LiteraSIP

13 Agustus 2023

Puisi-Puisi Gusti Fahriansyah

Oleh Gusti Fahriansyah*

 

 

Kenangan Telah Menua

:Kurt Cobain

Gitar itu kau pangku di paha kiri
Lagu kerap dicipta dan dinyanyikan
Di taman dekat rumah, di Aberdeen.
Barangkali, jika masih terhidu mekar hari
Kau usap patung wajah itu di taman
Lalu mengunjungi bibi dan melantunkan “Hey Jude”
Seperti ia mengenalkanmu pada The Beatles

Kau juga cium kotak berlapis sutra dan renda
Seperti aroma heroin di tengah jegal kota
Yang kita lihat makin liang nan hitam

Ya, kota dimabukkan oleh kesenangan
Dan rasa sakit, disakiti oleh jiwa sendiri
Mencari waktu yang merupakan peluru bising
Seperti teriakan:
Perasaan yang tak henti membujuk mati

Kau terus bergitar dalam ingatan
Tampak muda dan bertenaga
Di kepalaku, di Februari berusia 55 tahun kenangan
Mengantarku pada cinta sebuah kehidupan
Yang membutuhkan tembakan
Seperti tekat serta tulus di April itu.

20 Februari 2023

 

Nada Animo

:Iwan Fals

Beberapa putaran lagi beker berisyarat
Petikan gitarmu masih menembus jalanan
– tawaan tongkrongan adalah kata-kata
dan nada tak biasa

Mungkin, caramu memetik senar
Seperti mencubit bokong orba
Serta kawanannya yang berlagak perawan
Setelah merapikan buku kampus di gudang
Dan meratap arakan awan.

Kau menenteng gitar, kemanapun pergi
Pramugari itu pasti ingat betul
Lagu ‘Blowing In The Wind’ yang pecah
Terbang bersama burung-burung
Sampai pendaratan menemukan muasal nama
Tentu, Galang 1 Januari tak bisa dibendung
Namun lagu itu menembus gedung
Dengan suara yang masih tampak muda
Di ruas-ruas jalanan

Ya, menjadi terdengar tak hanya sebatas suara
Jalan yang berwajah seribu
Mesti ditempuh tabah
Layaknya ibu pada anaknya

03 September 2022

 

Kita Adalah Rumput

:Ebiet G Ade

Kau masih bernyanyi
Tentang rumput yang mengacung ke langit
Menari bersama angin lalu menerima kekeringan?
Rumput selalu diam
Angin datang serupa pengirim surat
Membawa deret pesan yang selalu ditunggu

Dari bibirmu, kata-kata meruncing layaknya gerimis
Memberi kabar kicau burung, tabah sungai
Auman si rimba, dan sepasang pelukan
Yang telah lama mengisi baris doa

Kau terus bernyanyi, mengenalkan musim
Dan aku mendengarnya
“Ada orang terpinggirkan dan lapar,
ada cangkulan rindu pada ayah di ladang,
ada pasar yang bertengkar dengan pedagang”

Aku telah mendengarnya darimu, lewat ibu
Di balkon sambil menghirup sisa angin
Sambil menghitung bangunan pertanyaan
Dan silih selisih kejadian

“Kita sekadar pelambai di ujung jalan
usai mengejar matahari yang berlari ke barat,
seperti rumput”
Katamu kemudian menunjuk baris batu
Yang terpasak huruf-huruf:
Hampir menjadi nama.

21 April 2023

 

Kita Akan Terus Manggung

:Chester Bennington

Siapa berani memerangi muasal darah
Serta teriakan di kepala
Yang membikin bulu terjaga malam sunyi?

Kita dibentuk untuk menjadi sosok ayah
Tapi kota semacam gelanggang
Memilih orang setara sebagai pemenang
Dan menafikan yang berparas parak

Mungkin kota ini seperti musikmu
Selalu berani memakai alat canggih
Tapi lagu-lagu dan puisi menjadi museum
Memajang deretan sejarah darah

Kita akan terus manggung, lalu berteriak
Dihadapan ribuan orang lain
Yang selalu ria mendengar nyanyian kita
Tentang waktu dan gerak dinginya.

Seperti lagu itu, atau puisi ini
Hanya teriakan menghardik masa buta
Serta kata-kata yang memasang niat
untuk pagi esok lebih hangat.

20 Maret 2023

 

Adakah Kesan Lain Melebihi Usia
yang Diratapi dari Ujung Senja

:Robert Plant

Sebelum membuka kado dari sinterklas
Yang berisi peta penuh jalan bercabang
Di balik tirai itu, kau menepis gigil natal
Yang berusaha merebut Elvis Presley dari keningmu

Tiap hari, kaki itu melangkah ke barat
Menyapa nama serta mengenal ribuan wajah
Yang kelak berteteran seperti bekas hujan

Layaknya para Viking di bentang laut
Menghadang perang besar di depan jiwa
Kau lampiaskan pada sebuah teriakan
Melawan nasib

Sebab, bagimu kehidupan berupa tempo
Yang tak ingin kehilangan keseimbangan
Di atas nada-nada pelik atau
Terjatuh dari panggung

Sedang ketetapan dicipta oleh sang Maestro
Lirik dan musik jadi satu bilik
Dari lagu-lagu yang kelak didengar para cucu
Sebagai pengantar tidur

Di barat, saat bertengger itu senja
Kau mengabarkan agar orang menoleh ke timur
Ke jalan penuh teteran lagu dengan nama-nama
Yang bakal lelap di atas hangat ranjang rumah
Sambil dengar teriakan dalam putaran piring hitam.

20 Agustus 2022

 

==

Gusti Fahriansyah, pemuda asal Sumenep yang bergiat belajar menulis di Kelas Puisi Bekasi (KPB), Tarebhung Cangka. Karyanya terpublikasi di beberapa media cetak/online. Buku kumpulan puisi “Mata Kronik” (Hyang Pustaka, 2023).

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *