23 Maret 2025
Suatu Ketika di Budapest
Oleh Sigit Candra Lesmana*

“Daging apa ini? bentuknya aneh,” tanya Joline kepada Rem sembari memerhatikan dengan seksama daging kecil yang ditusuknya menggunakan garpu.
“Itu daging spesial dan sangat langka. Sebenarnya aku ingin menyajikannya utuh, tapi karena jumlahnya hanya dua buah, kuputuskan untuk membelahnya jadi dua bagian. Dan yang penting enak, kan?” ucap Rem.
“Enak, kau memasaknya dengan sempurna. Dagingnya sedikit kenyal, seperti jantung ayam, tapi bentuknya lebih bulat dan kau pandai sekali meracik saus merah ini. Rasanya kompleks, memperkaya rasa dagingnya. Kau memang juaranya untuk urusan dapur, sayangnya kau pelit. Kau hanya memberiku empat potong.” Wajah Joline tampak cemberut.
“Sudah kubilang, itu daging langka. Sangat sulit mendapatkannya.”
“Baiklah, aku tak akan protes. Lagi pula kau sudah memasaknya dengan sangat baik daging aneh ini, untuk itu aku harus berterima kasih sambil berharap daging ini bukan daging beracun,” ucap Joline sembari menatap curiga ke arah Rem.
“Aku lupa, ternyata itu jantung ikan buntal, seharusnya sebentar lagi kau sudah terkapar dengan mulut berbusa,” balas Rem. Tawa pun pecah di antara keduanya, bergema di udara ruang makan yang cukup luas dan sepi ini.
Joline melanjutkan kegiatan makan daging yang dinikmatinya secara perlahan itu. Sesaat kemudian dia menatap wajah Rem. Matanya terpaku pada sesuatu yang sejak tadi tak dia sadari karena tertutup oleh rambut Rem.
“Kau terluka?” Joline memperhatikan sebuah luka gores kecil namun tampak dalam di pipi kanan Rem.
“Hanya goresan kecil, tak perlu khawatir.” Rem membelai rambut panjangnya, untaian rambutnya lalu jatuh menutupi luka itu. Raut wajah Rem berubah, seperti ada rasa kecewa, sedih, dan marah yang teramat sangat di dalam hatinya.
“Kau tak apa, Rem?” Joline menatap sahabatnya itu dengan khawatir.
“Santai saja, aku tak apa.” Sebuah senyum yang dipaksakan terukir di bibirnya.
“Baiklah kalau begitu. Oh iya, Rem, suamiku sudah tiga hari tak bisa dihubungi, apa dia masih ada pekerjaan di Budapest? Memang dia terkadang sulit dihubungi, tapi tak pernah selama ini.” Giliran raut wajah Joline yang berubah.
“Kami memang bersama berangkat ke sana, tapi tugasku selesai lebih cepat jadi aku bisa kembali ke sini lebih dulu.” Sekali lagi sebuah senyum yang tampak dipaksakan melintang di wajahnya.
“Begitu, semoga saja dia cepat pulang, hari Minggu depan orang tuaku akan berkunjung ke sini, sayang sekali jika suamiku tak bisa menemui mereka,” ucap Joline berusaha tampak tegar.
Potongan terakhir meluncur ke mulut Joline. Dia tampak puas dengan hidangan yang dibawakan oleh Rem.
“Kau tidak berselingkuh dengan Leon, kan?” Tiba-tiba Joline melempar tatapan curiga dan mencoba menelisik ke dalam hati Rem.
“Tentu saja tidak. Apa yang kau bicarakan?” Rem mengalihkan pandangan matanya dari Joline. Sedikit keringat menggenang di pelipisnya.
“Aku ingat bagaimana kau begitu marah saat kami memutuskan untuk menikah. Aku dan Leon mengkhianatimu. Maafkan aku ya, Rem.” Air mukanya berubah, penyesalan yang teramat dalam tampak di kedua mata Joline.
Kala itu, dengan riasan yang sudah luntur oleh aliran air mata, Rem mendekati Leon. Di tangannya tergenggam sebilah pisau dapur. Joline mendorong Leon tepat sebelum pisau di tangan Rem merobek perutnya. Leon terjatuh, sementara itu lengan Joline mengucurkan darah segar yang membasahi lantai dengan warna merah pekat.
“Sudahlah, lupakan saja, waktu itu aku hanya terbawa suasana. Aku dan Leon hanyalah masa lalu.” Rem kembali melemparkan senyum kecil yang tak bersemangat. Mata Rem tertuju pada bekas luka di lengan kanan Joline.
“Maaf atas lukamu.”
Joline lalu menarik lengan baju yang dia kenakan untuk menutupi bekas luka itu. Mereka terdiam selama beberapa saat.
“Baiklah, aku pamit dulu,” ucap Rem setelah menatap ke arah jam dinding berwarna putih gading yang tergantung di tembok di belakang Joline. Jam menunjukkan pukul sebelas malam lebih tujuh belas menit.
“Oke … Jangan sampai menabrak sesuatu di jalan,” goda Joline sembari tertawa kecil.
Rem hanya tersenyum kecil dan berbalik arah lalu melambaikan tangannya tanpa menoleh. Dengan langkah yang mantap, dia terus berlalu menuju pintu keluar. Sesaat kemudian dia memacu mobilnya di jalanan meninggalkan rumah Joline.
Mobil Rem melaju membelah jalanan dengan kecepatan yang cukup tinggi. Lampu jalan dan kendaraan lain berlarian dengan begitu cepat. Seperti bintang jatuh.
Setitik air menggenang di ekor matanya. Tak kuasa menahan gravitasi, bulir air itu lalu merosot secara perlahan membasahi pipinya. Air muka Rem menyiratkan kemarahan, kebencian, dan kesedihan di waktu yang sama. Sebuah badai besar sedang mengamuk dalam hatinya.
Mobil Rem terus melaju membelah jalanan, dia teringat raut wajah Joline saat menanyakan keadaan Leon kepadanya tadi. Sesimpul senyum kemudian melintang di wajahnya. Senyumnya tampak runcing.
“Maafkan aku,” ucapnya.
***
Ditemukan jasad seorang pria di sebuah gang kecil dekat klub malam di tengah Kota Budapest pada pukul dua dini hari waktu setempat. Polisi menduga pria itu adalah korban pembunuhan melihat dari kondisinya yang cukup mengenaskan. Jasad pria itu berkubang dalam lautan darahnya sendiri.
Berita itu langsung terpampang di halaman depan koran kota itu keesokan harinya. Membuat warga sekitar gempar, baru kali ini ditemukan mayat di tengah kota. Setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui bahwa pria tersebut bernama Leon Faranov, warga Serbia.
Hasil visum menunjukkan pria tersebut sudah meninggal beberapa hari yang lalu. Dia dipastikan sebagai korban pembunuhan dan terdapat satu fakta aneh yang membingungkan polisi dalam menentukan motif pembunuhan ini. Skrotum[1] korban robek dan buah zakarnya menghilang.
[1] Kantong kulit yang menggantung di bawah pangkal penis.
===
*Sigit Candra Lesmana. Pria kelahiran Jember yang senang menulis cerpen, puisi, dan nonfiksi. Beberapa karyanya termuat di beberapa media.