LiteraSIP

2 Juni 2024

Bank 47

Oleh Tin Miswary*

 

 

Dari hari ke hari pengunjung Bank 46 terus berkurang. Bangunan yang berdiri di seberang rel kereta api itu memantul wajah lesu. Orang-orang yang datang untuk meminjam uang di sana tak lagi seramai dulu. Mereka sudah jengah dengan kedatangan petugas-petugas bank ke rumah mereka sebelum uang pinjaman itu berhasil mereka pegang. Petugas itu datang untuk mengecek kondisi rumah, jumlah kamar, keadaan WC, jumlah bantal, luas tanah, lapak jualan, dan juga bertanya ini itu pada keluarga mereka, membuat kabar tersiar begitu cepat, sementara kredit tak kunjung didapat.

Kelesuan bank tua itu bermula ketika Haji Alimin mendirikan bank baru di kampungnya, perkampungan urban yang tak begitu jauh rel kereta. Dia menamai usaha barunya itu dengan Bank 47. Oh, bukan, bukan. Dia sama sekali tak memberi nama dan hanya mengaku akan membantu orang-orang. Orang-oranglah yang kemudian menamai usaha Haji Alimin dengan Bank 47, sebagai pembeda dengan Bank 46 yang sudah berdiri puluhan tahun di kota itu.

“Di tempat saya semuanya akan dipermudah,” kata Haji Alimin pada acara peusijuek yang dihadiri ratusan orang. Saat itu para tamu dijamu dengan aneka makanan, membuat rumah Haji Alimin penuh sesak. Buruh angkut, sopir bus, kernet, abang becak, abang RBT, petugas kebersihan, harlan dan puluhan pedagang kaki lima berkumpul, menikmati hidangan dengan hati berbunga.

Dua pekan setelah peresmian, para pengunjung semakin ramai saja. Mereka datang untuk mengajukan pinjaman dengan berbagai dalih. Ada yang ingin membuka kios, ada yang membutuhkan mahar, ada yang ingin membayar SPP anaknya, ada yang kehabisan uang membeli beras, dan beragam kebutuhan lain. Di sana Haji Alimin akan menyambut mereka dengan ramah, seramah keluarga mempelai laki-laki miskin saat melamar seorang gadis kaya.

“Saya tidak butuh surat tanah atau BPKB motor, tapi cukup dengan menandatangani kuintansi saja,” kata Haji Alimin pada pengunjung yang datang.

Syarat demikian tentu sangat menggembirakan, apalagi bagi mereka yang selama ini tidak memiliki tanah sendiri. Yang lebih penting lagi, Haji Alimin juga tidak pernah mengunjungi rumah mereka untuk melakukan survei seperti dilakukan Bank 46. Bagi Haji Aliminin, selembar kuitansi bermaterai sudah cukup membuktikan kalau orang-orang itu memiliki utang padanya.

“Sebagai usaha komersial, tentunya saya juga mengejar keuntungan, tapi, ya, sekadarnya saja, untuk biaya operasional,” jawab Haji Alimin saat ada yang bertanya soal jasa yang harus mereka bayar. “Kamu pinjam sejuta selama lima bulan, nanti kamu bayarnya sejuta dua ratus, murah bukan?”

Mendengar penjelasan sekaligus pertanyaan Haji Alimin orang-orang itu mengangguk, apalagi mereka yang seumur hidup belum pernah berurusan dengan bank disebabkan banyaknya persyaratan yang harus dipenuhi.

“Untuk memudahkan kalian, setoran bulan pertama langsung saya potong 240 ribu. Nanti sisanya kalian cicil selama 4 bulan,” jelas laki-laki bertubuh tambun itu, setelah para peminjam meneken kuitansi sejumlah sejuta dua ratus. Dan apabila sampai tenggat waktu mereka belum bisa membayar, maka Haji Alimin tidak pernah menunjukkan raut wajah marah. Dia akan berkata begini, “Kalian tenang saja, pinjaman ini bisa kita perbarui lagi untuk lima bulan ke depan. Kalau sisa utang kalian sekarang 500 ribu, maka kalian tinggal bayar jasa 100 ribu lagi. Jadi totalnya 600 ribu. Untuk bulan pertama langsung kalian setor 100 ribu dulu, sisa 500 lagi kalian cicil selama lima bulan ke depan.”

Orang-orang terlihat takjub dengan penjelasan Haji Alimin, mantan karyawan Bank 46 yang dipecat setelah terlibat skandal kredit fiktif itu. Syukur, kabar itu hanya berseliweran di internal bank, tidak menyebar ke luar sehingga nama Haji Alimin di mata orang-orang tetaplah sebening embun pagi.

Hebatnya lagi, aktivitas Bank 47 besutan Haji Alimin tidak hanya melayani pinjam meminjam dalam bentuk uang, tapi juga barang. Ide ini muncul ketika ada beberapa orang yang meminjam beras kepada Haji Alimin. Mereka yang meminjam beras satu karung diwajibkan membayar satu karung setengah pada saat panen atau bisa juga dicicil selama beberapa bulan. Inovasi ini sangat membantu orang-orang kampung dan juga beberapa orang kota yang kesulitan mengutang beras di toko, apalagi harga beras sekarang kian mahal saja.

Pada tahun kedua membuka usahanya, Haji Alimin juga menemukan ide lainnya yang cukup cemerlang. Dia memperkenalkan transaksi ek reng yang kemudian menjadi sangat populer dan direplikasi oleh pengusaha-pengusaha lain di kota itu. Transaksi ini dikhususkan untuk orang-orang yang membutuhkan pinjaman besar seperti para kontraktor, pengusaha warung, caleg yang kekurangan modal atau pegawai honorer yang ingin memperpanjang SK, atau siapa pun yang butuh uang tiba-tiba.

Caranya begini. Katakanlah ada orang yang membutuhkan uang 10 juta, maka Haji Alimin akan mengutangkan satu sepeda motor dengan harga 15 juta kepada orang itu. Harga 15 juta tersebut harus dilunasi setelah 3 bulan. Karena butuh uang hari itu juga, lalu orang yang berutang itu akan menjual kembali sepeda motor tersebut kepada Haji Alimin dengan sistem kes seharga 10 juta. Maka Haji Alimin pun membayarkan harga motor sebanyak 10 juta dan tiga bulan kemudian orang tadi harus membayar utang sepeda motor kepada Haji Alimin sebanyak 15 juta. Sedikit rumit memang, tapi, ya, begitulah.

Demikianlah Haji Alimin mengajarkan orang-orang tentang bagaimana melakukan transaksi utang-piutang yang baik dan benar tanpa harus berhubungan dengan bank. Inilah sebab kenapa Bank 46 yang sudah berdiri puluhan tahun di kota itu perlahan-lahan menemui ajalnya, digantikan Bank 47 milik Haji Alimin yang dalam beberapa tahun terakhir semakin berkembang dan membuka cabang di mana-mana.

*

Usai membaca cerita yang kuajukan, Pak Jafar menyeringai. Dia mengangkat kertas berisi cerpen pertamaku itu hingga sejajar wajahnya, membentangkan kertas itu dengan posisi tangan tegak lurus, seperti orang yang hendak membaca puisi pada penampilan pertama. Aku yang duduk di kursi paling depan memandangnya dengan sayu, menebak-nebak apa yang akan dilakukannya setelah itu.

“Kamu tahu beda cerpen, esai dan laporan jurnalistik?” tanya guru Bahasa Indonesia itu, dia melirik ke arahku yang semakin gugup.

Aku bergeming.

“Apa cerita ini mengandung konflik?”

Aku diam.

“Kalau ada, coba tunjukkan!”

Aku bungkam.

“Kamu tahu, konflik adalah nyawa sebuah cerita?” Dia kembali menyeringai.

“Nyawa ayah dan ibuku hilang karena konflik, apa Bapak Tahu?” balasku tiba-tiba, dan lalu aku melihat kesunyian di mulut Pak Jafar.

 

Catatan:

Peusijuek: tepung tawar

RBT: akronim dari Rakyat Banting Tulang, istilah untuk ojek di Aceh.

Harlan: buruh terminal

Ek Reng: naik ring; berutang dengan harga mahal dan menjual kembali dengan harga murah untuk mendapatkan uang.

 

===

*Tin Miswary, menulis fiksi dan non fiksi di sejumlah media.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *