11 Juni 2023
KAMU DAN SEORANG SEPUPU
Oleh Emur Paembonan S*

Koek itik dan lenguh kerbau di bawah arahan pak tani berjerait dengan derum mobil yang memasuki pekarangan rumah berdinding kayu berlantai semen.
Kaleng-kaleng berkerompyangan menggoyangkan memedi sawah. Cicit burung-burung kecil terbang menjauh, beriring hembusan sepoi angin.
Seorang wanita paruh baya menyambutmu dengan senyum merekah, jabat tangan, sapaan selamat datang dan peluk lirih penuh bahagia. Saudara kandung ayahmu itu segera memerintahkan anak angkatnya memanjat pohon kelapa yang berjejer di dekatmu.
Sore yang teduh. Setelah masuk ke dalam rumah dengan oleh-oleh yang kamu bawa, kamu beranjak keluar bersama si tante, anak dan istrimu.
“Kakekmulah yang pertama membawa orang sekampung kita ke tempat ini,” ujar tantemu di antara hidangan air kelapa.
Berdua, kamu dan tantemu, duduk bersila di atas tanah leluhur berumput hijau, yang baru pertama kali kamu rasakan. Istrimu memilih duduk di sebuah resbang tua, sambil sesekali memotret dari kamera telepon selularnya. Sedang anak kandungmu mondar-mandir di sekitarmu, menikmati sejuknya desa.
Si anak angkat masih sibuk membelah beberapa butir kelapa dan mencampurnya dengan gula merah, hingga dia beranjak atas titahmu yang sudah tak tahan ingin mengepul asap.
“Jadi dari pematang ini,” kata tantemu, sembari menunjuk ke arah sekitar, “sampai di sana, sebelah kebun langsat. Itulah punya kita.”
Kamu mengarahkan pandang sesuai gerak jari telunjuk tantemu. Kamu perlahan mengangguk, sebagai tanda paham. Tak ada patok khusus seperti batok kayu, terlebih papan nama pemilik, yang sering kamu lihat di kota tempat tinggalmu.
“Sebelum kakekmu meninggal, dia sudah membagi tanah ini kepada kita semua, termasuk ayahmu. Tapi kami tidak sempat mengurus surat-suratnya. Saya yang putus sekolah ini tidak tahu caranya. Sedang ayahmu paling pertama merantau diantara kami saudara sekandung,” lanjut tantemu.
“Mengapa dia tidak mengurusnya?” tanyamu tentang seorang sepupu.
“Dia sibuk. Berkali-kali ke kantor pertanahan. Tapi katanya susah kalau tidak ada uang dan kenalan,” jawab tantemu.
“Ah! Dia memang sok jago. Padahal dia ‘kan sudah lama tinggal di sini. Mestinya dari dulu dia urus sertifikat tanah ini. Kalau tidak cepat-cepat, bisa-bisa orang lain yang ambil alih.”
Lantas kamu kisahkan tentang sebuah lahan di kota kediamanmu; tanpa dipeduli urusan hitam di atas putih oleh si empunya, yang akhirnya pindah milik.
“Tapi mereka tidak mempermasalahkannya. Mereka ‘kan sudah kaya.” Mendadak istrimu berucap.
“Tapi itu kan tetap tanah mereka,” timpalmu.
“Jadi?” tanya tantemu.
“Mereka tidak bisa melawan. Tanahnya tetap jadi milik orang lain,” jelasmu.
Si anak angkat datang membawa dua bungkus rokok pesananmu.
“Ambil kembaliannya,” katamu, saat si anak menyerahkan uang sisa.
“Terima kasih.” Anak kelas 3 SD itu melanjutkan membelah kelapa yang masih tersisa; tak lupa dengan sendok buatan dari batoknya.
“Kalau begitu serahkan saja sama saya. Jangan khawatir, pasti beres.” Rautmu berusaha meyakinkan.
***
Beberapa lembar uang bergambar proklamator Indonesia kamu serahkan ke tantemu, yang telah menjanda itu. Terima kasih berulang-ulang pun terucap untukmu, disertai harapan untuk keberuntungan dirimu.
Kamu segera pamit tatkala melihat seseorang bersepeda ontel menggandeng karung berisi jagung dan sayur-sayuran. Karyawan rendahan yang gajinya sering tersendat-sendat itu mesti mencari penghasilan sampingan lewat menjual hasil ladang—yang turut menjadi objek proyekmu berikutnya. Kalian saling menyapa dan berjabat tangan sebentar, seperti baru kenal sehari, sebelum kamu membuka pintu mobilmu.
***
Janji pada tante kamu tepati. Berbekal limpahan dana dan jaringan sana-sini, membuatmu cepat memperoleh sertifikat tanah warisan itu.
Sang istri yang mencintaimu, setelah tahu kamu punya kendaraan pribadi dan saldo tabunganmu yang aduhai, semakin menujahkan niatnya berkeliling dunia dan berpesta pora.
Namun semua itu ternyata tak semudah anganmu. Si karyawan rendahan menyambangimu. “Kamu ‘kan tahu, tanah itu sudah dibagi rata untuk empat orang. Tapi kenapa semua kamu ambil?”
“Mestinya kamu bersyukur. Saya sudah mau berusaha agar tanah itu mempunyai sertifikat,” tanggapmu.
“Ya, saya berterima kasih. Tapi bukan berarti saya tak bisa mengurusnya.” Dia bersikukuh agar kamu tetap membagi rata harta peninggalan. Tapi kamu tetap tidak mau menyerahkan sertifikat itu kecuali dia dan siapapun keluarga sanggup menggantinya dengan biaya yang kamu tahu tak mungkin bisa mereka penuhi.
Kamu telah bertekad untuk melego tanah lima hektar lebih itu ke seorang pengusaha besar. Bertahun-tahun kamu mengincar kesempatan itu. Namun si sepupu adalah pembendung utamamu; karena kamu tahu dia adalah seorang yang bijak.
Anak-anak kakek-nenekmu—dari garis silsilah ayahmu—yang jadi pewaris, kini tinggal si tante saja yang masih bernafas; yang Sekolah Dasar saja tak tamat. Dan dari garis keturunan sang pewaris, hanya kamu, sang tante dan si sepupu yang ingin agar tanah itu bersertifikat. Sedang sepupumu yang lain sudah tidak peduli. Mereka bahkan sudah tidak pernah lagi mudik.
Dia pulang memendam kecewa. Kamu gembira, merasa menang laksana tim yang sudah unggul di waktu tambahan sebuah pertandingan. Namun kamu tak menyangka hasrat hatinya.
***
Tiang beton berdiri separuh. Batu bata sebagian berceceran diantara gundukan papan berlapuk. Lembar-lembar seng terbengkalai. Tumpukan plafon semakin lembab menyandarkan nasibnya pada dinding tak berplester. Hujan semalam suntuk menyisakan genangannya di lantai tanah.
Bangunan itu masih menunggu perintah berikutnya. Para tukang mencari penghasilan lain. Tukang-tukang baru saja habis berduka. Pak mandor tewas ditabrak mobil; di suatu subuh yang sepi; oleh pelaku yang langsung kabur.
Sedang kamu, sang kepala proyek gedung yang mulai berlumut itu, sudah tinggal di alam kubur. Kamu meninggal di kamar hotel; tempatmu menginap di pinggir kota.
Si sepupu memanfaatkan gedung itu sebagai tempat penyimpanan hasil panennya. Kini, kesibukannya berkebun telah berkurang. Dia punya anak buah; kelompoknya dalam melakukan aksi pembunuhan.***
===
*Emur Paembonan S, lahir di Parepare, Sulawesi Selatan. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di beberapa media massa, seperti : Sinar Harapan, Fajar Makassar, Majalah Ekspresi, Analisa Medan, Jurnal Nasional, Suara Pembaruan dan beberapa media lainnya.