24 Desember 2023
Puisi-Puisi Budi Wahyono
Oleh Budi Wahyono*

Rumah Ibu
: penyair Hardho Sayoko Spb
rumah ibu nyenyet dianyam gremet sepi
angin mengipas lembut dari segala sisi
amis sawah yang menerobos rumah bertutur galak
menimang gemuruh masa jingkrak kanak-kanak
tentu masih kau catat kodok hijau meloncat-loncat
hangat senyap dalam kuat dekap
jangkrik mengerik menandai getar musim
dingin mbediding merindu segunduk nasi cething
mungkin sudah menjadi lipatan halaman:
gurih rempeyek laron, seger pepes wader
bothok entung dan pentang ketapel burung
lalu pikiranku kembali berdebu
teringat dinding stasiun warna bisu kelabu
malam itu penjual tiket tua bertutur mesra:
kepyur ribuan puisi tak terendus di sini
lituli melalang buana – bertengger di sempit Jakarta.
Kedunggalar, 2023
Mengimajinasikan Ronggeng
aku kangen sekujur tubuh penari ronggeng Kangmas
tetapi hitungan umur menggilas makin jelas
senyum itu merindu pada
kibasan selendang ke belantara kata
aku memandamg kelebatan gerak sejenak
seribu kendang mumbul menyuntak-nyuntak
seperti mripat anak kecil merindu kembang gula
lori-lori bergerak cepat di atas relnya
dari jendela kaca bus amat kusam
kutatap laju bus dari segala penjuru makin paham
jangankan merindu lirikan ronggeng
menghitung setoran ke juragan saja kian merana.
Purwokerto – Cilacap, 2023
Menunggu Wangimu
pertigaan Genuk membayang cadas
sejumlah simbok begerak giras. Ke mana
arah mata menimpa? Batinmu mengelana
rombeng, kardus, plastik, kertas
jatuh babak bundas
persaingan tak hanya melilit di hitungan global
matematika dangkal pun tak diberi rasa ampun
dan garis-garis tua di paras jelita mati kehilangan wangi
apakah suami masih menyentuh lagi?
lagu derita lagu wanitaku
gulungan rob terus menyatu – tak surut
melawan laut
tak tuntas menarung darah panas.
Demak, 2020
Kleper Perkutut
perkutut pilihan menghunus daun-daun jati
melayangkan sekuntum rindu penuh cemburu
pada halaman Pulau Buru – rentang Bumi Manusia
ke mana aku harus mulai melata?
di ladang senja: tumpukan bata dipagar
kepulan debu terus bertarung dengan siram keringat agung
sejenak garis jidatmu berputar sesar
kapan kita menukar budi bagi tanah lestari
lalu alur sate di pinggir alun-alun
sudah merekah mekar sejak sore
tapi hanya gulungan asap yang senantiasa kalian dekap
di atas rumpun bambu barongan menyembul
membagi ketentraman
hidup harus terus dilanjutkan!
Blora, 2023
===
*Budi Wahyono, penulis kelahiran Wonogiri, Solo. Ratusan judul puisinya tersebar di berbagai media cetak/elektronik. Beberapa judul terangkut dalam sejumlah antologi. Pernah menjadi Pemenang II (dua) dalam Lomba Puisi Iklan yang diselenggarakan Koran Kampus Manunggal, Undip (1989), Pemenang Lomba Puisi Lingkungan Hidup yang diselenggarakan IKIP PGRI Semarang. Tahun 2016, dalam Lomba menulis Puisi bertema “Aku Cinta Jawa Tengah” yang diadakan Balai Bahasa Jateng menempatkan sebuah Puisi miliknya sebagai Pemenang 1. Juara 1 menulis Geguritan (Puisi Jawa) dengan Tropi Gubernur Jateng tahun 2018. Kini menetap di pinggiran kota Semarang.