LiteraSIP

7 Mei 2023

Puisi-Puisi M. Rifdal Ais Annafis

Oleh : M. Rifdal Ais Annafis*

 

 

scane film ketiga dari hantu marni

malam itu, dua bocah berlarian menuju kuburan
tiga keranda terbang dan melayang sebelum hinggap
di batang pohon akasia yang daunnya menjuntai ke
rendah tanah, “di sana sepertinya” katamu

jalan setapak itu, tak beraspal, sehingga demi selesai
mengukur ketakutan dua bocah itu pelan berjalan

ini legi kedua tahun ini dan hari kelima marni pergi
keranda dari besi sisa konstruksi gedung empat lantai
itu terbang lagi dan kali ini bergerak seperti mengeluarkan
tujuh jurus pendengaran, “kau ingat sesuatu?” tanyamu

sebagian pencahayaan memeluk dua bocah itu dengan
sedikit kekhawatiran, betapa masa depan terakhir berarti
dua doa kecil yang lesap ke perigi takdir, bahwa satu-satunya
hari esok adalah petaka yang mahir menyayat telinga

“mulanya pergilah seperti isa” teriakmu seperti ngengat
menemukan betina kedua, dan dua bocah itu memejam
tepat saat marni, hantu melayang itu, menaiki keranda
dengan perasaan lugas: ini kendaraan menuju langit,
tapi hari esok, waktu ketika fajar tiba, ia kembali suasa

“apa yang kau lakukan?” tanyaku akhirnya, berkat itu
dua bocah pergi ke sutradara menanyakan hal buruk dari

sepasang dunia

 

Pintu

jam yang lambat itu tiba
di pergelangan tangan mereka
dan kau memastikan tiga hari
menuju maut tidak ada yang
tumbuh melebihi kesedihan yang
telah aku perah untukmu

 

sepasang sungai seperti unggas di telingamu

sepasang sungai seperti unggas itu diam-diam melahap
kelokan di telingamu, tetapi kau diam dengan hati janggal

rupanya suara-suara dari dua bocah yang sering mengata-ngatai
kelaminmu ikut terseret ke hulu dan rupanya daging telingamu

semakin tebal sehingga suara-suara menjadi semakin kedap
dan bibirmu buru-buru mengatup mencari kalimat bagus

agar namamu tetap diucapkan dengan nada pelan oleh orang
-orang yang kau kenal dari instagram atau media sosial

dan kamu menelusup ke puisi-puisi atau keranda kata yang
mereka pikirkan sebagai kekasih kedua sebelum ajal tiba

meski sebentar, kau berpikir unggas adalah hewan omnivore
yang siap melahap apapun sebagai pakan, dan kau lahir kembali

menjelma kesedihan-kesedihan

Yogyakarta, 2023

 

===

*M. Rifdal Ais Annafis, Lahir di Sumenep. Pemangku adat literasi di (LSKY) Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta serta PPM. Hayim Asy’ari. Buku kumpulan puisinya, Artefak Kota-kota di Kepala (2021) dulunya aktif di Ponpes Annuqayah. Tulisannya terpublikasi di pelbagai media serta memenangi beberapa sayembara sastra seperti Payakumbuh Poetry Festival 2021.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *