12 Mei 2024
Rintihan Seekor Ngengat
Oleh Marisa Rahmashifa*

Tak ada yang berubah, ia duduk di bangku kayu di samping tempat tidur, mengamati secangkir kopi yang tergeletak selama berhari-hari sembari memikirkan kematian suaminya. Kesenyapan telah menelannya. Sinar pagi dan kilau daun mangga dari jendela kamar tak mampu menghalau kesunyian itu. Perubahan yang bisa ia lihat jelas hanya mata sembapnya. Sejak semalam ia tak bisa lagi menangis karena matanya terasa kian berat.
Ia tak tahu berapa lama waktu yang dihabiskan untuk mengurung diri di kamar. Sekarang, dunia terasa seperti tempat yang penuh penyesalan. Dan air matanya tidak lebih besar dari rasa penyesalan itu. Dalam tidur dan bangunnya, ingatan itu menyetel momen kematian suaminya tanpa henti.
Tetiba ngengat berwarna seperti jerami hinggap di sisi jendela kamar yang berhadapan langsung dengan taman belakang. Kehadirannya terabaikan. Benak perempuan itu hanya tersita pada momen napas terakhir Fahmi yang menyayat-nyayat. Dengan suara bergetar dan air mata yang tak terbendung, ia menelpon salah satu kerabat. Namun, semuanya terlambat.
Tak lama kemudian, si ngengat terbang ke sudut lain. Ujung mata si perempuan menyaksikan itu. Tapi, ia tetap abai. Dengan penuh tekad, tubuhnya yang mungil beralih ke sudut lain, lalu ke sudut ketiga dan keempat. Ia pun mulai terganggu dan menoleh ke arah ngengat sembari terheran-heran akan alasannya hinggap di jendela padahal taman di depan begitu luas terhampar.
Perempuan itu tak terpikat mengamati lebih lama bukan karena warnanya yang tak menawan. Ingatannya terus merunut saat-saat terakhir sang suami. Napas Fahmi yang tersengal-sengal, dan kalimat terakhirnya sebelum mata tertutup rapat. Seperti koin yang diputar, begitulah waktu sakaratul maut berlangsung. Sementara itu, yang keluar dari mulutnya saat itu hanya nada kecemasan, “Kamu nggak papa?”
Si ngengat tak kehilangan ide memantik perhatian. Kini, menari dan bergerak zig-zag. Seketika tubuh mungilnya terantuk seekor burung yang memelipir secepat kilat, membuatnya terjatuh di ambang jendela. Perempuan itu ikut tersentak dan menuggunya terbangun. Rupanya sia-sia. Binatang itu tak mampu lagi berdiri. Dalam jarak yang tak begitu jauh, ia melihat ngengat terkebit-kebit. Ia pun mulai bangkit menengok keberadaannya.
Kebat-kebit kakinya kian menjadi. Kendati tubuhnya mungil, ia bisa melihat kekuatan luar biasa yang dikerahkan. Atau mungkin si ngengat tak lagi berusaha untuk bangkit, melainkan tengah menghadapi kematian yang seberapa pun keras dilawan tetap kalah. Apakah tandanya malaikat kematian juga berada di di dekatnya saat ini, sebagaimana ia bersama Fahmi beberapa hari yang lalu? Napasnya yang berat memang tak terdengar. Tapi, gerakan tubuh kecilnya yang terus tersengal membawa perempuan itu pada situasi lain dari yang lain.
Tak ada lagi tubuh mungil hewan itu, melainkan kilat cahaya yang menyilaukan mata. Rupanya tak terbentuk. Sepenuhnya, perhatian si wanita terserap pada seseorang yang terbaring, tak dikenalnya. Perlahan ia mendekat, dan dingin mulai merambat melebihi getir tubuhnya saat Fahmi dinyatakan tiada. Dari jarak yang sangat dekat, cahaya itu perlahan-lahan mengambil sesuatu. Top of FormSementara mata orang itu terkunci ke atas –tempat vitalitasnya berada, suara erangan kian lantang terdengar. Seperti akar pohon beringin ditarik paksa, menyisakan deras peluh yang terus bercucuran. Dalam waktu singkat, cahaya itu menyublim dan mengembalikan situasi semula, di mana seekor ngengat menghadapi kematiannya.
Raga yang mungil itu sudah melemas. Dalam posisi terlentang sudah menjadi kaku. Tanda-tanda kematian telah menunjukkan dirinya. Pada mulanya, ia hanya makhluk mungil tak berarti di jendela kamar. Lalu, berupaya keras demi menarik perhatian sebelum kemudian menjadi bangkai.
Sebagaimana ngengat menghadapi kematian, begitupula ia menghadapi nasib. Kekuatan sehebat apapun tak bisa memadamkan momentum penyesalan. Andaikata ia mendapati tanda-tanda lebih awal, ia tidak akan beranjak dari kamarnya setelah menyuguhkan kopi sore itu. Andaikata kematian menunjukkan dirinya lebih nyata, doa-doa akan dilantunkannya tanpa henti. Namun semuanya berlalu dalam kedipan mata.
Sebagaimana di depan jasad Fahmi yang tenang, kini air matanya kembali tumpah. Memori terus mengulang momentum kematian itu dengan jelas dan dingin menusuk tubuhnya yang semakin getir.
Malang, Agustus 2023
===
*Marisa Rahmashifa Putri, berdomisili Malang penggiat literasi penikmat sastra. Karya-karyanya telah dimuat di berbagai media cetak dan online.