LiteraSIP

17 Agustus 2025

Puisi-Puisi Dali Daulay

Oleh Dali Daulay*

 

 

Afeksi Purba

Pekarangan
waktu. bangkai.
jalan terbuka—lebar
di bawahnya, terkubur
jejak-jejak dinosaurus.
mobil tua, dinamo yang
sekarat; mengarungi
gurun. sebuah tempat,
rongsokan dunia lama.

Begitu banyak yang
telah berubah, sayang,
kecuali caramu
memelukku: tangan
yang melilit erat bahuku
seperti titanoboa.
mesra dalam afeksi purba.

Begitu banyak yang
punah, sayang, kecuali
adegan selamat tinggal.
masih saja
sulit dilakukan.
indah, bukan?

Tanah yang kering
iri pada matamu yang basah.
kita lihat jalanan
mencetak jejak-jejak
dinosaurus. artinya
kesulitan mengucapkan
selamat tinggal—
tidak terbatas pada kita saja.

dunia menemukan kita
pada lubang itu—lantas
memisahkannya kembali
pada usia yang singkat
sekali

 

Lubang-Lubang Hitam

sayang, aku tak tahu apa lubang-lubang hitam yang selalu mengejarku itu. mula-mula, hanya lampu cantik di stasiun—tapi sedikit lengah, ia berubah menjadi puluhan lubang hitam yang memanggil sesuatu yang tak bisa dijinakkan dalam diriku.

sayang, kupikir lubang-lubang hitam itu tidak berbahaya. apa yang menakutkan dari kegelapan? bukankah lebih mengerikan segala sesuatu yang terlihat di bawah cahaya—hidupku—yang membuat merah tampak begitu merah di atas lantai putih? dalam kegelapan, tak ada yang bisa dilihat; yang ada hanya hitam dan tiada selain hitam, paling hitam. kita hanya akan menduga-duga saja, tidak perlu menghadapinya.

sayang, aku kira lubang-lubang hitam itu hanyalah sebuah tembusan seperti terowongan, menghubungkanku dari satu tempat ke tempat lain, meski harus melewati gelap tiada ampun. bukankah ujungnya bisa jadi tempat yang hanya ada di mimpimu? tapi kau larang aku masuk ke dalam lubang-lubang itu. namun hidup kini lebih gelap daripada yang paling gelap. mulai tidak ada pilihan untuk hidup, sayang. dan perlahan, perlahan, kita sadar lubang-lubang hitam itu beraroma seperti ruang kelahiran kita.

akhirnya, kita masuk juga.

 

Puisi  Kadang-kadang Tidak Seperti Api 

Kadang-kadang / kehidupan tidak bisa diolah jadi puisi / ada saatnya ia adalah bahan yang terlalu mentah / yang tidak cukup dibakar dengan api / atau dibumbui dengan garam dan lada / seonggok daging berwujud absurd / seperti kelinci tapi tidak juga / jika dimakan/ kelak hanya akan kenyang oleh semua protein palsu / kadang – kadang / kita tidak bisa lagi / meletakkan jari-jemari / di atas puisi / ini bukan permainan dengan api / puisi tidak hanya akan membakar kulitmu / oh / tidak / terlalu banyak yang dipertaruhkan / maksudku / pernahkah kau / menulis atau membaca / sebuah puisi / dan merasa / lebih puas menghancurkan / daripada menciptakan? / semua tampak merenggang / aku bukan manusia / tetapi penyair / yang mengaku merasa / tetapi apakah iya? / jendela terbuka / aku berdiri / di balkon / sepi sekali di atas sini / sepasang puisi mengepakkan sayapnya / tertahan di tanganku / baiklah / kukembalikan ke udara.

 

Ruang Tunggu

Rumah sakit
kata ibuku dulu,
tempat kerja tuhan
selain rumah ibadah
sebab di rumah sakit,
tuhan mengatur mukjizat
24 jam

Aku tidak tahu kabarmu
di balik pintu. yang pulas
sebab bius itu. aku sendiri
membius diriku dengan doa
namun efeknya sudah mau habis

Pukul setengah 3 pagi
TV yang menampilkan series
detektif 80-an.
pembunuhnya adalah
salah satu dari kita
di ruang tunggu ini

Seorang ibu
tanpa anak. seorang
nenek tanpa kakek
seorang aku tanpa
kamu.

Lorong yang pucat
berbau obat dan berpola duka
aku mengangkat panggilan dari
getaran buruk—orang-orang
tanpa ketenangan.
dan close up ketika
pembunuh terungkap

Pintu terbuka!
dari dalam, aku lihat
seorang dokter terbang
seperti merpati,
pembawa kabar
sayapnya berkibar
pelan. putih. putih.
mendarat di depanku
seperti harapan?
tidak. lebih seperti
keputusasaan

Aku rasa tuhan
menunggu di dalam.

 

Mulut Surga

Itu waktu petang. Linda menemani bapaknya
duduk di pantai.

“apa nama pantai ini, linda?”
“mulut surga.”
“ngasal, emangnya di surga kayak gini?”
“aku nggak tau, pak. para nelayan menyebutnya gitu.”
“ini juga bukan air susu. dan pasirnya kasar.”
“mungkin nggak ada salahnya membayangkan tempat ini sebagai surga.”
“biar apa?”
“biar rasanya nggak sia-sia.”
“bapak rasa tempat ini jauh sekali dari surga.”

Linda melihat bapaknya mengubur kakinya ke dalam pasir. lidah ombak menyapa. petang itu, segalanya tampak hangat. lautan yang luas terhampar seperti tangan terbuka, indah. laut mengenakan sinar matahari yang keemasan sebagai baju. dan pada kali itu saja, bapaknya tidak tampil monokromatik.

“kamu masak apa untuk anak-anak?”
“nasi goreng. pake ayam sebesar burung camar.”
“telurnya?”
“ceplok. kuningnya matang sempurna.”
“bagus, linda. hmmm, bapak nggak usah disisakan.”
“emang nggak bakal ada sisa, aku nggak ngitung bapak.”

Linda melihat bapaknya lari ke arah cakrawala dengan laju kabur. Yang tersisa darinya hanya jejak kaki besarnya di pasir kasar nan putih itu. Aroma pantai asin, membacin seperti kaus kaki basah.

Linda menutup matanya. Satu-satunya yang tidak meninggalkannya adalah kegelapan yang menyanyikannya lagu tidur. Dalam mimpinya, ada tangan yang ingin menariknya. Tangan yang terbuat dari air, basah dan berlendir. Tapi tangan itu keburu mencair, dan kembali ke laut, tempat asalnya. Linda membuka mata dan menemukan kakinya basah.

 

===

*Dali Daulay, lahir di Medan, 28 Juli 2001. Lulus dari Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta. Pernah bekerja sebagai penulis untuk Malaka Project dan kini mengulang film untuk Apa-Apa Tentang Film.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *