LiteraSIP

10 Desember 2023

Puisi-Puisi Lidia

Oleh Lidia*

 

 

Perjalanan ke Kota

Kesabaran mendorong kakiku
berjalan melalui setapak rerimbun
di mana kiri kanan hanyalah kesunyian
yang menyapa
sesekali jangkrik mengintip dari balik daun
mungkin sekadar memastikan senjata apa yang kubawa

Jalanan berlubang yang panjang ini
terasa pendek dalam khayalan
harapan-harapan di pundak menjadi bekal perjalanan
meski sebenarnya perutku berbunyi minta makan
aku tetap melangkah pelan

Di depan sana
riuh kota mulai terdengar
makanan dan minuman bermain dalam kepala
bentuk dan aromanya sudah tercium
bikin perutku kenyang dalam angan

Langkah melaju
gitar kayuku bergoyang-goyang
saku kosong
sungguh, aku hanyalah pengamen kecil
layaknya musafir
hendak minum di kotamu

Sarjo, 14 Oktober 2023

 

Yang Berlari

Hari-hari begitu cepat berjalan
usia yang dulu belasan
berlari seperti atlet, berlomba
mencapai garis penghabisan

Kemarin kau masih merangkak
dalam peluk
tangis yang kau tumpahkan
berganti tawa-tawa kecil
yang selalu ada
menjadi lampu kerlap kerlip
setelah ibumu melewati
kesunyian hidup yang remang-remang

Hingga kini kau dewasa
ingatan disemat pada album
yang ruangnya begitu sempit
untuk menampung rahasiamu kian meluas

Apa yang diharap pada waktu, katamu
kakinya begitu cepat berlari
sebelum sempat kudengar pesan-pesan
dari langit
yang kelak mengubahku menjadi orang bersyukur

Sarjo, 31 Oktober 2023

 

Telepon Umum di Seberang Jalan

Di kota tua, becak dan dokar berputar-putar
mencari dan membawa penumpang
sedang aku pejalan kaki yang setia berteman debu
sungai memanjang di bawah jembatan
adalah sejuk air dalam pikiran
yang kulalui sebelum tiba di tempatmu

Rumahmu, rumah pucat yang pertama kulirik
setelah sampai di telepon umum
telepon yang satu-satunya masih bersahabat
ketika orang-orang sudah menggenggam gawai.

Di kota ini, telepon umum itu menjadi penghubung
rinduku pada orangtua
koin-koin yang kusuap di mulutnya
memberikan waktu sejenak mendengar tawa kecil ibu
meski kadang mengantre panjang
dan suara ibu hilang-hilang
sebelum aku menutup pembicaraan.

Sabtu sore sepulang sekolah
adalah waktu romantis menatap telepon itu
telepon biru di seberang jalan
yang membuatku tersadar
begitu banyak rindu
yang tuntas ia selesaikan

Namun, wajahnya kini hanya hidup
dalam kenangan kota tua.

Sarjo, 23 Oktober 2023

 

Tukang Becak Tua

Tukang becak itu
lebih dulu memarkir diri
sebelum jam pulang sekolahku tiba
menyusun rencana-rencana harian
yang tak pernah terpikirkan oleh pegawai kantoran

Ia duduk di atas becaknya sendiri
menunggu panggilan lembut penumpang
sambil memandangi becak-becak lain
yang masih baru dan kuat
seperti dirinya dahulu

Becak bercat merah miliknya telah berkarat
roda-rodanya mulai lelah berjalan
bersama kakinya
mengantar penumpang sepanjang tahun

Tuan dan becak itu
sudah melalui masa-masa muda
waktu memberinya banyak pengalaman,
airmata, dan harapan

Pagi-malam
mengayuh becak seperti belajar memutar roda waktu
hingga tiba rambut berubah warna, kulit keriput,
dan tenaga sisa setengah

Tukang becak tua
telah sampai di tujuan hidupnya
roda-roda becak mengantarnya
pada kehidupan sederhana penuh syukur

Dan ia masih saja menunggu penumpang
yang tak pernah lagi ingin memanggilnya.

Sarjo, 03 November 2023

 

===

*Lidia. Lahir di Donggala, Sulawesi Tengah. Bergabung di Forum Lingkar Pena (FLP) Sulawesi Selatan dan COMPETER Indonesia. Menulis puisi dan cerpen di media.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *