31 Desember 2023
Waris
Oleh Neng Lilis Nuraeni

Pintu besi berkarat tertutup asap halimun. Deritnya menimbulkan suara nyaring memekakkan telinga yang menggema di ujung lorong pengap dan lembab. Suasana gelap kian menasbihkan rasa ngeri dan takut makhluk gentayangan yang kebingungan mencari jalan. Bau amis merangsek masuk memenuhi lubang hidung. Rasa mual kian mendesak dan mengobok-obok isi perut. Cairan bening dingin dan lengket mengalir di sela setiap lipatan kulit. Dengan susah payah mulutnya berusaha mengeluarkan apa pun yang sekiranya bisa ia muntahkan. Namun, sekeras apa pun dia berusaha, yang keluar hanyalah angin dan aroma yang kian menyengat, lebih tajam dari bau bangkai tikus.
Kabut kelabu menyelimuti cahaya yang sesekali masuk saat pintu besi berkarat itu dibuka-tutup angin. Bulu kuduknya berdiri, tak ada siapa pun di lorong itu selain dirinya. Namun, hentakan langkah kaki yang suaranya entah berasal dari mana, kerap terdengar. Kadang seperti suara orang berlari. Namun, adakalanya terdengar seperti langkah gontai yang dipaksakan.
Dia berusaha bangkit. Tubuh ringkihnya masih sangat lemah. Selain mual karena aroma bau busuk yang terus saja tercium, selebihnya hanyalah rasa lelah yang membuat imajinasinya liar mengembara.
**
“Sudah kau beritahu kedua saudaranya?” sebuah pertanyaan sempat kudengar sebelum mataku tiba-tiba saja terasa aneh. Semua yang kulihat hanya tampak serupa klise film, buram!
“Sudah, tetapi sepertinya mereka tidak akan datang,” ucap seseorang yang lain, entah siapa.
“Kenapa begitu?”
“Entahlah! Namun, sepertinya sejak kedua orang tua mereka meninggal, ketiganya tidak akur.”
“Karena warisan?”
“Mungkin.”
Aku ingin menyela percakapan mereka, tetapi mulutku katup dan tubuhku sama sekali tak bisa bergerak. Seperti disemen.
“Lantas, apa yang harus kita lakukan? Sedangkan jenazah harus segera dikebumikan!” kalimat terakhir itu serupa pukulan telak yang menghujam jantungku.
‘Jenazah? Siapa yang mereka maksud?’
Meski tampak samar, aku bisa melihat kedua orang itu kebingungan.
“Apa kita makamkan saja sekarang?”
“Lalu, bagaimana dengan kedua saudaranya? Apa mereka tidak akan menyalahkan kita karena tak menunggu terlebih dahulu?”
“Terlalu lama. Mending kalau datang, kalau tidak?”
Salah seorang dari mereka mendesah. Keputusan yang harus diambil tampaknya begitu berat sebab berkaitan erat dengan pemulasaraan jenazah. Fardu Kifayah yang harus disegerakan.
Tunggu dulu! Sebenarnya jenazah siapa yang mereka maksud? Sedangkan di dalam ruangan ini hanya ada kedua orang itu dan juga aku. Apa mungkin …
Tiba-tiba saja aku merasa tubuhku terhempas. Rasa pening membuat pandangan berkunang-kunang. Sepertinya tubuhku melayang dibawa angin dan masuk ke dalam sebuah lorong yang berputar-putar.
Ah, mimpi apa pula yang aku saksikan sekarang? Seperti sedang menonton teater di sebuah panggung pertunjukan. Aku melihat kedua adikku menangis di sebuah ruangan. Meski penglihatanku masih kabur, tetapi aku bisa tahu kalau mereka yang sedang menangis itu adalah adik-adikku. Sesama saudara mana mungkin tak bisa mengenali bentuk tubuh saudaranya sendiri, bukan?
Seseorang duduk dengan lagak pongah di depan mereka. Menghembuskan asap rokok yang dihisapnya hingga menyapu wajah kedua adikku. Ah, siapa pula itu? Kenalkah aku?
“Apa kalian tak bisa membaca? Di dalam isi surat kuasa itu jelas-jelas tertulis kalau yang diberi kepercayaan sebagai wakil bapak-ibu atas rumah dan tanah ini adalah aku! Selama ini, siapa yang membiayai segala pengeluaran dari mulai ibu dan bapak sakit hingga meninggal kalau bukan aku? Ya, wajar kalau aku gadaikan sertifikat rumah ini! Toh, uangnya pun tak aku makan sendiri. Salahku di mana?”
Aku mendengar suara tak asing bicara panjang lebar di depan kedua adikku, dan rasanya scene itu seperti familiar.
“Tetapi kenapa Abang tak diskusikan dulu dengan kami? Abang anggap kami ini apa?” aku tahu itu suara Mutia, adik pertamaku.
“Apa yang harus didiskusikan? Aku anak lelaki satu-satunya. Sulung pula. Sudah menjadi hak dan tanggung jawabku untuk membuat keputusan. Kalian hanya perlu manut. Begitu saja dipermasalahkan!”
“Bukan mempermasalahkan apa yang Abang lakukan, tetapi setidaknya kasih tahulah kami, apa yang terjadi! Kalau sudah begini, kalau nanti pihak bank menyegel rumah ini, kita mau bagaimana, Bang?” dari nada suaranya, aku rasa Mutia sedang berusaha menahan emosi yang sudah membludak.
“Apa pihak bank sudah menyegel rumah ini? Belum, kan? Kalian terlalu berlebihan!” ucapan itu sepertinya pernah juga aku dengar atau … aku ucapkan (aku tak yakin).
“Terus, surat peringatan ini apa namanya kalau bukan pemberitahuan penyegelan? Coba jelaskan!” kali ini kudengar Mita, adik bungsuku bicara. Diacungkannya selembar kertas yang ia pegang dengan gemetar karena amarah. Aneh, padahal dia jarang sekali ikut campur urusan orang lain.
Orang di depan kedua adikku diam. Namun, sepertinya bukan menyesal. Dia hanya sedang berpikir, mencari kalimat yang bisa menjadi pembenaran atas tindakan yang ia rasa benar.
“Terus, mau kalian apa? Menggugat Abang? Silakan! Dan aku tak akan lagi membayar angsuran bank. Biar rumah ini disita saja sekalian!”
Kulihat Mutia dan Mita terpaku. Perangai lelaki di depan mereka benar-benar menyebalkan. Ah, seandainya bisa, ingin kutonjok wajah si kurang ajar itu. Sayang, ini hanyalah scene dalam mimpi. Iya, kan?
Sebelum sempat mendekat ke arah mereka yang sedang bertikai, aku kembali merasakan tubuhku berputar-putar, lalu terhempas ke sebuah tempat yang begitu riuh. Suara tangis terdengar begitu dekat di telinga. Namun, tak ada siapa pun di sekitarku. Hanya sebuah lapangan terbuka, dan aku sendirian!
Aneh, padahal tadi begitu riuh, tetapi kenapa tak ada satu pun makhluk yang kutemui di sini? Sedangkan tangisan itu, ah, tangisan yang diselingi sebuah bisikkan.
“Apa yang akan Abang katakan pada ibu dan bapak saat Abang bertemu dengan mereka nanti?”
Ah, aku tahu suara siapa itu!
Ciater, 05 November 2023
===
*Neng Lilis Nuraeni (Lies Noor), lahir dan tinggal di Subang. Beberapa karyanya pernah dimuat di antologi cerpen yang diterbitkan SIP Publishing. Akasia dan Sebungkus Rindu (masuk 30 besar lomba cerpen SIP Publishing), Pada Kau, Murni! Perawan Tak Bermahkota (Juara Harapan lomba cerpen Romansa Universe), Guyonan Maut (Peringkat ke-27 lomba cerpen Tulis me), Jembatan Cadas Gantung (Juara 1 Sayembara Penulisan Cerita Rakyat 2023 – Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat), Dua Puluh Lima Persen, Si Gila yang Berpura-pura Menjadi Gila (Bali Politika). Dua novel cetak Kekasih Sang Pendosa (Romansa Universe, 2021), Telisik Macula (Hyang Pustaka, 2023).
Cerita yg penuh intrik yg disajikan dg bahasa lugas dan membuat penasaran bagi pembacanya. Semangat terus berkarya Neng Lilis👍💪