LiteraSIP

17 Desember 2023

Kisah Seorang Tukang Cerita

Oleh Dessy Liestiyani*

 

 

Apa salahnya bercita-cita menjadi tukang cerita? Aku sudah bermimpi menjadi tukang cerita semenjak Sekolah Dasar. Dan kalian selalu saja tertawa, tertawa, tertawa, dan terus saja tertawa.

Padahal, aku ingin sekali menyampaikan kepada kalian, bahwa aku ingin seperti ibu – walaupun hanya buruh cuci, tapi ia pandai bercerita. Ibu banyak bercerita tentang legenda-legenda. Malin Kundang, sang anak durhaka, adalah legenda yang paling sering diceritakannya. Cerita yang selalu membuatku gemetar; takut menyakiti hati ibu.

Aku rasa, saat itulah tumbuh keinginanku menjadi tukang cerita. Aku ingin bercerita apa yang kusuka. Aku ingin bercerita tentang Malin Kundang versiku. Malin Kundang yang bisa hidup bahagia dengan ibunya sampai akhir hayat.

Aku rasa, jika kujelaskan hal itu kalian akan mengagumiku. Tapi yang kudapat tetap saja tawa. Hanya tawa. Saat-saat seperti itu biasanya aku jadi merindukan bapak, yang berpulang sebelum aku sempat mengutarakan cita-citaku ini. Aku membayangkan bapak menatapku, kemudian mengangguk-angguk sambil memelukku. Bapak selalu mau mendengarkanku, membiarkanku bercerita tanpa sela.

“Bagaimana sekolahmu, Nak?” begitu biasanya bapak memulai obrolan, setelah ia selesai memarkir becaknya di samping rumah. Setiap sore aku duduk di teras, menunggu kepulangan bapak. Ibu akan menyusulku sambil membawa secangkir kopi hitam dan sepiring pisang goreng kesukaan bapak.

“Ba-baik, Pak,” aku menghambur ke pelukannya, mencari aroma keringat khasnya. Dan aku -dengan susah payah tentunya- akan bercerita tentang kalian, yang mengolok-olokku, yang tidak mau bermain denganku, yang mengunciku di kamar mandi sekolah.

“Kamu benci mereka?” pernah bapak bertanya kepadaku.

“A-aku ti-tidak tahu,” jawabku setelah diam beberapa saat. Ya, aku sendiri tidak tahu apakah aku seharusnya membenci kalian. Saat itu aku merasa, itu sudah takdirku. Kalaupun aku membenci kalian, terus aku bisa apa? Pindah sekolah? Huh. Seperti orang kaya saja.

Masih untung aku bisa bersekolah gratis di sekolah elit dengan bangunan mentereng ini. Aku ingat betapa gemetarnya kala pertama memasuki gerbang sekolah. Ini bukan sekolah. Ini istana! Istana, seperti yang kulihat di buku cerita bekas pemberian bapak.

Aku bisa sekolah karena istri penjaga sekolah ini pelanggan becak bapak. Suatu saat ia mendengar dari suaminya kalau sekolah ini sedang mencari siswa dari keluarga tak mampu. Ia langsung teringat padaku, anak tukang becak langganannya.

Saat itu, bapak dan ibu langsung mengiyakan. Mereka akan melakukan apa saja untuk membuatku bisa sekolah. Aku juga ingin sekolah, tapi tentu saja bukan di sekolah seperti ini. Tapi aku merasa tak elok jika mengutarakan keberatanku. Aku diam saja, cemas membayangkan apa yang akan aku hadapi nantinya. Ah, adakah yang mau berteman denganku?

Aku menemukan jawabannya, tak lama setelah aku menginjakkan kaki di sekolah ini. Jangankan berteman, sejak awal kalian hanya melihatku sebagai target olok-olok saja. Kemiskinan seakan telah terpatri di parasku, menginjak-injak rasa percaya diriku.

“Hei, minggir! Itu tempat dudukku!” Aku tak akan lupa ketika salah satu dari kalian menghardikku.

“Ma-ma maaf.” Aku gugup. Tentu saja.

“Hei! Kamu anak tukang becak itu ya? Yang cari gratisan sekolah di sini ya?” itu ucapan “selamat datang” yang kuterima di hari pertamaku.

Dan aku tak pernah menyelesaikan kalimatku. Tidak di hari pertamaku. Tidak di hari-hari selanjutnya. Melihat kalian saja sudah membuatku berkeringat. Dadaku berdebar. Pikiranku kacau. Aku membayangkan apa yang akan kalian katakan padaku, apa yang akan kalian perbuat padaku. Otakku penuh dengan kata-kata, tapi entah mengapa aku tak dapat mengeluarkannya. Pada akhirnya selalu saja ada tawa; ada olok-olok yang menutup kalimatku.

Aku tak pantas di sini. Tapi ketika aku belum mempersiapkan diri, aku sudah berada di sini; di sekolah yang hanya membutuhkanku untuk menaikkan citra peduli sesama; sekolah yang hanya menjadikanku target untuk mendapatkan kucuran dana yayasan dan pemerintah.

***

Aku terdiam. Kusapu pandanganku ke seluruh pengunjung aula tempatku bicara; aula bekas sekolahku yang seperti istana ini. Ada sekitar lima puluh siswa, lima guru, serta satu pegawai administrasi yang bersiap dengan amplop -yang biasanya untukku. Merekalah pendengarku hari ini; pendengar ceritaku. Beberapa dari mereka mengeluarkan tisu, atau sekadar menepis air mata dengan ujung jari.

Ya, menangislah! Walaupun kalian bukan teman-temanku yang dulu. Kalian juga bukan guru-guru kelasku –yang tidak pernah membelaku, yang selalu menutup mata pada perlakuan-perlakuan yang kuterima. Buatlah aku bahagia melihat tangis kalian; kalian dan kaum kalian yang bangga akan bangunan ini; bangunan mentereng yang kalian akui sebagai lembaga pendidikan; lembaga yang harusnya mendidik dengan cara terhormat; dengan cara menghargai manusia, bukan menginjak manusia!

Kubiarkan para pendengarku menangis. Aku menikmatinya. Sungguh. Tangisan mereka seperti mengikis dendam di hatiku, sedikit demi sedikit. Ayo, menangislah lebih lama lagi.

“Aku selalu ingat pesan Bapak untuk selalu ikhlas menjalani hidup, selalu menerima takdir Illahi. ‘Apapun itu, kau hanya perlu bertahan’, demikian katanya.”

Aku berjalan perlahan ke arah meja panjang tempat kelima guru itu mendengarkanku. Buka mata kalian! Bagaimana bisa sekolah semahal ini peduli dengan pendidikan orang-orang miskin, namun justru tak peduli ketika mereka diperlakukan tidak baik? Paling tidak, ajarilah anak didik kalian itu untuk tidak menyakiti kami –para orang miskin! Aku berharap, mereka bisa mendengar kata batinku.

“Aku bertahan, karena aku percaya setiap orang mampu menjalani takdirnya. Kemiskinan keluargaku justru mengikutkanku pada program-program sosial yang membuat hidupku terjamin, dan pendidikanku dibiayai.”

“Belum tamat kuliah, aku sudah ditarik bekerja di perusahaan susu terkemuka tempatku magang. Dulu, aku staf laboratorium. Sekarang, aku CEO di perusahaan itu.”

Seperti biasa, tepuk tangan menggema setiap kali aku menyelesaikan kalimat itu. Terima kasih. Setelah tangis kalian yang mengikis dendamku, bagiku tepuk tangan kalian menjadi wujud pengakuan akan profesiku yang lain, profesi yang menjadi cita-citaku sejak dulu; menjadi tukang cerita.

Saat ini, setiap tahun aku dibayar untuk bercerita; cerita tentang perlakuan-perlakuan yang kuterima; cerita menyedihkan yang kalian anggap pantas sebagai sebuah kisah motivasi.

Aku tak mungkin membenci kalian. Pada akhirnya, aku berterima kasih karena tawa yang kuterima saat itu justru memecutku untuk bisa mewujudkan cita-citaku. Tawa itulah yang terus mendorongku untuk melatih kemampuan bicaraku, meningkatkan rasa percaya diriku, sampai akhirnya aku merasa tak butuh tawa untuk menyelesaikan ucapanku.

Akhirnya, aku tahu jawaban atas pertanyaanmu dulu, Pak.

 

***

 

===

*Dessy Liestiyani. Penulis esai dan non esai/fiksi di media online sejak 2019. Kumpulan tulisan saya bisa dilihat di laman linktr.ee/dessyliestiyani. Penulis buku “3 2 1 Action! Sebelas Tahun Menjadi Kru Produksi TV” tahun 2022, dan antologi “Mosaik” tahun 2022.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *