LiteraSIP

4 Juni 2023

Ini (Bukan Sekadar) Perkara Timba Hitam

Oleh Hidayatul Ulum*

 

 

Yat baru saja membeli sebuah timba hitam lewat aplikasi belanja online lantaran keran air di tempat indekosnya sering mati berjam-jam akibat pemadaman bergilir yang dilakukan oleh pihak PDAM. Yat selalu merasa butuh lebih banyak air untuk membersihkan diri. Jadi, timba baru miliknya berfungsi untuk menampung air yang akan ia gunakan sendiri. Setidak-tidaknya jika ada pemadaman air PDAM, air dalam timba hitam itu akan sangat berguna untuk wudu. Oleh karena itulah, Yat memberi tulisan ‘Air Wudu Milik Yat’ pada tutup timba.

Perempuan bertubuh tambun itu memang berbeda dari perempuan-perempuan lainnya yang menghuni tempat indekos dengan leter L di kawasan padat penduduk Kota M. Ia lebih sering pipis, pun memiliki kebiasaan lama berada di kamar mandi. Baginya, guyuran air segayung-dua gayung belumlah cukup untuk membuat dirinya suci dari hadas besar atau kecil. Itulah mengapa, keputusan membeli timba untuk menampung air bagi dirinya sendiri dirasa sangat tepat.

“Sepertinya kamu beser, Yat!” ucap Maya lantang dari kamar mandi, berusaha mengalahkan suara derasnya air keran.

“Bapakku juga bilang begitu!” Yat balas berteriak, mengisi penuh timba hitamnya dengan air di kamar mandi sebelah.

“Hah?! Kamu ngomongin beser sama Bapakmu?!”

“Memang kenapa? Ngomongin perihal menstruasi saja pernah, kok!”

Yat menggeser slot pintu kamar mandi. Ia keluar dengan timba penuh air, meletakkannya di sudut dapur indekos yang letaknya bersebelahan dengan area kamar mandi. Meskipun ada peraturan tak tertulis bahwa barang milik pribadi tidak boleh berada di dapur, Yat mengabaikannya, karena jika timba hitamnya diletakkan di kamar mandi, tidak ada yang menjamin bahwa penghuni kos lain tidak akan menggunakannya. Pun jika meletakkannya di depan kamar, ia khawatir kucing jantan yang biasanya kencing sembarangan di sekitar kosnya akan mengencingi timba hitam itu.

***

Hari demi hari berganti tanpa terjadi pemadaman air PDAM di daerah tempat indekos Yat berada. Meski begitu, tiap usai salat subuh, Yat rutin mengganti air dalam timba hitamnya dengan air baru.

“Kamu enggak capek mengganti air timbamu setiap hari?” tanya Maya suatu ketika.

“Enggak. Demi kebutuhanku sendiri, kok,” jawab Yat sambil mengucek baju. Walau langit mendung, Yat tetap mencuci dan berniat menjemur bajunya di halaman sebelum hujan benar-benar turun.

Maya berdeham, mendekat pada Yat dan berbisik,  “Ngomong-ngomong, Andin ke mana, sih? Sibuk kerja part time? Atau dia masih suka mengungsi ke kos temannya? Padahal di sini air lancar-lancar saja.”

“Aku enggak tahu. Sepertinya dia memang enggak di kos ya, sekarang. Lihat, seladanya belum dimakan.”

Yat menunjuk pada sebuah botol mineral bekas yang terisi air dan selada di samping alat-alat mandi anak kos. Maya mengernyit jijik.

“Dia mau makan selada ini?” Maya lantas mengintip air dalam botol dan seketika menjauhkannya dari muka. “Hiii! Ada jentik-jentiknya!”

Yat tertawa lepas. “Eh, iyakah? Sini lihat!”

“Nanti beri tahu Andin, jangan makan selada ini. Sudah tidak layak! Dari mana sih dia dapat ide menaruh selada di dalam botol berisi air kalau ujung-ujungnya enggak segera dimakan? ‘Kan kesegaran sayur ada batasnya. Setahuku menyimpan selada supaya awet dan segar, enggak begini-begini amat.” Maya mencerocos tanpa henti.

“Mungkin dia ada sisa selada sehabis makan mi pedas sama kita tempo hari, lalu merasa sayang kalau seladanya dibuang. Makanya, ditaruh sini, barangkali mau dimakan lagi nanti.”

“Tapi, jorok!”

“Hssst, May! Kamu dengar itu? Andin pulang!” bisik Yat serius.

Yat memberi Maya kode lewat lirikan mata. Andin dan motornya memasuki pekarangan tempat indekos mereka. Wajahnya tertutup masker dan kaca helm.

“Aku antre mencuci ya, Yat,” ucap Andin sambil berlalu melewati Maya yang duduk berjongkok sambil berpura-pura mengusap-usap sepatu.

“Oke!”

Tanpa sepengetahuan Andin, Maya membuat semacam isyarat kepada Yat agar memberi tahu teman mereka itu perihal jentik-jentik di dalam wadah selada. Yat hanya mengatakan ‘nanti’ tanpa suara karena ia tahu Andin sedang letih sepulang bekerja.

 

***

 

“Yat! Hujan!”

Teriakan Maya membuat Yat tergopoh keluar kamar. Ia langsung berlari mengambil jemuran miliknya yang ia gantungkan pada kawat-kawat berkarat di halaman. Ternyata mendung sejak siang memang pertanda bahwa hujan akan turun hari itu dan malamlah waktunya.

“Lain kali laundry saja, Yat! Daripada selalu kaget dan tergopoh begitu,” usul Maya ketika Yat selesai menggantungkan jemuran basahnya di teras.

“Aku ingin hemat, May. Eh, sebentar, aku harus ke kamar mandi.”

Yat langsung berjalan terburu-buru menuju kamar mandi untuk pipis. Ternyata sejak tadi ia sudah menahannya. Namun, ketika melewati depan kamar Andin, Yat melihat sebuah timba hitam dengan cucian pakaian dalam, terguyur oleh hujan. Tampaknya Andin lupa bahwa ia punya cucian itu. Maka, Yat meneduhkan timba itu ke teras sembari membatin, Andin punya timba hitam sepertiku ya, tapi timba miliknya tidak punya tutup.

Pintu kamar mendadak terbuka. “Wah, terima kasih ya, Yat. Kamu baik, deh,” ucap Andin sambil tersenyum-senyum riang di ambang pintu.

“Sama-sama, Andin,” balas Yat dengan senyuman riang pula. Entah kenapa hatinya bahagia bisa melakukan perbuatan baik walaupun sesederhana menyelamatkan cucian teman dari guyuran hujan.

Suasana sepi. Di dalam kamar mandi, Yat bisa mendengar suara langkah kaki menuju area dapur. Seseorang ke sana entah untuk mengambil apa. Kedengarannya sebentar saja.

Usai dari kamar mandi, ketika hendak menuju kamarnya, mata Yat membelalak menyaksikan timba hitamnya berada di depan kamar Andin. Itu adalah timba yang ia teduhkan tadi. Itu adalah timba berisi cucian PAKAIAN DALAM—entah kenapa di dalam batok kepala Yat, semua kata di pikirannya seolah-olah ingin mengkapitalkan diri—yang sekarang sudah memiliki tutup bertuliskan AIR WUDU MILIK YAT.

Detik itu juga Yat tertawa. Ia terbahak-bahak. Ia terpingkal-pingkal hingga perutnya sakit. Semua penghuni kos seketika keluar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Mereka memasang wajah penasaran, termasuk Andin.

“Ada apa, Yat?” tanya Andin  heran.

Yat masih tertawa. Ia berjalan menuju kamarnya, mengabaikan pertanyaan Andin. Maya yang kepo mengekor masuk sebelum Yat menutup pintu kamarnya.

“Kenapa, Yat?”

“Kamu tahu, May? Ini bukan sekadar perkara timba hitam,” ucap Yat tergelak.

“Timba hitam apa? Ada apa sih?” Maya bingung.

“Ini tentang manusia lucu yang punya kehendak egois saat hidup bersama manusia lain! Manusia tidak punya etika yang tidak tahu cara meminta izin dengan benar!”

Yat terus melanjutkan tawanya.

 

==

*Hidayatul Ulum atau Hida alumnus Universitas Negeri Malang Jurusan Sastra Indonesia. Hida dapat dihubungi melalui akun instagram @hida_adenanthera.

 

1 thought on “Ini (Bukan Sekadar) Perkara Timba Hitam”

  1. Pingback: Ruang Literasip Edisi #21 - SIP Publishing

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *