5 Mei 2024
Doa Seekor Anjing
oleh Bagus Likurnianto*

Namaku Moud, manusia menyebutku Anjing. Aku tidak tahu kapan aku dilahirkan di dunia ini, yang kutahu bahwa aku telah lama tinggal di kolong pasar utama kota yang begitu megah di tengah padang pasir ini. Warnaku yang hitam pekat dan kotor menjadikan manusia menjauhiku. Terlebih di Negeri ini, sebagian besar masyarakatnya amat menjaga jarak dengan bangsaku yang membawa najis berat.
Tapi, bukan berarti tak ada orang yang peduli padaku. Sebagian di antara para pedagang ada yang selalu bersedekah sepotong daging atau terkadang ikan segar. Aku tetap bisa makan penuh syukur.
Pagi tak pernah lengang karena suara orang-orang sudah ramai berbelanja sejak dini hari. Wajah langit yang hampir cerah tak menampakkan bahwa hari ini merupakan hari yang baik. Sepasang burung yang terbang membawa kabar, “Badai pasir besar akan datang! Selamatkan diri kalian!” Teriak mereka kepada semua penduduk pasar. Namun, manusia yang mendengarnya hanya terkesima dengan merdunya suara cericit sepasang burung itu.
Tidak satupun di antara mereka yang bergegas menyelamatkan diri. Aku turut membantu dengan memberitahu seorang saudagar yang cukup berpengaruh di pasar itu – ia juga merupakan orang yang setiap hari memberiku sepotong daging,
“Assalamualaikum, Tuan. Tolong perintahkan semua orang berlindung karena akan ada badai pasir!” Teriakku, tetapi aku malah diusirnya.
“Pergilah, jangan mengganggu dulu, husss!” Usirnya, tapi aku tak kunjung menyerah.
Hingga akhirnya, “Blakkk!!” Sorban keras itu disibakkannya tepat ke wajahku.
“Anjing gila! Menggonggong tak jelas!” umpat si Saudagar marah karena pelanggannya ada yang tak jadi beli. Ia melanjutkan niaganya yang sedang ramai-ramainya.
“Astagfirullah,” akupun akhirnya pergi meninggalkan pasar hingga bertemu dengan rombongan unta yang mengawal seorang Pangeran dari Negeri seberang. Ia digadang-gadang calon Raja yang menguasai wilayah ini karena sang Ayah mewariskan sebagian tanah untuknya, termasuk kota ini.
***
Rupanya badai benar-benar melahap seisi pasar dan sekitarnya, aku sudah tidak peduli karena sikap saudagar itu dan memilih mengikuti rombongan. Badai pasir memang tak selalu menimbulkan korban jiwa, tetapi pasar itu pasti porak poranda karena tak memiliki penghalau badai apapun.
“Assalamualaikum, wahai Unta. Ke mana rombonganmu akan pergi?” tanyaku kepada Unta yang memimpin rombongan.
“Wa’alaikumus salam. Namaku Latha, kami akan menuju ke ibukota mengantar sang Pangeran, calon Raja Negeri ini,” jawabnya.
“Maafkan aku karena tak sopan belum memperkenalkan diri. Namaku Moud. Aku pergi karena badai yang baru saja menggempur tempat tinggalku di sana.” Aku menjelaskan.
Kami pun segera akrab dan banyak berbincang. Latha juga memberitahu bahwa sesungguhnya manusia tidak mengerti bahasa mereka. Ini menjadi jawaban mengapa Saudagar itu sama sekali tak menghiraukanku saat mencoba berbuat baik dan ia malah marah.
***
“Apakah masih jauh perjalanan ini? Aku sudah sangat lelah dan haus,” kataku kepada Latha. Tubuhku bergetar dan akhirnya terjatuh lemas setelah melampaui perjalanan bersama rombongan itu.
“Perjalanan kami masih 4 hari 3 malam, Moud. Maaf karena aku tak bisa menolongmu sekarang. Semoga Allah memberikan pertolongan kepadamu,” pungkasnya melanjutkan perjalanan.
Sementara aku terkapar dalam dahaga dan panas yang amat menyengat. Latha mampu bertahan karena di punduknya terdapat cadangan air, sementara aku hanya bisa pasrah.
