27 Juli 2025
KAMAR ARWAH
Oleh Kartika Catur Pelita*

Kamar yang berhawa aneh. Dingin, bukan dingin seperti saat kau menggenggam es batu. Dingin, bukan sedingin saat kau berada di pegunungan. Dingin yang aneh dan ganjil. Meniupkan aroma gigil amis. Anyir. Getir.
Samar-samar mengalun deru ombak, arus gelombang. Lamat-lamat terdengar suara rintihan, kesakitan, ratapan, minta tolong. Kamar kosong, tapi berpenghuni….para arwah!
***
“Mengapa tidak nginap di homestay aja?” Ryan bersungut-sungut. Namun, apalah dayanya. Ia hanya siswa SMK kelas 11 yang magang di biro wisata ini. Ia harus manut pada si Bos Dhipa, pemuda yang usianya empat tahun lebih tua darinya.
Dhipa yang lulusan SMA dan memiliki biro wisata Eka Karimunjawa Adventure. Ryan pun bisa magang karena direkomendasikan Pak Ulin, guru yang teman baik Bos Dhipa.
“Sudahlah, Bro, manut saja. Apa bedanya nginap di homestay, hotel atau rumah Momon? Sama, meremin mata doang, “ nasihat Ucup, sesama teman di biro.
Si Ucup lebih senior dan kesayangan si bos. Si Ucup yang bertampang jenaka, dikarunia bakat menjilat dan mulut ember, khas emak-emak penggila sinetron.
“Tidur sama kok di atas kasur. Daripada bersungut-sungut, ayo aku antar ke rumah Momon. Eh, tidak ding. Aku kan tidur bareng bos. Kau tidur di rumah Momon. Besok aku jemput. Besok tugas kita masih menumpuk. Bangunin peserta, beli ikan, siapin peralatan snorkeling, bawain kamera, bawain tas,…. “
“Stop. Fuck you!” Ryan mengacungkan jari tengah, simbol sebal, marah, gemas dan capek. Pada Ucup yang berbakat jadi juru gibah. Pada bos Dhipa yang pilih kasih. Namun, sudahlah, ngapain dipikirin?
Ryan meraih ransel dan membonceng Momon. Tujuh menit kemudian sampai di rumah Momon. Rumah separuh tembok. Berpekarangan luas, berimbun pepohonan. Terlihat singup. Sesingup sosok Momon, yang jarang ngomong.
“Kamu tidur di kamar situ,“ Momon menunjukkan kamar belakang. Membukakan pintu. Suara engsel pintu berkeriut. Hawa dingin sekelebat meremangkan bulu kuduk Ryan.
“Aku ingin minum susu cokelat hangat. Apakah ada air panas, Mon?”
“Tak ada. Mengapa tidak beli di jalan tadi sih?!”
“Aku lupa. Sudahlah. Maaf, Mon… “
“Aku harus segera tidur. Ntar tengah malam harus nemenin bos Dhipa antre beli tiket kapal.”
Tak ada alasan bicara lama-lama dengan Momon. Ryan sudah merasa mengantuk dan lelah. Ini hari kedua ia diberi tugas sebagai asisten Tour Leader. Menemani wisata tur laut di Karimunjawa. Melayani keperluan wisatawan, memasangkan jaket pelampung, kaki katak, peralatan snorkeling. Menjaga barang-barang di perahu. Mengawasi wisatawan. Harus ramah dan tersenyum. Selama menjalankan tugas, Ryan tak pernah melepas jaket pelampung, karena ia tak bisa berenang.
Ryan memasuki kamar, melepas jaket, kaos, telanjang dada. Mengempaskan tubuh di kasur. Telentang. Memejamkan mata. Lena. Sekejap tertidur, ketika ia merasakan seonggok benda seberat batu menindih tubuhnya. Napasnya terasa sesak.
Ada apa ini? Ia berusaha bergerak, tapi tubuhnya terasa kaku, tak bisa bangun.
Ryan mencoba membuka mata. Oh, sepasang matanya seperti terselaput lem. Gelap. Pekat. Berat. Tak bisa menggerakkan tubuh. Tak bisa melihat apa-apa. Namun, aneh, ia bisa mendengar. Deru ombak pantai. Kecipak arus gelombang. Desir angin laut. Rintihan orang kesakitan, mengaduh. Ratapan. Pilu. Seram. Tangisan. Tawa cekikikan. Jeritan. Suara-suara dengus aneh. Nyeri. Ngeri, ngilu, meremangkan bulu kuduk.
Ryan memaksakan menggerakkan tubuh, meluruskan tangan, menjejakkan kaki, kaku, dirinya seperti terpaku di atas dipan kayu. Ia membaca doa-doa. Semampunya. Sebisanya. Berulang-ulang menyebut nama Allah.
Perlahan-lahan benda berat yang menindihnya terasa berkurang. Ryan mengatur napas. Seiring membuka mata. Dan ia berteriak….saat melihat seisi kamar dipenuhi mayat-mayat membusuk! Satu demi satu mayat yang anggota tubuhnya tak lagi utuh, bangkit mendekatinya. Amis, amis, anyir, bacin, menguar.
Ryan ketakutan, merapat ke dinding tembok merayap di lantai seperti siput, melewati sela-sela barisan mayat. Menuju pintu kamar. Menuju cahaya. Di mana pintu? Di mana jalan keluar dari kamar terkutuk ini?!
Oh, Ryan seperti memiliki kekuatan besar, ia nekat menerjang barikade mayat hidup yang mencegatnya di depan pintu. Mayat-mayat tercerai berai. Darah muncrat, tulang berserakan. Jeritan kesakitan. Melolong. Rintihan meminta tolong.
Oh, syukurlah, ia akhirnya bisa keluar dari kamar, menerobos barikade mayat hidup, menerjang pintu, dan terjerembap. Tubuh Ryan ngungsep di depan sosok tinggi besar. Momon. Mata Momon menyala garang, nyalang marah.
“Ngapain tengah malam teriak-teriak kayak orang gila?!”
“Ada hantu! Ada mayat hidup! Arwah gentayangan! Kamarmu angker, Mon! Kamar setan….”
“Oya?”
“Kamu harus percaya padaku, Mon! Aku tidak bohong! Aku melihat hantu! Aku melihat setan…!”
“Ya, benar. Mereka arwah orang-orang yang mati karena kecelakaan kapal tenggelam. Peristiwa tragis itu terjadi dua puluh tahun yang lalu.
Dulu arwah yang menghuni kamar itu hanya ayah-ibuku yang jadi korban kapal tenggelam itu. Kemudian seiring hari, arwah-arwah lain, korban kapal tenggelam, mereka berdatangan ke sini. Menghuni kamar itu. Ayah-ibuku orang ramah. Temannya banyak. Saat hidup ataupun setelah mati.”
“Apa maksudmu, Mon. Mengapa kau tidak takut rumahmu dihuni hantu?”
“Tenanglah. Mereka tidak mengganggumu. Mereka hanya mengajakmu berkenalan.”
“Mengapa aku bisa melihat…arwah?”
“Karena kau…lihatlah ke tubuhmu!”
Ryan terenyak. Mengapa ia telanjang. Apa karena saking takutnya hingga tali kolornya putus. Momon menyeringai, melemparkan kain putih, seperti sarung. Ryan trengginas menangkapnya, tapi sial, kain putih malah menimpa kepala dan menutupi mata. Ryan berteriak histeris saat menyadari benda itu ternyata kain kafan!
Kain kafan beraroma kemboja kuburan. Apa sih maksud Momon mengerjainya?
Ryan menjerit, keringat bercucuran, saat tiba-tiba lampu listrik mati. Padam. Ryan geragapan, merayap, menuju pintu. Sepertinya aku harus pergi daripada jadi santapan hantu penghuni rumah ini.
Dada Ryan berdetak-detak kencang, saat pintu kamar belakang tiba-tiba terbuka. Apakah Momon tengah memeriksa kamar itu? Bagaimana jika hantu-hantu di kamar itu keluar dan mengejarnya? Oh, Momon benar-benar gila.
Oh, esok hari lebih baik aku berhenti magang di biro wisata Bos Dhipa. Mungkin Momon tak suka melihat keberadaanku, batin Ryan. Sial pula, mengapa saking ketakutan, ia lupa membawa ponselnya keluar dari kamar? Oh….
“Mon, apa sebenarnya maksudmu? Mengapa mengerjaiku? Aku tak pernah menyakitimu. Aku dan kau tidak punya masalah. Aku….”
Byar! Lampu menyala. Greg. Suara motor berhenti di depan rumah. Pintu depan terbuka. Bos Dhipa dan Momon berdiri menjulang di hadapannya. Keduanya memandangi Ryan terheran-heran.
“Ada apa ini?” Bos Dhipa memicingkan mata.
“Ngapain tengah malam telanjang. Enggak takut masuk angin? Hahaha…,” Momon terbahak-bahak.
Ryan benci sekali kepada Momon. Ryan tergugu. Keringat bercucuran. Oh, siapa sebenarnya Momon yang tadi menemuiku dan berkisah tentang kamar arwah?
***
*) Kota Ukir, Juni 2025
==
*Kartika Catur Pelita, menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. tulisan dimuat di puluhan media cetak-daring. Bukunya yang terbit: Perjaka, Balada Orang-Orang Tercinta, Perempuan yang Ngidam Buah Nangka, Karimunjawa Love Story. Buku berjudul “Kembang Randu” memenangi juara 1 Sayembara Novela Basabasi 2023. Buku terbarunya jelang terbit: “Kunang-Kunang di Pelupuk Mata” Hyang Pustaka. Pegiat literasi dan founder Akademi Menulis Jepara (AMJ).