LiteraSIP

9 Februari 2025

Berawal dari Kursi Besi

Oleh Hasan Ali*

 

 

Jika mereka yang berada di atas sana saban hari sibuk berebut kursi kekuasaan, Yuda saban hari sibuk berebut kursi besi di emper minimarket. Jika mereka yang berada di atas sana suka menjilati ludahnya sendiri, maka Yuda suka menjilati tetes terakhir kopi golda yang ia beli. Apa yang mereka pikirkan tak berbeda jauh dengan apa yang Yuda pikirkan. Mereka memikirkan bagaimana anak-anak mereka bisa duduk manis di kursi pemerintahan, sementara Yuda memikirkan bagaimana anak-anaknya bisa duduk manis di bangku sekolah yang diinginkan. Bukan sebab anak-anak Yuda tak pintar, melainkan sebab takut kalah saing dengan anak-anak yang rumahnya persis di samping pagar sekolah.

Jika sedang beruntung, Yuda bisa mendapati kursi kosong pada minimarket pertama yang ia tuju. Namun, jika tidak beruntung, ia harus berkeliling dua hingga empat minimarket untuk menemukan kursi besi yang belum diduduki. Dan hari ini, barangkali Yuda memang sedang tidak beruntung. Ia baru mendapatkan kursi besi kosongnya pada minimarket ke tujuh. Itu pun hanya menyisakan dua kursi saja yang belum diduduki.

Jika tidak sedang memiliki keperluan yang mendesak, ia bisa menghabiskan waktu hingga dua jam di kursi itu. Sejak pulang dari tempat kerja hingga azan magrib berkumandang. Kebiasaan itu membuat istrinya berpikir jika jam kerja suaminya memang sampai magrib. Ia justru akan bertanya-tanya jika suaminya pulang sebelum magrib. Dan Yuda merasa beruntung dengan anggapan istrinya tentang jam kerjanya. Tiap hari ia bisa melamun seorang diri di emper minimarket. Menonton kendaraan-kendaraan berlalu-lalang. Mendengarkan senandung kebisingan khas perkotaan. Menghirup berbagai aroma kepulan tembakau. Dan yang paling ia sukai adalah ketika hari sedang hujan. Yuda sangat menikmati bunyi rintik hujan yang baginya dapat menghapus segala duka. Barangkali dukanya itu ikut merembes ke dalam tanah bersamaan dengan air hujan.

Yuda segera menuju minimarket itu. Ia masuk ke dalam minimarket dan menuju mesin pendingin dengan berbagai jenis minuman berderet di dalamnya. Yuda sebenarnya tahu jika kebanyakan mimuman-minuman itu tidak baik untuk kesehatan, terutama untuk minuman-minuman manis, sebab memiliki kandungan gula yang tinggi. Namun, barangkali Yuda sudah kecanduan, atau barangkali sebab minuman itu murah, hanya tiga ribu rupiah. Ia tak mau ambil pusing memikirkan tentang kesehatan badannya. Terpenting mentalnya masih waras menghadapi guncangan hidup di dunia yang semakin banyak dijejali orang-orang culas.

“Aduh dompet saya kok nggak ada ya, Mbak,” ucap seorang lelaki di depan kasir dengan sebotol kopi golda persis seperti yang Yuda beli, sembari merogoh ke setiap saku di celana dan bajunya.

Yuda yang sedang mengantre di belakang lelaki itu segera menawarkan bantuan, ia ingin mentraktirnya. Lelaki itu menoleh, menerima bantuan Yuda, mengucapkan terima kasih, lantas bersama-sama dengan Yuda berjalan menuju dua kursi besi kosong di emper minimarket yang beruntungnya belum diduduki orang lain.

“Ketinggalan di mana dompetnya, Mas?” tanya Yuda kepada lelaki yang baru saja ia bantu itu.

“Entah, Mas. Saya nggak tahu.”

“Barangkali ketinggalan di jet pribadi sampeyan?”

“Ah, mana ada saya punya jet pribadi. Saya ini cuma bakul martabak, Mas.”

“Ya itu barangkali saja, Mas. Terus sampeyan hari ini nggak jualan?”

“Nggak, Mas.”

“Apa sebab sampeyan sudah jadi ketua partai sehingga nggak jualan?”

“Ah, mana bisa saya jadi ketua partai.”

“Ya itu barangkali saja, Mas.”

Yuda dan lelaki yang baru ditemui itu menghabiskan senja di emper minimarket dengan obrolan-obrolan ringan saja. Seputar profil keluarga dan sesekali berbincang tentang pekerjaan masing-masing. Tentang cara membuat martabak, juga tentang cara memasarkan martabak itu. Semakin lama, obrolan itu semakin banyak diisi dengan pengandaian.

“Andai ini, Mas. Ini hanya berandai-andai saja ya, Mas. Andai tiba-tiba sampeyan dipilih oleh warga menjadi ketua RT sebab bapak sampeyan yang merupakan ketua RT sebelumnya meninggal. Apa yang ingin sampeyan lakukan, Mas?”

“Ada-ada saja. Mana mungkin saya jadi ketua RT, Mas. Saya nggak mau. Masih banyak yang lebih pantas. Lah wong saya cuma bakul martabak kok mau jadi ketua RT.”

“Ya barangkali saja, Mas. Kita tidak tahu bagaimana takdir Tuhan ke depannya.”

Obrolan mereka pun resmi berakhir dengan ditandai suara panggilan dari corong-corong pengeras suara masjid dan langgar.

“Rumah saya dekat dari sini, Mas. Dari perempatan itu, tinggal belok ke kanan sekitar seratus meter. Masuk ke dalam gang, dan rumah saya ada di ujung gang. Di sebelah lapangan bola. Barangkali kapan-kapan sampeyan mau mampir.”

Lelaki itu hanya menjawab lewat anggukan. Ia berlalu dengan terlebih dahulu mengucapkan terima kasih atas kopi goldanya.

**

Enam bulan kemudian…

“Permisi….”

Yuda membuka pintu rumahnya dan terkaget-kaget begitu melihat sosok yang mengetuk pintu dan mengucapkan “permisi” itu adalah lelaki yang sama dengan yang ia bantu kala itu.

“Oalah sampeyan. Monggo masuk, Mas.”

“Terima kasih.” Lelaki itu masuk dan duduk di sofa ruang tamu rumah Yuda.

“Bagaimana jualan martabaknya, Mas?”

“Alhamdulillah sudah nggak jualan martabak.”

“Alhamdulillah? Wah, berarti nasib sampeyan sekarang sudah lebih mujur. Sampeyan benar jadi ketua RT?”

“Nggak. Kan sudah saya katakan dulu, Mas. Masih banyak yang lebih pantas untuk jadi ketua RT.”

“Oh ya lupa. Kalau sampeyan cuma jadi ketua RT, pasti masih jualan martabak. Sampeyan sudah jadi ketua partai?”

“Nggak juga, Mas.”

“Terus sampeyan kerjanya apa sekarang?”

“Sekarang saya jadi presiden di negara sebelah, Mas. Kebetulan tadi ada kunjungan ke negaranya sampeyan ini, jadi sekalian mampir sebentar ke sini.”

“Oalah, sekarang saya lagi ngomong sama presiden ternyata. Waduh. Presiden negara sebelah pula. Berarti sampeyan dinaturalisasi sama negara sebelah ya buat jadi presiden?”

“Ya kurang lebih begitu. Kebetulan kakek saya berasal dari negara sebelah itu. Jadi, sebenarnya di dalam diri saya masih mengalir darah negara sebalah itu. Orang blasteran lah.”

“Tunggu sebentar, Mas, eh, maksudnya Pak Presiden. Saya buatkan kopi dulu ya.”

“Nggak usah repot-repot, Mas. Ini saya mau balik sekarang.”

“Loh…, eh…, oh ya sampeyan, eh…, maksudnya Pak Presiden pasti sibuk ya. Pak Presiden naik mobil apa?”

“Nggak naik mobil.”

“Oh, nggak naik mobil. Pak Presiden naik apa?”

“Naik jet pribadi. Itu jetnya parkir di lapangan bola sebelah rumah sampeyan.

“Oh…, eh…, oh…, ya…, terima kasih atas kunjungannya, Mas. Eh, maksudnya Pak Presiden.”

***

 

===

*Hasan Ali lahir di Purbalingga. Buku pertamanya Salahkah Aku Terlahir Introvert? (Guepedia, 2021). Menulis di aplikasi Kwikku dan Lentera. Cerpen-cerpennya terbit di Ruang Litera SIP, golagongkreatif.com, kompasiana.com, serta dicetak secara antologi bersama penulis lain. Ia tergabung bersama komunitas Pulpen (Perkumpulan Pencinta Cerpen). Pembaca bisa menyapa penulis melalui instagram @hasan.ali.penulis.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *