LiteraSIP

7 Januari 2024

Puisi-Puisi Restu Kurniawan

Oleh Restu Kurniawan*

 

 

Sajak Kehilangan Akhir Tahun

Akhir tahun kali ini, orangorang
seperti tahuntahun sebelumnya sibuk
kegirangan bersama terompet naga warna merah tua
       -menanam harapan, batang pohonnya mengangkasa,
        alasan doa katanya

Akhir tahun, sebelum tahun yang baru datang
orangorang sibuk membakari ikanikan
ayam dan masalalu yang hilang di tepitepi jalan
      -menanti daging matang yang warnanya pucat,
       membalas lapar setahun katanya

Akhir tahun
panggungpanggung megah penuh lampu
menyoroti wajahwajah lelah para pejalan
yang lelah setahun terbebani hutang demi pengakuan
-wajah luka, sepertinya

Di antara mereka yang ramai
aku sendiri, lanjut kembara di jalan sunyi
     -mencari selembar kertas yang di dalamnya pertanyaan,
     “aku hidup di jaman apa?, harus bagaimana?, eranya siapa?”,
      cuma coretan

Duh, di akhir tahun
aku kehilangan, ramai dan temanteman
kehilangan 360 kepingan kenangan

Purworejo, akhir tahun 2023

 

Sekeping Kenangan
Kecil dan Sempat Terlupakan

Kenangan itu, bagimu penting
bagiku sebatas kepingan
logam yang dilempar dan jatuh di telapak tangan
tampaknya sebagian

Seperti, ketika gerimis, waktu itu
kita sibuk menghitung rintiknya
samasama kehilangan waktu mengingat yang semestinya
     -pikiran dan jiwa kita terlena bau gerimis,
      lupalah makna penting kenangan, semestinya

Kenangan itu, bagimu penting
bagiku sebatas kepingan
logam yang dilempar dan jatuh di antara pikiran,
kenangan, hujan terus menderas

Dipertaruhkan, letak yang mana tampak
wajahmu atau wajahku, walau keduanya tetaplah basah penuh,
dingin, disiram deras kenangan
yang kemarin sempat dilupakan

Esok senja kita pergi kemana?
Ke jalan desa, jawabmu
mengumpul serakan kenangan
yang sempat dilupakan sebelum kembali datang hujan

Purworejo, Januari 2024

 

Bukan Kemarau
Jangan pernah lagi
mengutuki kemarau
dia tak cukup membuat kering
isi hati
ini

Sebab cinta tak selalu butuh basah
isinya bisa saja kering kapan pun waktunya
tiba

Belajarlah menerima utuh
cinta di kemarau dan hujan
sama-sama membawa pesan

Mau kemarau atau hujan
cintaku tetap basah
untukmu, kekasih

Purworejo, 2023

 

Kembali Puisi

Pada waktunya nanti
aku tak ada lagi
Kata-kata di bait puisi hidup meninggi
menjelma pohon kerinduan
;daun buahnya di suka kekasih abadi

 Pada waktunya nanti
kata-kata di bait puisi
Mengantarkanku pada mati
Setiap hurufnya membantumu mengeja waktu pertemuan
;mengingatkan, aku tak pernah lelah
sebagai lelaki terus menulis puisi

Apalagi
kalau bukan untuk mengabadi

Purworejo, 2023

 

===

Restu Kurniawan. Lahir di Bogor, 9 Oktober 1982. Karya-karya puisi, cerpen dan esainya dimuat di Suara Merdeka, Minggu Pagi, Wawasan, Radar Banyumas, Koran Merapi, dan kompas.com. Beberapa puisi dan cerpennya tergabung dalam buku antologi bersama.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *