LiteraSIP

13 April 2025

SERABI

Oleh Rizan Panda*

 

 

Pagi hari ketika burung gereja baru saja pergi dari sarangnya, Mbok Minah sudah sedia dengan sepiring serabi hangat yang baru diangkat dari tungku tembikar. Jemari yang mulai berkerut dimakan usia itu dengan cekatan membubuhi serundeng dan oncom di atas serabi putih, sementara serabi hijau disiram dengan kuah kinca. Serabi-serabi itu gemuk, mekar sempurna dengan pori-pori yang tercetak jelas di permukaannya. Sudah hampir lima belas tahun aku selalu menikmati kemewahan sarapan serabi Mbok Minah. Rasanya tidak pernah berubah, selalu memberikan kepuasan pada lidah siapa pun yang menelannya.

Mbok Minah selalu berjualan serabi di depan rumahnya. Ia tinggal di depan jalan besar, yang menjadi jalur utama untuk mencapai Cihampelas. Warung serabi kecil miliknya selalu ramai, meski tungkunya sudah sebagian hancur dan hanya berlantaikan tanah merah. Dinding rumah—atau tepat disebut sebagai gubuk—itu sudah reyot dan dilapisi debu dari sisa arang dan emisi kendaraan yang lewat di depannya setiap hari. Hanya ketika hari hujan saja Mbok Minah tidak berjualan, karena atap rumahnya tiris, tidak memungkinkan untuk membakar serabi. Ia juga khawatir pelanggannya diare, karena adonan serabinya sangat mungkin untuk tercampur dengan tetesan hujan yang menembus dari langit-langit.

Mbok Minah tinggal seorang diri. Ia sendiri bukan asli Bandung, pernah ia bercerita bahwa ia dilahirkan di Kebumen. Kemudian ia pindah bermukim di Bandung karena hamil akibat diperkosa ketika masih belia. Mbok Minah lalu menikah dengan seorang sopir mikrolet, yang mau menerima keadaan Mbok Minah. Sejak ia menjanda, ia hidup dari serabi-serabi buatannya. Meski dirasa sepi dan sedih, Mbok Minah selalu menjalani hari-harinya dengan senyum semanis kuah kinca.

***

Suatu pagi, langit sedang cerah dan angin dengan lembut membelai orang-orang, tungku tembikar Mbok Minah tidak tampak mengepul. Pintu rumahnya tertutup rapat. Pelanggan Mbok Minah yang setiap hari membeli serabi resah, hampir 30 menit mereka menantikan kehadiran Mbok Minah. Beberapa berdecak-decak, sembari terus memerhatikan jam yang melilit di tangan-tangan mereka. Mereka bergumam kesal, bertanya-tanya akan hilangnya Mbok Minah pagi itu. Sebagian memutuskan untuk pergi tanpa mengisi perut dengan serabi hangat, dan sebagian lagi tetap menunggu dengan raut merengut.

Tiba-tiba pintu terbuka. Mbok Minah tertatih-tatih membawa baskom berisi adonan serabi yang baru selesai dikocek. Riuh pelanggan menambah keramaian pagi itu. Mbok Minah memohon maaf pada kerumunan pelanggannya, dan mulai memantik tungku tembikar itu. Perlahan api mulai menari, menguapkan panas pada wajan dekil itu. Tangan keriput yang biasa cekatan itu dengan lamban menuangkan adonan serabi, geraknya sangat hati-hati diikuti dengan gemetar pada lengannya. Serabi yang matang tidak sesempurna biasanya. Beberapa masih belum matang, dan ada yang terlalu gosong.

Kerumunan pelanggan dengan gusar mengeluhkan serabi hari itu. Beberapa masih sudi membayar, namun mengucap sumpah tidak akan lagi membeli serabi di tempat Mbok Minah. Ketika matahari sudah mulai tinggi, kerumunan itu sudah lenyap. Tampak Mbok Minah duduk termenung di depan tungku.

“Mbok!”

Ia tidak langsung menjawab, terus termangu dan berusaha mengatur napas.

“Mbok Minah!” sahutku lagi.

“Eh, Cep Hasan. Bade surabi?”  Mbok Minah tampak sedikit terkejut saat menawarkan surabinya kepadaku. Dengan susah payah ia berdiri.

Bade meser sabaraha, Cep?” Tanyanya menanyakan berapa surabi yang aku pesan sembari mengocek adonan, menyatukan kembali endapan-endapan tepung beras di dasar baskom.

Biasa weh, Mbok. Nu amis kinca hiji, anu oncomna hiji. Dibungkus ya, Mbok.” Biasa, aku memesan surabi yang manis kinca satu, yang oncomnya satu.

Sok calik heula,” Ia mengisyaratkan sebuah bangku plastik kusam di dekat tungku tembikarnya, memintaku duduk.

Ah teu kedah, Mbok. Abi di dieu wae, hoyong ningal Mbok Minah ngadamel surabi.” Ah,  aku memilih tetap berdiri, ingi melihat Mbok Minah bikin serabi, balasku tersenyum.

Tangan tua yang terus bergetar itu tidak kuasa menahan beban di ujung telapaknya. Dalam sekejap, serabi masak itu sudah terkulai pasrah di tanah. Dengan prihatin aku terus memerhatikan Mbok Minah, yang kini berusaha berjongkok mengambil serabi.

“Sudah, Mbok, biarkan saja. Nanti saya bayar yang itu,” ujarku.

Mbok Minah tidak menjawab. Ia kini berusaha berdiri dan melanjutkan membuat serabi pesananku. Lengan tremor itu kini sudah tidak kuasa menahan beban baskom yang sudah sejak awal berjualan ia gunakan.

Mbok Minah bergetar, sebelum akhirnya ikut menggeletak di tanah bersama dengan baskom dan adonan serabi. Segera kuhampiri Mbok Minah, mengangkat tubuh renta itu masuk ke dalam rumahnya.

Ketika ia mulai siuman, ia bangkit terduduk di atas dipan. Telunjuknya mengarah pada sebuah pigura di dinding.

“Hesti… Hesti…”

Perlahan ia terisak. Telunjuknya tetap mengarah pada pigura itu. Air matanya meremang perlahan pada pipi keriputnya. Ia terus terisak, dan perlahan bersuara.

“Hesti anak si Mbok. Sudah lama ke Taiwan, jadi TeKaWe. Si Mbok kangen, tidak tahu harus menghubungi siapa,” jelasnya di tengah tangisan.

Aku bangkit dan mengamati pigura itu. Wajah di dalam pigura tampak familiar. Aku berusaha mengingat kapan dan di mana aku pernah melihat wajah Hesti.

Aku pernah melihat Hesti di berita di televisi. Ya, belum lama ini berita tentang kematian tenaga kerja wanita dari Indonesia di Taiwan itu beredar. Kabarnya, sempat diperkosa oleh majikannya sendiri dan dipaksa mengakhiri hidupnya karena hamil.

Aku termenung. Mbok Minah terus menggaungkan nama Hesti, bak berzikir berusaha memanggil Hesti untuk pulang dalam peluknya. Tak terasa air mataku menumpuk di pelupuk mata. Segera kuhampiri Mbok Minah, tanpa sepatah kata kulingkarkan lenganku memeluk perempuan tua itu.

“Mbok, sing sabar, nggih. Hesti wis ra ono,” Dengan perasaan berat aku mengabarkan, bahwa Hesti sudah tiada. Aku hanya bisa memintanya untuk bersabar.

Mbok Minah tidak menjawab. Mulutnya tak henti menyebut nama Hesti.

***

Selepas kejadian hari itu, tak pernah lagi terlihat tungku tembikar Mbok Minah mengepul. Kerumunan orang yang bernafsu untuk sebuah serabi hangat juga tidak lagi tampak. Rumah reyot itu hening di tengah lalu lalang kendaraan. Mbok Minah meninggal dunia malam hari setelah ia kuberi tahu bahwa anaknya sudah tiada. Aku yang turut menguburkan jenazah beliau, serta menyelesaikan administrasi makamnya. Pemakaman Mbok Minah berlangsung cepat, tanpa ada setitik air mata dari orang-orang terdekat Mbok Minah.

Beberapa minggu setelah pemakaman, jalanan itu dipenuhi dengan aroma serabi hangat, lengkap dengan aroma pandan dan kinca yang baru disiramkan. Aroma itu berasal dari rumah Mbok Minah, yang kini sudah semakin kumuh. Tungku tembikar itu dingin menetap, tanpa sepercik api ataupun adonan yang sedang dimasak. Namun aroma serabi itu begitu kuat, dan terus berlangsung selama berhari-hari.

 

*) Cileungsi, Desember 2024.

 

===

*Rizan Panda, seorang dokter hewan praktisi hewan kecil yang sedang persiapan mukim di Bali Utara. Hobi menulis dan membaca sambil menyesap minuman manis.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *