17 Desember 2023
Puisi-Puisi Irvan Syahril

Mengingat Pelukan
Ia kapal di tengah lautan
yang telah menaklukkan ribuan badai
tetapi angin selalu menggoda layarnya.
Ia masih menunggu seseorang
yang bawa lari genggamannya
sebelum ia sempat menuliskan
namanya di urat tangan itu.
Ia ingin entah ke mana pergi
tetapi kakinya terpasung waktu
ia biarkan pintu utama terbuka
laiknya tubuh yang menunggu
meski hanya cahaya
ruang bagi berbagai gema.
Matanya belum menyerah
menggunting bayangan diri
ada gejolak badai
yang minta diluapkan
lebih kuat dari cinta atau ingatan
dan air matanya jauh dijangkau
wajah siapa pun.
Ia tak merasa terpenjara
tetapi waktu tak bekerja
setiap kali ia mengekalkan diri
ingatan-ingatan serupa kuda
yang berlarian
meninggalkan jejak suara
yang gagal ia ikuti.
Subang, 2023.
Perayaan Hari Pernikahan
Harusnya sudah ia rayakan hari pernikahan
kesekian kali. Hari penuh nyanyian dan nyala
lilin sejumlah usia. Hari luka menyembuhkan
trauma atau hari tanpa pertanyaan berapa lama
cinta berkobar.
Setiap perayaan tiba ia melepas jam dinding,
kalender yang angka-angkanya berwarna merah,
atau foto-foto hari silam. Hanya sepotong kue
dengan sebatang lilin yang menjaga nyala diri.
Ia sejenak menahan waktu, setidaknya lebih lama
mencintai ketakabadian.
Hatinya selebar jendela yang memapar kenaifan
ada gema abadi yang tak ia kenal muasalnya
sunyi menyerap warna-warna benda
ia bertahan dari hidup yang kian pekat hitam.
Ia mengubah diri menjelma sebatang lilin
menunggu dipadamkan. Ia menjadi api
agar doa dan harapan yang terbakar
mengabu ke mata tuhan. Bukan ketulusan
yang menggerakan keinginannya, tetapi ia
tahu cinta selalu butuh salah satu jadi korban.
Subang, 2023.
Tangan Kecil Banda Neira
Sekali waktu aku batu melompat-lompat
di permukaan laut banda, menuju titik
tertentu demi kemenangan. Keriangan
seketika membuat warna biru kian tegas.
Minggu ke minggu, warna diriku kembali
seperti kelopak menerima cahaya pertama
aku larungkan getah waktu, wajah maut,
segala yang bertengger di kantung mataku.
Bola-bola mata mereka asri dan murni
tubuh masa kecilku menggeliat mendengar
nyanyi mereka dan telapak mungil itu
membangunkan duniaku yang lugu.
Aku seperti kembali lahir saat maut
belum menampakkan wajah di hadapanku
aku ingin terapung-apung di mata mereka
menunjuk pulau-pulau hijau dan tenang.
Subang, 2023.
Kota Dalam Satu Percakapan
Wajah kota ini tersembunyi di balik topeng badut
ia menjajakan keriangan ke wajah-wajah padam
lalu ditukar dengan malam yang panjang.
Tapi kata ayahku
wajah kota ini selalu ceria.
Kau akan temukan reruntuhan batin di matanya
yang tak bisa ia samarkan di lubang terdalam itu
matanya ibarat persembunyian terakhir
ketika ia tersingkir dan dikejar hari buruk.
Apakah kota ini punya cinta
untuk mencintainya?
Kota memberi banyak alasan agar ia tetap tinggal
meski berulang ia pendam suara di jalan raya
sehingga setiap ia menatap puncak gedung itu
ada mimpinya yang jadi slogan iklan dan televisi.
Pernahkah kau bayangkan ia menangis
di balik topeng badut itu untuk kebahagiaanmu?
tetapi kau berpikir ia sedang mengelabui hatimu.
Jangan bercanda
ia selalu tersenyum padaku!
Subang, 2023.
===
*Irvan Syahril penyair kelahiran Subang, Jawa Barat. Peraih penghargaan Sastra Litera 2021. Bergiat dalam komunitas Gubuk Benih Pena dan Bemsika. Menulis puisi dan esai.