LiteraSIP

5 Mei 2024

Puisi-Puisi Wawan Kurniawan

Oleh Wawan Kurniawan*

 

 

Suara-Suara Jauh Masa Silam

ranting patah
retak daun kering
kertas sobek
sebuah pisau jatuh di atas lantai
koin lima ratus rupiah melenting dua kali

awan kelabu petir sesekali
jantungku berdebar
kabar membatu di antara kita

2024

 

Suara-Suara yang Datang Nanti atau Nanti akan Pulang

Hembusan angin
musim terakhir
sebelum aku tiada
mengikuti ritme napasku
yang pelan terluka
terbuka menjemputmu
setelah hari-hari panjang
bergantian menjelaskan
nasib buruk yang merayakan
suara-suara yang memanggilku
nanti dalam kesendirian panjang ini.

2024

 

Suara-Suara yang Tak Lagi Kukenali Namun Aku Ingin

menjatuhkan air mata di sesuatu yang memantulkannya utuh,
mematahkan kesedihanku dengan suara denting piano kekasihmu,

bersenandung sendiri di bukit yang bisa melihat sungai bintang
dan mendengar batinku berbicara sekeras-kerasnya untuk penyesalan
dan segala yang berlalu selamanya – sendiri.

2024

 

Suara-Suara Pelan di Dasar Kelelahan Manusia Sepi

seekor semut hitam di dinding malam
memanggil bayang-bayangnya
mendengar langkah dan membayangkan
ada beberapa ekor lagi yang datang
menghampiri dan menemaninya
tapi tak lagi pernah ada

kecuali harapan
membutakan dan membiarkan hidupnya
berjalan sekuat dan seilusi mungkin.

2024

 

Suara-Suara yang Memanggil Dirimu Sendiri

 Telah kau bentangkan kabar-kabar baik
menahan dirimu untuk tidak gelisah
setelah bertahun-tahun kau usap ubun-ubun
tragedi yang menyatu ke dalam jiwamu
siksa hidup hanyalah tawa kecil dari apa
yang tidak benar-benar mampu kita pahami

kau hempaskan kesedihan, sembari
memeluk duka lara seakan dia abadi
menemanimu sebelum kematian yang setia
menjemputmu di hari-hari bahagia
yang tak mampu kau bayangkan sedikit pun.

2024

 

===

*Wawan Kurniawan, menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan beberapa karya. Beberapa karya yang telah terbit diantaranya, Kumpulan Puisi: Persinggahan Perangai Sepi (2013), Kumpulan Puisi: Sajak Penghuni Surga (2017), Kumpulan Esai: Sepi Manusia Topeng (2017) dan Kumpulan Puisi: Museum Kehilangan (2020).

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *