LiteraSIP

15 Oktober 2023

Rambut Tutup Botol

Oleh Liza Erfiana*

 

 

Marina menggiring si kulit bundar itu dengan lincah. Rambut pendeknya bergoyang-goyang saat berlari. Tidak lama kemudian, Marina menendangnya dengan kencang. Dug! Bola itu mengenai pohon rambutan.

“Goalllllllll!” Terdengar lebih dari satu anak laki-laki memekik. Marina mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tampak Lono dan ketiga temannya sedang tersenyum seraya mengacungkan jempol kepadanya.

“Hebat! Gawangnya pohon rambutan, tuh! Kasih tepuk tangan, dong!” Sontak teman yang lain bertepuk tangan mendengar arahan Lono.

Marina langsung melotot. Berani-beraninya, si hitam manis yang menjadi incaran teman-teman di sekolah meremehkan dirinya.

“Lonoooo!” jeritnya mendekati ketiga remaja berumur lima belas tahunan itu. Tak ayal lagi, semua berlari menyelamatkan diri. Marina mendengus kesal. Lono dan teman-temannya berlari kencang sekali.

“Lono, kenapa kamu senang meledekku, sih?” keluh Marina sendiri.

Padahal waktu SD mereka berteman akrab. Marina tidak risih berteman dengan Lono. Terkadang memanjat pohon, main kelereng, atau sepak bola.

Lono sangat baik kepadanya. Apa mungkin karena dirinya perempuan? Jadi, Lono melindunginya. Meskipun sebenarnya, Marina lebih galak dari pada Lono.

Pernah suatu ketika, mereka dipalak oleh dua orang anak SMP. Tapi dengan berani, Marina menantangnya. Marina memasang kuda-kuda, kedua anak itu pun berlari ketakutan. Lono jadi tersipu-sipu malu. Seharusnya dia yang melindungi Marina bukan sebaliknya.

###

“Marina!” panggilan Mama membuyarkan lamunannya. Marina bergegas masuk. Jangan sampai Mama memanggilnya dua kali. Maklum, suara mamanya bisa melengking tinggi seperti penyanyi rock yang lagi konser.

“Cuci tangan dulu!” ujar Mama saat Marina mau mengambil  donut di meja makan.

“Siap, Ma!” ledek Marina.

Setelah cuci tangan dan mengambil dua potong donut kesukaannya, gadis bermata indah itu menemui mama dan Kak Dita di ruang tengah. Huh, jangan bahas rambut lagi, deh! Ucapnya dalam hati. Soalnya beberapa hari ini kedua perempuan anggun itu selalu membahas model rambutnya.

“Enam bulan lagi Tante Dian akan menikah. Jadi rambutmu harus dipanjangin supaya bisa disanggul. Soalnya, semua keponakan Tante Dian akan jadi pagar ayu, termasuk kamu,” ucapan Mama tempo hari.

Marina duduk dengan malas. Apalagi saat melihat tumpukan majalah wanita di atas meja. Dia menarik bibirnya ke samping. Marina tahu isinya. Pasti perempuan cantik nan feminim. Rambutnya panjang terurai.

“Marina, sepertinya rambut model begini sangat cocok untukmu. Sesuai dengan wajahmu yang oval. Mama yakin, kamu pasti tambah cantik,” ucap mama seraya menunjuk menunjuk model cantik yang ada di majalah.

“Ih, Mama. Kayak gini saja sudah cantik. Rambut panjang ribet, Ma. Boros!”

“Boros gimana?” Kak Dita langsung ngegas.

“Lah, buktinya Kakak. Sering terlambat sekolah karena ngurusin rambut. Belum lagi keramas, seminggu bisa habis sampo sebotol!”

“Tapi, bagus, kan?” Kak Dita memamerkan rambut hitam lebatnya ke arah Marina.

“Preet!” Marina terlihat kesal.

“Gini, deh. Kakak kasih uang dua ratus ribu asal kamu panjangin rambut,” Kak Dita terlihat serius sekali. Marina langsung mencebikkan bibirnya.

“Tiga ratus ribu!” Mama langsung menambahi. Marina tertawa sangat puas. Setelah itu dirinya menggeleng.

“Maaf, Ma! Kak Dita! Untuk saat ini Marina belum tertarik. Marina lebih nyaman begini. Rambut tutup botol lebih fresh dan ringan.

Mama dan Kak Dita saling pandang. Rupanya tawaran mereka ditolak mentah-mentah. Keduanya mengangkat bahu lalu pergi ke dapur.

Dulu, Marina tidak mau memotong rambutnya. Karena kutuan, Mama terus memaksanya. Alhasil semenjak potong rambut, dirinya terbebas dari kutu. Sayangnya, Marina tidak mau lagi memanjangkan rambutnya. Ia sudah terlanjur nyaman. Jadilah rambutnya sekarang hanya sebatas kuping. Kak Dita menamainya rambut model tutup botol.

Keesokan pagi, Marina bergegas menuju kelasnya. Hari ini, dia bangun kesiangan. Untung bel masuk belum berbunyi. Saat berjalan di koridor sekolah, Marina berpapasan dengan banyak anak laki-laki.

“Hei, Marina si Tutup Botol!” Marina mendengar namanya dipanggil.

Marina hapal suara itu. Ingin rasanya  marah tapi malu karena banyak yang melihat. Saat mengedarkan pandangan, semuanya terlihat sibuk. Ia tidak melihat pemilik suara itu. Anak laki-laki yang lain, ada yang membetulkan tali sepatu, membaca buku, atau bersenda gurau sesama mereka.

Marina kemudian mempercepat langkahnya. Meskipun hati masih panas, Marina tidak mau berurusan dengan pemilik suara itu. Nanti malah disorakin ramai-ramai.

Namun, beberapa jam kemudian, hati Marina yang panas bagaikan tersiram es. Dingin dan menyegarkan. Saat jam istirahat, tidak sengaja ia mendengarkan suatu percakapan. Persisnya di samping kelas mereka.

“Marina cantik. Kulitnya putih bersih. Sayangnya, jutek,” ungkap satu suara.

“Kamu naksir, ya?” timpal suara lainnya.

“Kok tahu, sih? Tepatnya sudah lama. Tapi… aku ingin rambutnya pan…”

“Panjang maksudnya,” balas suara yang lain.

“Aku nggak mau dia dipanggil rambut tutup botol,” ungkapnya dengan sedih.

“Bukannya kamu yang sering memangilnya dengan tutup botol. Kami mana berani dengannya. Takut kena tendang. Marina, kan jago silat,” beber teman yang lain.

“L…!” Marina menutup mulutnya rapat-rapat. Hampir saja dirinya berteriak. Perlahan, jemari lentik itu mengusap rambutnya yang pendek. Dan, Marina pun tersenyum. “Lono!” ucapnya dengan hati berbunga-bunga.

Pulang sekolah, Marina langsung menemui Kak Dita dan mama. “Kak Dita jangan bohong. Mama juga, ya. Mulai hari ini aku akan manjangin rambutku.” Marina berjanji sembari mengangkat telunjuk dan jari tengahnya hingga membentuk hurup V.

Mama dan Kak Dita terkejut. Tidak lama kemudian mereka saling pandang.
“Angin apa yang membuatmu berubah pikiran?” tanya Kak Dita penasaran.

“Ada, deh! Pokoknya nggak usah kepo!” Marina tersenyum penuh misteri. Tentu saja Kak Dita semakin penasaran. (*)

 

===

*Liza Erfiana sudah menulis lebih dari tujuh puluh buku anak. Buku-bukunya diterbitkan oleh penerbit mayor seperti Tiga Ananda, Bhuana Ilmu Populer, Laksana Kidz, Cikal Aksara, Duta, Kanak, Ihsan Komik, Zain, Pelita Andalas dll. Cerita-ceritanya juga pernah dimuat di majalah Bobo, Soca, Adzkia, dan koran Lampung. Menjadi salah satu penulis dalam Gerakan Literasi Nasional tahun 2019 dan 2021. Menjadi pemenang dalam Lomba Kisah Bumi yang diadakan oleh Sayur Kendal pada tahun 2021.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *