menjadi nelayan mengikut ayahnya, menelan berita-berita itu seperti sepotong agar-agar, tanpa perlu dimamah, seolah kabar itu benar belaka.
Di lain hari, ketika tangkapan ikan di laut sedang sedikit dan tengkulak membelinya dengan harga murah, Nyak Lah menghabiskan waktunya menonton Tiktok, mendengarkan analisis politik dari sana; tentang pengungsi Rohingya yang suka membuat gaduh. Nyak Lah yang tidak pernah lulus sekolah tak ambil pusing siapa yang berbicara. Bukankah kebenaran itu boleh diambil dari mana saja? Bahkan dari mulut anjing. Demikian Nyak Lah meyakinkan dirinya ketika kabar-kabar itu disajikan kreator konten di layar gawainya yang baru akan lunas bulan depan. Dan dari sanalah Nyak Lah mendapatkan pengetahuan tentang apa saja, bahkan tentang pengungsi-pengungsi yang kini berlabuh di Kuala Raja. Nyak Lah tak pernah tahu kalau yang ada di kepala kreator konten itu hanyalah uang dan uang.
“Tapi, apakah kau ingat ketika kita sendiri menjadi pengungsi?”
Dek Nong mengulang kembali pertanyaannya, pertanyaan yang sebelumnya terjatuh di hamparan pasir dan lalu lenyap diembus angin. Saat menanyakan itu mata Dek Nong masih tertuju pada tubuh-tubuh yang basah kuyup di pinggir laut, yang menyandarkan tubuh mereka pada dinding perahu.
Nyak Lah yang masih berdiri tiba-tiba saja menoleh pada wajah istrinya yang masih duduk di atas geuleupak. Senyum sinis kembali tergurat di bibirnya yang hitam. Dia seperti sedang menerka-nerka apa yang ada di kepala perempuan itu. Apakah penjelasannya kurang tajam? Tapi bukankah analisis itu sungguh meyakinkan? Ia sendiri menilai penjelasan itu sudah cukup ilmiah, sudah cukup menandakan kalau ia memiliki wawasan internasional.
Nyak Lah tak bersedia menjawab pertanyaan istrinya. Dia kembali membelakangi Dek Nong, mengibas-ngibaskan tangannya ke arah orang-orang di sana, menyuruh mereka segera pergi dan pulang ke negeri sendiri.
Melihat laku suaminya yang begitu, Dek Nong memejam mata, menarik ingatannya ketika gelombang setinggi pohon kelapa menghantam kampung mereka, menghanyutkan rumah-rumah dan membuat mereka timbul tenggelam dalam gulungan air berbau belerang. Dalam kekalutan itu Dek Nong tak sadar melepaskan tangan anaknya, membuat anak berusia lima tahun itu hanyut bersama sampah dan tubuh-tubuh manusia yang mengapung. Pada ketika itu Nyak Lah menggenggam erat tangan istrinya sampai kemudian mereka tersangkut di atap masjid.
Sejak saat itu mereka pun tinggal di tenda pengungsian, merintih dan mengutuk nasib bersama orang-orang yang kehilangan harapan. Saking kecewanya mereka pada nasib, ketika bantuan datang berjibun, mereka bahkan tak mau beranjak dari tenda, membiarkan kardus berisi makanan itu terpanggang matahari di tepian jalan.
“Ambillah kotak-kotak itu,” kata Dek Nong, saat melihat Nyak Lah bermalas-malasan di tenda. Namun, Nyak Lah menghardik istrinya, mengatakan kalau itu adalah tugas relawan.
“Kita sedang susah, harusnya mereka mengantarnya sampai ke mari,” jawab Nyak Lah.
“Janganlah membuat masalah. Bantuan sudah datang, kenapa untuk mengambil saja kau tak mau?” balas Dek Nong pada suaminya yang sejak tinggal di pengungsian itu menjadi sering marah-marah. Bahkan seminggu lalu Nyak Lah memukuli para relawan yang melarangnya membuang hajat sembarangan, membuat area penampungan berbau pesing. Untungnya relawan yang datang dari jauh itu tak mengambil hati. Dia memaafkan Nyak Lah ketika beberapa temannya ingin membalas laki-laki itu.
“Psikologi pengungsi memang tidak stabil,” begitu kata relawan pada temannya, membuat teman-temannya yang sudah susah payah mengurus pengungsi itu diam membisu.
“Pergi, bangsat!”
Mendengar suara Nyak Lah yang seperti petir, Dek Nong tersadar dari lamunan yang membawanya ke masa lalu. Dia melihat Nyak Lah bersama puluhan orang di Kuala Raja melempari pengungsi dengan seunudang dan geuleupak, membuat sekumpulan manusia itu kembali menaiki perahu. Dek Nong menyaksikan perempuan-perempuan menangis, menarik tangan anak kecil yang sedari tadi meraung-raung. Dan seketika saja perahu-perahu itu menjauh dari pantai Kuala Raja, kembali terayun bersama gelombang di tengah laut.
Pantai kembali sunyi dan petang pun kian meredup. Di bawah cahaya matahari yang semakin lindap dan samar, Dek Nong menyaksikan sekumpulan camar mengiringi perjalanan perahu-perahu itu.
*) Bireuen, 20 Desember 2023
Catatan:
Geuleupak: kulit kelapa kering
Seunudang: Pelebah kelapa
===
*Tin Miswary, menulis esai, cerpen dan resensi buku di sejumlah media. Menetap di Bireuen.