LiteraSIP

27 Agustus 2023

Puisi-Puisi Abdul Wachid B.S.

Oleh Abdul Wachid B.S

 

 

KABUT

kabut itu, bagimu, berarti pagi
kabut itu, bagiku, bermakna sepi
seorang lelaki menukar rumahnya dengan
makam kekasih yang

sesungguhnya tidak pernah mati
tersebab dia hidup abadi di dalam hati
sebuah taman di perbukitan
tempat kau aku memulai cerita

sore itu gerimis mempertegas gelisah
kau aku yang dipertemukan oleh basah
hujan, derasnya
membarakan birahi yang

kepayang, hingga tak hingga
lelaki itu lupa siapa dirinya
gadis paling perawan itu lena
gerimis di dalam dirinya mengubah sejarah

entah sudah berapa ribu pohon ditandai
entah telah berapa penanggalan ditetapkan
sampailah di suatu pagi yang paling perih
garisgaris tangan disuratkan

kabut itu, bagimu, berarti pagi
kabut itu, bagiku, bermakna sepi
engkau menukar rumah dengan
kepergian tanpa pamitan

 

KISAH LEBAH

ketika kekasih jalan di kebun mangga
aku mengikut langkah hidupnya

ketika sepasang lebah menyapa
kekasih mengerti arti sengat cinta

ketika lebah menunjukkan madu
kekasih bertanya di mana madu

ketika aku mencaricari madu
mengapa engkau seperti musa yang

selalu bertanya mengapa
racun bunga tak mamatikannya

ketika sepasang lebah menyelam
ke kedalaman salam

madu rindu
rindu madu

tetapi ketika sepasang lebah lena
menyebut satu nama

kekasih tak sampai tetes madu
tersebab racun itu membekukan aku

 

BAYANG-BAYANG

bayang-bayang itu berjalan di depanku
seperti tunjukkan arah kemana tuju

memang cahaya terasa remang
seperti mimpi yang
tidak mampu kau tafsiri

tapi bayang-bayang itu
bersetia menjaga arah

bayang-bayang itu
begitu ingin teriak
betapa ia amat berhasrat
tegak

satukan
bayang-bayang kau aku
ke dalam lagu

 

SANDEKALA

tidak ada cinta
tidak ada kata
tidak ada sayang
tidak ada bayibayi
tidak ada gelaktawa
tidak ada kepolosan
tidak ada ketulusan

di pasar orangorang berdzikir
fulus fulus fulus
di jalanan orangorang berdzikir
haus haus haus
di masjid orangorang berdzikir
ya qudus ya qudus ya qudus

di tepi jalan cinta telah lelah
dari perlambang bunga
di taman kota bungabunga
sudah habis sarimadunya
di balik rumahlebah madumadu
sembunyi dari panorama realita
di plesiran lakibini sulit dibedakan

kekasih
kemanakah lelah dilabuhkan
bila bukan engkaulah
alamat tamat

 

KUBACA BISA

menerkanerka cuaca
pada wajahmu yang
diam

merekareka makna
pada wajahmu yang
temaram

membukabuka ingatan
pada wajahmu yang
malam

tidak ada bintanggemintang
tidak ada rembulan
cahaya kemana tenggelam
di lautan hatimukah karam?

tidak ada angin
tidak ada hujan
tidak ada ingin
tidak ada hutan

tetapi iblis serupa ular itu
membuat liukan tanda tanya
cahaya di mana tidak tenggelam
di langit hatimukah salam

bisa kubaca
sinar meteor terjatuh
aku masih bersimpuh
kubaca bisa

 

===

*Abdul Wachid B.S., dilahirkan di Lamongan, Jawa Timur. Menjadi Guru Besar/Profesor Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, dan sempat jadi Ketua Senat (periode 2019-2023). Kumpulan Sajak Penyair Cinta (terbit 2022; mendapatkan Penghargaan sebagai Lima Buku Puisi Pilihan Hari Puisi Indonesia 26 Juli 2023).

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *