21 Januari 2024
Jalan Tuhan*
Oleh Ilham Wahyudi**

Pada suatu negeri, sebut saja namanya Negeri Nganu, ada sebuah jalan raya yang lebar, besar, dan panjang. Jalan itu, oleh masyarakat sekitar diberi nama: Jalan Tuhan.
Entah siapa orang pertama yang menyebut; menyeru nama Tuhan di daerah itu, sehingga kemudian akhirnya Tuhan menjadi nama jalan. Tetapi satu yang pasti, jalan itu kesudahannya masyhur ke seluruh Negeri Nganu. Bahkan sudah pula viral ke beberapa negeri tetangga.
Menurut BPJNN (Badan Pengelola Jalan Negeri Nganu) Jalan Tuhan termasuk tiga besar jalan terpanjang di Negeri Nganu. Memiliki panjang jalan lebih kurang sekitar 25 kilometer, membuat BPJNN tanpa ragu memberikan penghargaan kepada Jalan Tuhan sebagai salah satu jalan terpanjang di Negeri Nganu. Sedangkan dua jalan lainnya yang termasuk dalam kategori jalan terpanjang adalah, Jalan Har dan Jalan Owee. Kedua jalan itu juga memiliki panjang yang cukup fantastis: Jalan Har dengan panjang 32 kilometer, sedangkan Jalan Owee memiliki panjang sekitar 15 kilometer (jalan ini mungkin saja lebih panjang, sebab sampai sekarang masih terus diusahakan dibangun lebih panjang). Dan menurut kabar yang beredar luas, nama Jalan Har dan Jalan Owee diambil dari nama tokoh paling berjasa di Negeri Nganu.
Kembali ke Jalan Tuhan (cerita ini sememang hanya ingin menceritakan perihal Jalan Tuhan belaka, bukan dua jalan panjang lainnya, pula jalan-jalan yang pendek di Negeri Nganu). Karena dinilai cukup menarik dan telah pula mencuri perhatian banyak orang perihal nama jalan itu sendiri, rakyat dari belahan Negeri Nganu, pun wisatawan dari luar negeri banyak yang jatuh penasaran, yang akhirnya rela meluangkan waktu untuk datang menengok langsung jalan tersebut.
Akan tetapi, seperti halnya dua jalan panjang yang lain, Jalan Tuhan pun memiliki kekhasan yang tak dimiliki oleh jalan-jalan lainnya di Negeri Nganu. Sehingga, banyak pula yang memasang niat datang akhirnya memutuskan batal, setelah mengetahui kekhasan jalan tersebut yang benar-benar khas.
Siapa pun yang melintas di Jalan Tuhan, harus diperiksa serta akan ditanya-tanya terlebih dahulu perihal sesuatu yang terkait-terhubung dengan Tuhan. Mulai dari asal-usul moyang si pejalan, agama si pejalan, mazhab-aliran apa yang dianut si pejalan, seberapa rutin si pejalan beribadah, rumah ibadah si pejalan termasuk rumah ibadah yang besar atau kecil, atau rumah ibadah si pejalan pernah kena bom atau tidak, bahkan besar kecil amal yang sudah dikumpulkan si pejalan selama hidup, pun tak luput ditanya oleh penguasa Jalan Tuhan. Dan penguasa jalan itu, sering pula disebut dengan sebutan manusia maha benar dengan segala pertanyaan dan perintahnya.
Siapapun, tak terkecuali pejabat yang melintasi Jalan Tuhan, wajib mematuhi aturan serta tata tertib yang berlaku di sepanjang Jalan Tuhan. Sehingga saat melintasi jalan tersebut, setiap orang akan diceramahi lebih dahulu tentang bagaimana seharusnya setiap pejalan berhubungan dengan Tuhan. Kemudian si pejalan juga akan diberi tahu secara spesifik apa saja perihal yang haram dilakukan sepanjang melewati Jalan Tuhan. Terakhir, sebelum si pejalan boleh benar-benar melintas, setiap pejalan akan diberikan obat (semacam pil) anti ini dan anti itu. Yang mana tujuannya agar si pejalan selamat sampai ke tujuan.
”Minum segera di depan kami!” begitu kata manusia maha benar dengan segala pertanyaan dan perintahnya.
Begitupun, meski penuh dengan aturan dan tata tertib, orang-orang yang penasaran tetap saja ada yang datang melintasi Jalan Tuhan. Sebagian juga ada yang akhirnya menetap dan tinggal di sekitar Jalan Tuhan. Namun, belakangan ini, banyak pula yang sudah menetap di sekitaran Jalan Tuhan, akhirnya memutuskan kembali ke jalan menuju diri sendiri.
”Kenapa Anda keluar dari Jalan Tuhan? O, ya, seperti apa sih kehidupan di Jalan Tuhan itu? Benarkah keberkahan Tuhan sering turun di jalan tersebut?” Seseorang memberondong tanya kepada mantan warga yang pernah tinggal di sekitar Jalan Tuhan.
Tetapi orang yang pernah tinggal di Jalan Tuhan hanya diam tak menjawab sepatah kata pun. Mereka (orang-orang yang keluar dari Jalan Tuhan) biasanya hanya tersenyum getir. Tampak seperti takut menjelaskan alasan mereka pergi keluar dari jalan itu.
Memang santer beredar pula, siapa pun yang pernah tinggal di Jalan Tuhan, lalu kemudian memutuskan pindah dari Jalan Tuhan, akan diinterogasi sebelum keluar dari Jalan Tuhan. Soal isi interogasinya banyak yang tidak tahu pasti. Namun intinya, ada semacam perjanjian dari warga yang pernah tinggal di Jalan Tuhan untuk tutup mulut membicarakan apa saja yang terjadi di Jalan Tuhan. Kalau coba-coba bercerita, orang itu dipastikan akan mendapatkan tindakan pembalasan dari manusia-manusia yang maha benar dengan segala pertanyaannya dan perintahnya.
Kehebohan yang terjadi pada Jalan Tuhan tersebut, kesudahannya sampai pula terdengar oleh Tuhan. Sehingga pada suatu malam yang tenang, sejuk, dan damai, Tuhan memutuskan melihat langsung jalan tersebut. Sambil mendengarkan doa rakyat Negeri Nganu yang sering melangit terbang di malam hari, Tuhan berhenti di sebuah gerbang jalan yang lebar dan besar. Dengan tersenyum Tuhan melihat plang besar yang bertuliskan nama jalan itu. Namun setelah membaca tulisan di plang jalan itu, Tuhan memutuskan mencari jalan yang lebih terang dan nyaman untuk dilewati.
Keesokan hari, masyarakat yang tinggal di sekitar Jalan Tuhan gempar. Plang nama jalan yang terpampang besar di gerbang jalan masuk ke Jalan Tuhan, ternyata berubah nama menjadi Jalan Hantu. Entah siapa yang mengubahnya. Dalam hati mereka pun bertanya-tanya; dan berbisik-bisik.
”Ayo cari dan temukan segera siapa yang berani menukar nama jalan yang sudah kita pilih ini! Tangkap segera, agar kita tentukan hukuman apa yang pantas baginya,” kata salah seorang manusia maha benar dengan segala pertanyaan dan perintahnya.
”Ya, kalau perlu kita bakar saja bila ketemu! Telanjangi dan arak ke jalan! Biar tahu rasa dia: berani mengubah nama Jalan Tuhan. Memangnya dia Tuhan?” sahut yang lain pula sambil mengepalkan tangan ke langit.
Namun sampai turun tengah malam, mereka masih belum menemukan pelakunya. Bahkan seseorang yang bisa mereka jadikan kambing berwarna hitam untuk mereka minta pertanggungjawaban, pun belum juga ketemu. Putus asa pada usaha mereka sendiri, mereka berhenti mencari. Dengan perasan dongkol mereka ubah nama jalan itu kembali seperti semula.
”Jangan-jangan ini kerjaan hantu yang cemburu, sebab namanya tidak dijadikan nama jalan,” kata seorang wisatawan manca negara.
Mendengar lelucon itu, manusia-manusia maha benar dengan segala pertanyaan dan perintahnya tertawa terpingkal-pingkal. Namun keesokan harinya lagi, nama jalan itu kembali berubah menjadi Jalan Hantu. Mereka mulai khawatir, dan tak berani lagi mengubah nama jalan itu. Maka sejak itu, jalan tersebut berubah menjadi: Jalan Hantu.
Akasia, 2023
*Joko Pinurbo, ’’Jalan Tuhan’, dalam Buku Latihan Tidur (2016)
===
**ILHAM WAHYUDI. Lahir di Medan. Ia salah seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Fundraiser di Adhigana Fundraising.
Interesting*