Untungnya pendengaran dan penciumanku sangatlah tajam. Ini merupakan anugerah yang Allah berikan kepadaku dan patut aku syukuri. Aku bisa mendengar suara air dalam sumur yang sepertinya tak begitu jauh. Aku segera menuju ke sana dalam keadaan tertatih.
Sesampainya di sana ternyata aku masih belum bisa menjangkau air dalam sumur itu. Jika aku nekat melompat ke air, maka aku akan mati tenggelam karena tak bisa naik lagi.
“Ya Allah, hanya Engkaulah yang dapat menolong hamba saat ini. Hamba berserah diri kepadamu ya Allah.” Aku terkapar setelah berulangkali mondar-mandir mengitari sumur, hanya pasir panas yang bisa kujilati karena saking ingin minum air dari sumur.
Setengah sadar aku melihat seorang perempuan menghampiriku setelah turun dari karavan. Bajunya nampak tipis dan sedikit berantakan, bau keringat banyak lelaki sekaligus samar-samar tercium di hampir setiap lekuk tubuhnya. Aku tak tahu apa yang dilakukannya dalam karavan dan mungkin di tempat-tempat lainnya yang tak bisa kuendus asal baunya. Kini, yang kulihat hanyalah ketulusan hatinya menolongku. Ia bersusah payah mengambil air dalam sumur dengan sepatu kulitnya.
“Wahai Anjing, kasihan sekali engkau. Minumlah air ini,” ucapnya sambil memberikan air yang didapat. Sampai 3 kali ia melakukannya untukku. Hingga akhirnya aku terbebas dari dahaga. Perempuan itu pergi setelah keadaanku membaik.
“Alhamdulillah. Dahagaku telah lenyap. Ya Allah, hamba bersaksi bahwa ia benar-benar tulus menolong hamba. Dengan kebesaran-Mu yang Maha Pengampun lagi Maha Pemurah, hamba mohon kiranya Engkau dapat mengampuni segala dosanya dan menjadikannya penghuni surga-Mu ya Allah, Aamiin.” Hanya doa yang dapat kupanjatkan sebagai bentuk terima kasih kepada perempuan itu.
***
“Demikianlah kisah leluhur kita di zaman dahulu. Ibu mendengar bahwa Imam Masyhur bernama Bukhari meriwayatkannya dan tertuang dalam Kitab bernomor 3321 bahwa Rasulullah Saw telah menceritakan kisah Kakek Moud dan Perempuan itu kepada para Sahabatnya, dalam Sabdanya dikatakan bahwa Perempuan itu mendapatkan ampunan dan menjadi penghuni surga yang terpilih. Kisah tersebut tertulis pula pada riwayat yang tak kalah Masyhurnya, yakni Imam Muslim dalam kitabnya bernomor 2245.” Tukas Uzzi, seekor induk Anjing yang sedang mengantar tidur anak-anaknya.
“Wahai anak-anakku, meskipun kita dari bangsa Anjing, rupanya Allah memberikan kemuliaan-Nya kepada semua hambanya. Termasuk kisah yang akan kita ceritakan turun-temurun ini dan telah diriwayatkan dalam banyak Hadits Shahih yang begitu Masyhur sepanjang zaman.” Pungkas Uzzi, mengakhiri cerita pengantar tidur itu.
“MasyaAllah, senangnya kami mendengar kisah menakjubkan ini, Ibu!” seru salah satu anaknya yang kemudian tertidur.
Mereka merupakan kawanan Anjing yang tinggal di Indonesia setelah mengembara ke berbagai negara untuk menemukan berbagai kisah bangsa Anjing yang dapat mereka ambil hikmahnya.
===
*Bagus Likurnianto, Guru Pendidikan Agama Islam di SD Muhammadiyah 1 Banjarnegara. Saban sore ia bermain-main dan mengajar sastra anak di Komunitas Taman Kecil. Sedikit karyanya sempat disiarkan Koran Tempo, Basabasi.co, Media Indonesia, Suara Merdeka, dan lain-lain. Sebagian di antaranya diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Bulgaria, Korea dan disiarkan media Luar Negeri seperti Majalah Siwa Sanmun (Korea Selatan), The Indian Express (India), Shopia Magazine (Bulgaria), Utusan Borneo (Malaysia), Harian Ekspress (Malaysia), Majalah Bahana (Brunei Darussalam), dan lain-lain.
Like