LiteraSIP

17 Maret 2024

RT Burhan

Oleh : Eli Rusli

 

 

Sebelum adan subuh menghiasi langit di sekeliling rumahnya, RT Burhan sudah siap dengan sarung kotak-kotak menutupi auratnya. Ujung baju kokonya menyembunyikan gulungan kain sarung yang menggelembung di atas pusarnya. Sebuah sajadah hijau berselonjor di pundak kirinya.

Suara azan berkumandang dari corong mesjid. RT Burhan bergegas menuju pintu dan memutar pelan-pelan kuncinya.

Sebelum tangan kanannya mendorong pagar, RT Burhan memungut kertas kecil yang tergeletak di atas lantai depan rumahnya. Azan subuh saling berbalas dari corong mesjid saat RT Burhan meneliti kertas kecil yang ternyata gambar tempel. Gambarnya wajah seorang perempuan berkerudung biru berikut nama, logo partai, serta nomor urut dan dapilnya. Perasaan baru kemarin diumumkan daftar caleg sementara di koran-koran. Mengapa sudah ada yang menjual diri dari sekarang? Begitu bisik hati RT Burhan sambil membuang kertas di tangannya ke tempat sampah.

Pulang dari mesjid, RT Burhan berdiri sejenak di depan gapura yang menuju rumahnya. Matanya meneliti dengan seksama gambar perempuan yang tersenyum sambil kedua tangannya seolah-olah minta maaf. Wajahnya sama dengan gambar tempel yang tadi ditemukannya di depan rumah. Namanya Rahayu, Partai Burung Tak Bersayap, mohon doa restu akan mencalonkan diri menjadi anggota DPRD Kota Bandung. Balihonya memanjang menutupi bentangan kain merah putih yang dipasang guna menyambut hari kemerdekaan kemarin. RT Burhan geleng-geleng kepala. Mengapa tidak ada ijin kepadanya sebagai ketua RT 3? Apalagi wajah yang terpampang bukan warganya. Saat pergi ke mesjid baliho ini tidak terlihat sebab RT Burhan berjalan membelakangi gapura.

Sebelum jam tujuh pagi, sambil menonton televisi, RT Burhan membuka WhatsApp. Di grup WA RT 3 terlihat puluhan pesan dari warganya.

“Maaf Pak RT! Di gapura ada yang masang baliho! Sudah ijin belum sama Pak RT?”

“Betul! Di tembok rumah saya juga ada yang nempel stiker. Jadi kelihatan kotor.”

“Bagaimana, Te? Di setiap mulut gang RT kita juga ada bendera Partai Burung Tak Bersayap?”

“Iya. Saya juga sudah melihat gapura yang ke arah rumah sudah ditutupi baliho caleg. Saya tidak tahu siapa yang masang. Nanti saya kabarkan ke grup RW supaya jadi perhatian RW dan RT yang lain.”

“Bagaimana sekarang, Te? Turunkan saja?”

“Iya Te. Lebih baik turunkan saja sekarang. Merusak pemandangan di lingkungan kita saja.”

Bah Yaya sesepuh RT 3 bersuara.

“Tenang Bah! Jangan gerasa-gerusu! Takut nanti kita yang salah. Saya tanyain dulu ke RW.”

RT Burhan menanggapi.

“Jika melihat fotonya seperti Bu Ayu RT 08.”

“Iya. Bu Ayu. Yang kalau permisi saja tidak pernah dijawab. Masa orang kaya gini mau nyaleg?”

Begitu percakapan di grup WA RT 3 pagi itu.

Beberapa detik kemudian, RT Burhan mengetik di grup WA RW.

“Maaf Pa RW & ketua RT sekalian. Sekarang kita akan menghadapi pemilu 2024. Di sekitar RT saya sudah ada yang memasang alat peraga kampanye. Beberapa orang warga mengeluh tidak terima. Apalagi yang tembok rumahnya ditempelin gambar caleg. Saya harus bagaimana sebab tidak ada ijin ke RT?”

“Kalau ga ada ijin! Tertibkan saja! Mengganggu keindahan lingkungan.”

Pak Arie, ketua RT 1 berkomentar.

“Setuju Pak RT. Mau pasang spanduk mah di kamar sendiri saja.”

Agus Murod, ketua RT 2 ikut berkomentar dan diakhiri emot tertawa. Setelah itu tidak ada lagi yang bersuara baik dari RW atau RT yang lain.

