14 Januari 2024
Puisi-Puisi Arham Taheer
Oleh Arham Taheer

Eksploitasi
tanah yang dikeruk meninggalkan
ceruk di dada. gerus sana-sini
menambah garis duka di antara goresan
logam yang menumpuk bermetrik ton.
ikan-ikan menjauh atau telah tiada.
nelayan hanya mampu menjala
kekosongan dan melarungkan
pertanyaan-pertanyaan.
tak ada yang ingin menjawab.
teriak di tengah terik,
tapi untuk apa?
tak ada interupsi.
sementara itu, di dalam tubuh,
amonia dan nitrat
bertaut dengan maut.
Konsesi
riuh di tambang adalah tembang
siang malam. pekik sambung-
menyambung. ular yang melilit.
tubuh-tubuh tumbang tak mampu
diselamatkan.
debu-debu memanjangkan kesedihan.
gebu tertimbun di kepala,
mengharapkan lengan dalam kepungan
asap.
anak kecil merentangkan tangan
pada hal-hal yang rentan mencederai.
raung ibu terperangkap di ruang
intimidasi.
cita-cita kita dikubur obsesi.
Ekspansi
tubuh-tubuh dilukai keinginan tajam
beberapa kepala.
selalu
seperti itu.
angka-angka tidak berhenti dijumlahkan
perkabungan tidak berhenti dirayakan
di tepi lubang tambang,
anak kecil mengeja
kata diversifikasi,
ayah menerjemahkan:
variasi luka untuk menambah duka.
Obsesi
pada pohon-pohon kering
kita sandarkan harapan.
rapuh.
hijau hutan, damai hujan
kita tulis sebagai kenangan
atau puisi paling pedih.
kita dilindas obsesi
dan terperangkap
di antara sulfur dioksida.
===
*Arham Taheer, lahir di Luwu, Sulawesi Selatan. Pernah menjadi salah satu Emerging Writers pada perhelatan Makassar International Writers Festival (MIWF) tahun 2017. Kini menetap di Mamuju Tengah, Sulawesi Barat.