10 Desember 2023
Amal
Oleh Sigit Candra Lesmana*

Embusan angin membuatnya melayang, lalu menggelinding beberapa kali di atas aspal yang tampak memuai karena terik matahari, menciptakan fatamorgana yang meliuk-liuk seperti ular dari kejauhan. Setelah menggelinding beberapa meter, sebuah entakan kaki menggencet dan menghentikan lajunya. Seorang gadis memungut uang lembaran nominal dua ribu rupiah itu dan memasukkannya ke dalam gayung plastik yang digenggamnya.
“Alhamdulillah, terimakasih pengendara roda dua dari arah kota Kalisat, semoga Allah membalas dengan rezeki yang melimpah dan semoga selamat sampai tujuan,” suara Pak Maliq terdengar nyaring keluar dari dua buah corong di samping kiri dan kanannya.
Pak Maliq duduk di sebuah balai bambu sembari menggenggam microphone. Sesekali mengucapkan terimakasih kepada pengendara yang melemparkan sejumlah uang untuk amal. Terkadang uang kertas, tak jarang uang logam yang mereka lemparkan. Sesekali dia juga mendendangkan salawat apabila tak ada lagi pengendara yang perlu diucapi terimakasih.
Di dinding belakang balai, terlihat gambar rancangan renovasi masjid Al-Hikmah yang terletak di belakang kampung, tak jauh dari lokasi amal. Dalam rancangan gambar itu, terlihat masjid Al-Hikmah akan lebih diluaskan dan diubah arsitekturnya menjadi lebih modern.
Pak Maliq menyampaikan keinginannya untuk merenovasi masjid kepada Pak RT. Rasa sepi saat menunaikan salat dalam kesendirian mendorongnya untuk menyampaikan hal tersebut.
Masjid Al-Hikmah memang tampak cukup tua dan membosankan. Bangunannya tak terlalu luas. Anyaman bambu menjadi dindingnya, itupun sudah lapuk dimakan rayap pada beberapa bagian. Atapnya terbuat dari daun pohon aren yang dijalin menjadi lembaran-lembaran.
Suasana yang tampak kuno membuat warga apalagi kaum muda enggan untuk berkunjung. Apalagi semenjak Pak Lukman sakit, Pak Maliq menjadi satu-satunya imam sekaligus jemaah di masjid itu. Menggelar pemungutan amal di pinggir jalan menjadi jalan satu-satunya. Warga yang sebagian besar adalah buruh tani dan sebagian lainnya bekerja serabutan tentu akan keberatan apabila diadakan iuran.
“Kami juga akan semangat salat berjemaah di masjid kalau masjidnya bagus, Pak RT,” ucap seorang warga dan segera diamini oleh warga lainnya.
Para warga cukup bersemangat dengan usulan Pak Maliq setelah mendengar dari Pak RT. Sebuah balai bambu segera dibangun di pinggir jalan raya. Para perempuan juga bersemangat untuk menjadi petugas pemungut uang amal yang dilemparkan para pengendara. Mereka membawa wadah masing-masing. Gayung plastik, rantang, mangkok, dan benda apa saja yang bisa dijadikan tempat menampung uang.
Selapas sekolah anak-anak juga langsung menuju pinggir jalan untuk turut memungut amal. Sesekali mereka berebut untuk mendapatkan uang yang dilempar hingga beberapa kali hampir tertabrak kendaraan dan mereka pun kena marah. Tapi, tak ada kata jera dalam kamus mereka.
Para lelaki dengan dana hasil pemungutan amal mulai membeli material-material di toko bangunan Koh Gi’an. Beberapa material mendapat potongan harga dan kekurangan dana bisa dicicil. Sedikit demi sedikit masjid mulai direnovasi. Masjid yang sudah tua dan lapuk itu dibongkar, warga memtuskan untuk merenovasinya secara total.
Pondasi masjid mulai dibangun. Tanah digali cukup dalam lalu diisi dengan bebatuan besar. Setelah itu, batu bata merah lalu disusun sedemikian rupa membentuk dinding masjid. Beberapa ribu batu bata merah tersusun dengan rapi membentuk bangunan masjid yang nampak lebih kokoh dan luas dari sebelumnya.
Atap dibuat berbentuk limas berbahan genting dan kayu sebagai penyanggah. Tak lupa sentuhan terakhir sebuah kubah berukuran sedang dari bahan alumunium dengan hiasan bulan bintang diletakkan di atasnya.
Masjid kemudian terlihat sejuk setelah dikuliti dan dicat dengan warna hijau kukus. Pada bagian dalam, sebuah kaligrafi berwarna emas dengan dasar warna hitam melintang mengelilingi dinding masjid. Di dalam mihrab sebuah lafaz Allah terlukis dengan elegan. Keramik berwarna putih gading menjadi alas masjid. Dilapisi beberapa lembar karpet gulungan bermotif sajadah.
Dalam rentang waktu tiga bulan proses renovasi masjid Al-Hikmah sudah sepenuhnya rampung dikerjakan. Pemungutan amal yang dilakukan setiap hari, kerja keras para tukang dan kuli bangunan, serta sumbangan dari Koh Gi’an dan beberapa aparatur desa membuat proses renovasi masjid berjalan lancar dan relatif cepat.
Punggung pak Maliq bergetar saat pertama kali masuk ke dalam masjid Al-Hikmah yang baru saja selesai dipugar. Hidungnya kembang kempis mencium aroma harum wewangian yang baru saja disemprotkan. Kakinya terasa hangat saat menginjak karpet motif sajadah yang masih baru. Matanya berkaca-kaca melihat jemaah ramai salat sunah di dalamnya dan menanti dirinya untuk menunaikan salat magrib berjemaah.
Pengeras suara baru dipasang menggantikan pengeras suara lama, membuat suara bacaan salat Pak Maliq saat mengimami lebih ngebas dan tidak cempreng. Bergema memenuhi udara desa yang mulai dilingkupi gelapnya malam.
Acara selamatan diadakan usai salat magrib. Warga berdatangan untuk berkumpul dan berdoa bersama. Jajanan pasar dan beberapa masakan tampak tertata rapi di tengah ruangan. Seorang penceramah dari luar kota didatangkan untuk memberi wejangan.
“Merenovasi masjid tentu perbuatan yang sangat mulia. Akan tetapi, ada yang lebih penting daripada itu jemaah,” ucap sang penceramah.
“Yang lebih penting daripada merenovasi masjid adalah memakmurkan masjid,” ucap sang penceramah menambahkan.
Beberapa warga tampak mengangguk-angguk. Beberapa lainnya tampak melirik makanan yang tersaji dengan liur yang hampir menetes. Sesekali terdengar tawa dari jemaah mendengar ceramah yang disampaikan dengan jenaka.
Selepas isya, acara selamatan selesai. Masjid tampak sepi, hanya Pak Maliq yang masih bertahan duduk di pelataran. Pada pipinya terukir seutas senyum. Rasa puas dan haru tampak pada wajahnya.
***
Udara dingin menyelimuti desa. Suara Pak Maliq kembali menggema memenuhi udara desa dengan lantunan adzan subuh yang merdu. Matahari mulai mengintip di ufuk timur. Langit yang semula hitam mulai membiru.
Suasana desa masih sunyi, hanya kicauan beberapa burung yang terdengar. Bersemangat untuk memulai hari dan menjemput rezeki.
“Siratallazina an’amta ‘alaihim gairill-magdubi ‘alaihim wa lad-dallin,” ucap Pak Maliq.
Tak ada jawaban. Ini adalah hari kelima tak terdengar suara amiin setelah surat Al-Fatihah dilantunkan imam.
Suara parau terdengar dari mulut Pak Maliq ketika melantunkan ayat 18 dari surat ke sembilan. Suaranya kemudian tertahan. Setitik air menggenang di ujung kedua matanya, hendak menjatuhkan diri. Punggungnya yang ringkih bergetar. Kesepian kembali bersarang di pojok masjid. Sesekali menertawakannya.
Jember, 15 Oktober 2023
===
*Sigit Candra Lesmana adalah pria kelahiran Jember, 12 Maret 1992. Saat ini bekerja sebagai penulis lepas. Senang menulis artikel, cerpen, dan puisi. Aktif berkegiatan di Forum Lingar Pena cabang Jember dan Prosa Tujuh. Instagram: @sigitcandral.