Setelah salat duhur, sambil istirahat RT Burhan kembali membuka telepon genggamnya. Di grup WA RW terlihat Pak Tisna, ketua RW yang baru dilantik enam bulan yang lalu menulis.

“Terima kasih RT Burhan. Perihal keberatan bapak sudah saya sampaikan ke orangnya.”

“Bagi saya tidak apa-apa kalau yang di gapura. Itu bisa dibicarakan dengan pengurus RT. Bagaimana kalau yang rumahnya ditempeli stiker?”

“Kalau yang itu. Mari kita silaturahmi saja dengan warga bapak yang keberatan!”

Yadi, kepala keamanan RW tiba-tiba ikut berkomentar.

Mengapa jadi begini? Maksud saya. Bagaimana kebijakan RW seandainya di lingkungannya banyak yang memasang alat peraga kampanye? Bukan untuk di RT 3 saja. Mengapa ketua RT yang lain pada tutup mulut? Dan mengapa kepala keamanan ngomongnya seperti itu? Saya ini mewakili warga. Seandainya kepala keamanan mendatangi warga? Bukankah itu termasuk intimidasi? Apalagi sekarang belum masa kampanye. Begitu menurut pendapat RT Burhan.

Bada solat isya RT Burhan kedatangan tamu.

“Eh. Teh Nyai! Silakan masuk!”

Teh Nyai, tetangga RT Burhan masuk bersama seorang perempuan berkerudung hijau dan tiga orang lelaki yang tidak dikenal.

“Kenalkan, Pak RT! Ini Ibu Ayu yang mau nyaleg tahun ini!”

RT Burhan tersenyum sambil mengangguk.

“Maaf, Pak RT!”

Tiba-tiba perempuan itu memotong pembicaraan Teh Nyai. “Mengapa masalah pemasangan baliho saya dibawa-bawa ke grup RW?”

“Sebentar, Bu! Ibu kan yang mau nya …”

“Iya, saya. Saya dan tim saya memang salah memasang baliho tanpa ijin ke Pak RT. Tapi mengapa harus disampaikan di grup RW? Bikin malu saja. Kan Pak RT bisa menemui saya langsung.”

“Maaf, Bu! Maksud saya bukan seperti itu. Saya hanya berbagi seandainya ada masalah yang sama di RT lain. Tidak ada maksud menjelek-jelekkan ibu.”

“Iya. Tapi caranya bukan seperti itu. Itu sama saja menjatuhkan harga diri saya. Nanti saya dibilang tidak punya etika sama warga.” Ibu Ayu tidak menerima alasan RT Burhan.

“Bu Ayu betul, Pak! Lagi pula seandainya Pak RT butuh uang tinggal bilang saja kepada kami.”

Lelaki yang memakai baju kotak-kotak ikut bicara.

“Seandainya langkah saya salah, saya mohon maaf. Masalah baliho, bendera partai, dan stiker nanti saya bicarakan lagi dengan warga.”

RT Burhan mengalah. Dia tidak mau debat kusir dengan tamunya. RT Burhan ingin segera istirahat setelah seharian bekerja.

“Awas! Jangan sampai baliho dan bendera kami diturunkan!”

Lelaki berbaju merah yang sedari tadi diam saja menebar ancaman.

Besoknya ada kabar jika rumah Agus Murod ada yang menyatroni. Katanya gara-gara komentarnya di grup RW. Padahal semua orang mengetahui kalau ketua RT 2 itu tukang bercanda. RT Burhan teringat tujuh bulan lalu saat dikalahkan Pak Tisna dalam pemilihan ketua RW. Dulu RT Burhan calon kuat menjadi RW karena paling populer di mata warga. Sedangkan Pak Tisna menjadi pengurus RT saja tidak pernah tetapi bisa menang. Ternyata sebagian pengurus RT, kepala keamanan, dan sebagian warga disogok dengan uang dari Bu Ayu yang nyaleg tahun sekarang. Dan Bu Ayu itu tiada lain adalah kakak ipar Pak Tisna, ketua RW sekarang. (*)

 

===

*Eli Rusli. Penulis alumnus UPI Bandung. Menulis cerpen dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda, dimuat di beberapa surat kabar dan media online.

 

1 thought on “RT Burhan”

  1. Reni Asih Widiyastuti

    Lah, mainnya ancaman. Padahal semisal baliho sama bendera enggak jadi diturunkan, belum tentu dia jadi legislatif. Hadeh.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *