24 Desember 2023
Laki-laki Kamboja
Oleh Dwi Syams*

Di tepi makam yang sunyi, di bawah rindangnya pohon Kamboja, ada sosok laki-laki tua bernama Pak Kamal yang keberadaannya seperti bayang malam, melukis kesedihan dan kebijaksanaan dalam goyangan dedaunan. Setiap pagi, langkah-langkah gemulainya terdengar di antara pemakaman yang terlelap. Tubuhnya yang membungkuk menandakan usianya yang sudah tua, namun matanya yang cerah menyiratkan semangat hidup yang tak kunjung padam.
Pak Kamal adalah seorang pencari bunga kamboja. Setiap harinya, dia tekun memungut bunga-bunga putih yang jatuh dari pohon kamboja yang megah di tengah-tengah pemakaman. Tangannya yang kasar tetapi penuh kelembutan dengan hati-hati memilih bunga-bunga yang sempurna. Rambutnya yang sudah memutih seperti benang-benang salju yang menari di tepi topi usangnya, menyiratkan jejak waktu yang teranyam dalam setiap helai serat kenangan.
Setelah terkumpul, ia menyusun bunga-bunga putih itu dengan rapi dalam keranjang anyaman yang setia menemaninya setiap hari.
Bunga-bunga kamboja yang telah terpilih, Pak Kamal keringkan dengan hati-hati di bawah terik matahari. Setelah bunga-bunga itu kering, dia menyusunnya dalam bentuk girlanda cantik. Pekerjaan itu bukan hanya sekadar mata pencaharian, tetapi juga seni bagi Pak Kamal. Dia menjual girlanda-girlanda tersebut untuk mencukupi kebutuhan hidupnya yang sederhana.
Pohon kamboja yang menjadi teman setianya di tengah-tengah pemakaman bukanlah sekadar objek. Baginya, pohon itu adalah teman bicara yang selalu mendengarkan keluh kesahnya. Setiap kali Pak Kamal merasa sepi, dia duduk di bawah pohon itu, meratapi masa lalunya, dan bercerita pada ranting-ranting yang melingkar indah. Seperti malam ini.
“Pohon kamboja, apa yang membuatmu tetap megah meski waktu terus berlalu?” tanya Pak Kamal pada suatu hari, sambil menatap pohon yang tampaknya menari-nari seiring angin yang berembus lembut.
Dalam angin yang berbisik, pohon Kamboja memberikan jawaban dengan suara yang lembut. “Hidup adalah sebuah perjalanan, Pak Kamal. Meski banyak bunga yang gugur, ada kuntum baru yang akan mekar. Setiap daun yang jatuh adalah bagian dari kehidupan yang terus berputar.”
***
Dalam senyap malam yang memeluk pemakaman, pohon kamboja yang menjulang tinggi terlihat sebagai penjaga rahasia, meresapi esensi kehidupan yang berliku-liku. Pak Kamal, seorang yang mencintai keindahan bunga kamboja dan pencarian makna di balik setiap kelopak yang jatuh itu, duduk di bawah bayang-bayang pohon yang selalu menemani perjalanan hidupnya.
Pak Kamal memandang pohon Kamboja, matanya seperti merangkum hikmah yang terpendam di setiap cabang dan daunnya.
“Apa yang kau maksud, sahabat tua?” tanya Pak Kamal, suaranya seolah menjadi getaran lembut yang menembus ke dalam inti filsafat kehidupan.
“Ketika bunga-bunga jatuh, mereka tidak mati, Pak Kamal. Mereka hanya berpindah. Mereka menjadi bagian dari tanah yang kita pijak, memberi makan pada kuntum-kuntum yang akan tumbuh,” jawab pohon Kamboja dengan lembut, seolah-olah menaburkan bijak kata di antara helai-helai angin malam.
Pak Kamal tersenyum pahit, merenung sejenak sebelum berkata, “Namun, mengapa begitu banyak yang takut pada kehilangan, seperti pada daun-daun yang gugur?”
Pohon Kamboja menggoyangkan daun-daunnya dengan lembut, seakan memberikan simbolisasi gerakan keraguan yang melintas di benak Pak Kamal. “Ketakutan itu berasal dari ketidaktahuan, Pak Kamal. Kebanyakan manusia melihat kehidupan hanya dari perspektif waktu yang singkat. Mereka lupa bahwa kehidupan adalah siklus yang tak pernah putus, seperti air yang terus mengalir.”
“Siklus yang tak pernah putus?” ulang Pak Kamal, matanya yang berkilau mencerminkan keraguan dan keingintahuan.
“Precisément,” kata Pohon kamboja dengan bahasa yang jauh lebih tua dari zaman, menciptakan aura kebijaksanaan yang membentang di antara cabang-cabangnya. “Pergantian musim, matahari yang terbit dan terbenam, itu semua bagian dari tarian kehidupan. Dan di setiap tarian, ada keindahan yang tak tergantikan.”
Pak Kamal mengangguk mengakui, “Tapi bagaimana dengan kehilangan yang mendalam, seperti bunga yang tak pernah kembali mekar?”
Pohon Kamboja, sebagai penyampai hikmah yang terpahat di akarnya, menjawab dengan bijak, “Mekar adalah bagian dari eksistensi, dan sekalipun kelopak itu tak lagi tampak, esensinya masih hidup di dalam tanah. Mungkin tak lagi bersinar di mata manusia, tapi kehidupan baru akan tumbuh dan menari dalam perayaan tak terlihat.”
Sejenak, angin malam menjadi saksi bisu dari dialog antara manusia dan alam, antara Pak Kamal dan pohon kamboja. Dalam keheningan yang terdalam, kebijaksanaan alam menyatu dengan kearifan manusia, membentuk serenade tak terucapkan tentang arti kehidupan.
“Dalam setiap kehilangan, Pak Kamal, terdapat kebahagiaan baru yang menanti. Setiap bunga yang jatuh adalah sebuah bait dalam syair keabadian,” ujar Pohon kamboja sambil menggoyangkan daunnya, seolah-olah menyusun melodi perpisahan yang sarat makna. Pohon Kamboja menjadi saksi bisu dari segala cerita yang dihadapi oleh Pak Kamal.
***
Namun, suatu hari, langkah-langkah lemah Pak Kamal tidak terdengar lagi di antara makam-makam. Kabar pun menyebar di kalangan penduduk setempat bahwa Pak Kamal telah meninggal dunia.
Pohon kamboja merasakan kehilangan yang mendalam. Suara langkah dan cerita hati Pak Kamal tidak lagi mengisi ruang antara ranting-rantingnya. Pohon itu meratapi kepergian sahabatnya dengan membiarkan bunga-bunga kamboja jatuh tanpa ada tangan lembut yang memungutnya.
Pada suatu malam yang sunyi, pohon Kamboja berkata pada angin malam, “Pak Kamal, di manapun engkau berada, terima kasih atas semua cerita dan kehadiranmu di bawah naunganku. Engkau telah menjadi bagian dari kehidupan ini. Kini, engkau telah menjadi sejati dengan bunga-bunga kamboja yang kau cintai.”
Maka, bunga-bunga Kamboja yang selalu dipungut dan dijual oleh Pak Kamal pun menjadi simbol kehidupan yang terus berlanjut. Mereka, seperti Pak Kamal, telah menemukan tempat abadi di bawah rindangnya pohon Kamboja yang setia berdiri.
Dalam keheningan malam, pohon Kamboja merentangkan rantingnya ke langit, seakan menyambut Pak Kamal yang kini menjadi bagian dari keabadian. Meski tubuhnya telah dikubur di bawah tanah, semangatnya tetap hidup, bersatu dengan getaran alam yang abadi di bawah naungan pohon kamboja yang penuh makna.
***
*Dwi Syams, berdomisili di Klaten. Beberapa tulisannya telah terbit di beberapa buku antologi. Beberapa buku yang ada karyanya yaitu “Menjadi Guru yang Menyenangkan untuk Anak Kita”, kumpulan cerpen “Dandelion”, kumpulan flash fiction bersama Gol A Gong “Rumah Makan Terapung”. Ia masih bermimpi untuk menerbitkan buku atas namanya sendiri. Kini, ia sedang menunggu buku impiannya itu diterbitkan.