26 Mei 2024
Puisi-Puisi Anggi Putri
Oleh Anggi Putri*

MOZAIK DOA DI PERSIMPANGAN
jangan lagi sisipkan tanda tanya pada tawa
barangkali alinea napas tak bisa rangkai kata
meski angin masih hinggap di reranting masa
kita tak bisa lagi menimang jarak, seperti doa
yang dengan mudah tersampaikan pada semesta
barangkali kisah ini amsal distorsi tak terkendali
bersaing dengan musim-musim sepi,
beradu dalam klimaks dunia yang tak henti
mengejarku dan mengejarmu
bagimu kesunyian adalah musim dingin
menyisakan luka purbawi yang sulit mongering
sedang di kepalaku lebih banyak teka-teki
derap langkah samar yang tak pergi
amsal jalan licin yang tak bisa dilewati
setidaknya masih ada detak di dada,
yang tak sempat kau tepiskan
dalam perjalanan yang menyesatkan
: di persimpangan jalan
Surabaya, 31 Maret 2021
SUARA SUNYI
hari-hari yang ranum
dalam reranting waktu
desak bisik-bisik musim dalam relung
dada semesta. tinggal gemuruh rahasia
senantiasa jelma–“di sana!”
senantiasa berjaga menunggu
: menunggumu
Surabaya, 30 Maret 2021
KITA PUN SEBATAS PERNAH
setelah memanjat matahari, tersuruk
dalam lamunan lama yang terbang kemana-mana
meneguk secangkir kopi bukan lagi jawaban
atau sekadar kita menghilangkan batasan
yang dipaksa untuk dialihkan
meski jalan terasa berbeda,
tapi langit selalu memperlihatkan gumpalan awan
yang mengantarkanmu pada rumah
: kebebasan
sekali saja lihatlah jejak roda-roda kereta
tengoklah aspal yang basah karena hujan belum reda
ada sepatah doa yang terapal senantiasa
meski tangan tak lagi saling genggam
wicara pun kian tenggelam
dalam riuhnya perbincangan orang-orang
dadaku tak lagi kunjung berdebar
: kita pun sebatas pernah
Surabaya, 30 Maret 2021
SEBENTAR LAGI
sebentar lagi,
sunyi kembali menyeruak di sudut-sudut kota
jelma rahasia yang tak pernah dibuka
sedangkan sebagian sibuk dengan hidangan petang
yang hangat seperti pelukan di musim ambang
sebentar lagi,
lenyap alarm gendang di sepertiga malam
berganti kesadaran yang datang dari kesunyian
tak ada yang tahu, atmosfer baru amsal kelahiran
yang mengejutkan di dada kita
sebentar lagi,
Ramadhan singgah di hati
di tempat ini, di sudut paling sepi, di ruang-ruang waktu
yang berganti beberapa derajat dari kenangan lalu
Surabaya, 30 Maret 2021
ANALOGI KESUNYIAN
detak jarum jam seolah belati
menyayat jantung tembus petang hingga pagi
kekuatan seolah lesap ditelan ambisi
yang merayap diantara nyanyian
jerit malam teman hening terbenam
sembunyi dalam selimut temaram
air mata menganak sungai tanpa jawaban
hingga diksi puisi-puisi ini terikat dan jelma
lautan sepi di lubuk hati
sendiri bukanlah luka,
terkadang jadi benang merah yang harus dipintal
lalu ditenun menjadi frasa yang menguatkan jiwa
kita, hingga bisa berdiri, sendiri, tanpa henti
memeluk sunyi dalam ketiadaan yang tak pasti
2024
===
Anggi Putri, penyair kelahiran Jombang, Jawa Timur. Pencinta kopi, senja, dan buku yang kini menghabiskan waktunya sebagai Blogger dan Content Writer. Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jombang (Dekajo). Karyanya telah dimuat beberapa media cetak dan online.