LiteraSIP

6 Juli 2025

Warung Makan Pak Warag

Oleh Sri Romdhoni Warta Kuncoro*

 

 

Keriuhan menggurita di warung makan sederhana Pak Warag. Decap mulut bersahutan di antara denting alat-alat makan. Seperti orkestra di panggung pertunjukan. Sangat alami ketika menyusuri lekuk-lekuk kursi panjang berpasangan dengan meja kayu tebal.

Warung itu telah lama menjadi sandaran berbagai kaum, terutama kaum kesrakat yang penuh rasa cinta. Padahal, lokasinya lumayan mblusuk, jauh dari jangkauan apa yang di sebut “modernitas”. Yang di maksud modernitas di sini, segala hal yang dapat meracuni kenyamanan hidup para penikmat kelambatan. Di pinggir sebuah desa, dengan jalan yang dapat di lalui mesin motor.

Keramahan pak Warag sudah kondang seantero komunitas kaum akar rumput. Bisik-bisik yang mengemuka di antara pengunjung warungnya tertangkap rasa syukur nan elok.

“Beruntung, kita masih menemukan warung ini.”

“Ya, benar. Kantong kita bisa di kondisikan karena kebaikan Pak Warag.”

Wajah-wajah nestapa akan lenyap apabila memasuki warung itu.

“Pak Warag baik, semoga diberi kesehatan serta umur panjang.”

“Bolehkah pesan setengah porsi, Pak?” ucap seseorang.

“Sangat boleh. Di tunggu sebentar, ya.”

Dengan senyum sumringah, Pak Warag mewujudkan permintaan itu. Istrinya pun sama, melayani para pengunjung dibantu Mbak Jum yang lincah tangan dan kakinya.

Kelebihan mulut adalah mampu mengeluarkan segala kalimat bersama indikasi. Bertahun-tahun warung Pak Warag telah menyelamatkan ribuan perut kaum-kaum tak beruntung. Bahkan kaum menengah pun mengerubuti.

“Masakannya masuk selera saya,” kata pelanggan dari sepuluh kilometer. “Walaupun jauh, tetap aku datangi.”

“Tempatnya mendukung,” timpal lainnya.

“Kerindangan pohon dengan tanaman penyerta mendongkrak taste masakan,” sambung yang lain juga.

Lepas dari itu semua, sebenarnya, episentrum keramaian warung Pak Warag adalah kemurahan hatinya. Seperti mutiara, jauh  dari dasar laut, namun kilaunya menembus permukaan.

 

Suatu hari, anaknya yang merantau, pulang ke warung Pak Warag. Wajah pasangan tersebut berbinar-binar.

“Ka, kamu sehatkan?” Dipeluknya Jaka guna menumpah rasa kangen.

“Sebagaimana yang bapak lihat”

“Bagaimana pekerjaanmu?”

“Ya, begitulah, Pak…”

Lama tak bersua, rasa kangen menenggelamkan kerinduan serta lelah batinnya.

“Apakah kamu libur?” tanya pak Warag.

Jaka mengangguk. “Libur saya akan cukup lama, Pak,” katanya penuh rahasia.

Selama beberapa hari berada di rumah masa kecil, Jaka kerap memperhatikan keadaan warung.

“Sungguh kontras dengan kehidupan di luar sana. Betapa ramainya, bahkan sampai antre,” batinnya. Kepala Jaka mengangguk-angguk. Ada keheranan yang terselip. “Apa pemicunya?”.

Semua yang dijual selalu habis. Sejak kokok ayam jantan menyambar di terbit fajar, kesibukan menumpuk tak berkesudahan. Silih berganti permintaan menyorotkan hasrat perut-perut keroncongan.

Wajah Jaka berkerut. Ada ketidakcocokan dihatinya dengan cara bapak memperlakukan sumber pendapatan.

“Ini tidak tepat. Bapak harus di beritahu.”

Ketika waktu luang terbentang dan santai mendapatkan tempat, Jaka mengobrol tentang kekuatirannya pada bapak.

“Apakah bapak belum tahu kondisi negara ini?”

“Maksudmu apa, Ka?”

“Negara kita sedang tidak baik-baik saja. Krisis ekonomi mencengkeram”, kata Jaka. “Sektor ekonomi sedang terpuruk. Apa-apa mahal. Daya beli masyarakat menurun. PHK di mana-mana.”

“Hubungannya dengan kita apa?” Pak Warag jenis manusia polos. Ada cacat sedikit pada kedua telinganya akibat peristiwa masa lalu. Jadi, untuk menangkap bunyi, biar didengar harus meninggikan suara. Selama ini, dia tidak pernah terkontaminasi oleh berita-berita dari luar. Hidupnya hanya fokus pada warung makannya.

“Begini, Pak,” helaan napas menandakan rasa keprihatinan Jaka.  “Cara Bapak berjualan sepertinya harus dibenahi. Tidak bisa begini seterusnya.”

Jaka menjabarkan apa yang sebenarnya sedang melanda negara serta dampak ekonomi.

“Pantas saja orang berduyun-duyun ke sini. Ternyata makanan yang bapak jual terlalu murah. Terus, untungnya berapa?”

Akhirnya, Jaka mengubah semua aturan yang selama ini diterapkan. Semenjak itu, muka-muka terperanjat menyembul ketika tagihan diucapkan. Beberapa orang tersedak manakala membayar.

Akibatnya, warung Pak Warag berangsur-angsur sepi. Satu per satu, pembeli meninggalkan dengan muka masam bergurat nestapa. Beberapa pelanggan yang lain masih menerima, tapi lebih banyak yang tertunduk kecewa. Banyak makanan yang menjadi basi, bahkan berakhir jadi sampah di lubang di kebun belakang. Biasanya jam dua belas siang kelar, kini hampir jelang senja baru tutup warung. Klimaksnya, Jaka memecat Mbak Jum. Janda beranak dua itu pucat pasi. Tidak menyangka tonggak hidupnya dirampas secara tiba-tiba.

“Pak Warag, benarkah ini?” wajah memelas perempuan 40 tahun menusuk nurani pak Warag.

“Pulanglah dulu, Mbak Jum. Nanti di rumah kita bicara lebih mendalam,” bujuk Pak Warag.

Langkah kaki Mbak Jum gontai bersama hujan air mata.

“Bapak tidak cocok dengan caramu, Ka,” Pak Warag mencoba hati-hati berbicara dengan anaknya. “Tindak tandukmu mengatur warung ini tidak bisa di mengerti.”

“Ini namanya efisiensi, Pak. Saya lulusan perguruan tinggi, tahu betul seluk beluk ilmu ekonomi. Saya ingin warung ini dibenahi agar menghasilkan pendapatan sesuai dengan rasa lelah serta waktu yang diputar. Percayalah pada anakmu ini, Pak,” tekanan kalimat Jaka tandas, membuat hati yang mendengar menjadi mudah rapuh.

Pak Warag hanya terdiam. Ia tidak terima melihat kesedihan orang-orang setianya. Kekesalan hatinya melekat berat terikat amarah.

Pada pagi yang lain, sebagaimana biasa setelah kokok ayam menjerit parau. Ritual sebelum membuka warung adalah makan bersama. Hal itu dilakukan sudah dari dulu. Rogo kuwi kudu di ragati, ben bakoh –  raga itu harus dibiayai-kasih asupan-, biar kuat. Itu falsafah Pak Warag. Meja persegi menjadi hidup oleh keluarga kecil tersebut.

“Makan yang banyak, Ka,” Bapak menyodorkan semangkok soto ke hadapan Jaka Pratama, anak angkatnya.

“Tidak usah repot-repot, Pak. Saya bisa ambil sendiri.”

“Tidak apa-apa. Lama Bapak tidak melayani kamu,” ujar pak Warag. “Ini mengingatkan akan masa kecilmu.”

Semerbak gurih menggelantung di udara, beraroma rempah menyatroni lubang hidung. Kuah soto itu sangat kental, menggugah selera, bersama guyuran bawang goreng di atasnya.

Isterinya cekatan meletakkan mangkok lain pada tempat biasa. Di meja itu hamparan lauk pauk lebih dari cukup. Jaka dengan lahap menghabiskan semangkok soto ditemani renyahnya tempe goreng bersama kerupuk udang. Sungguh nikmatnya menciptakan sensasi berbayang. Segelas teh manis hangat digelontorkan supaya alur tenggorokan lapang. Sendawa meletup di akhir. Napas panjang di hela untuk mengatur kenyamanan.

Beberapa saat kemudian, tangannya gemetar disusul tubuh kejang. Matanya melotot sembari memegang batang leher. Mulutnya berbusa, meracau bak kena demam kemudian terjengkang dengan didahului kepala menghantam pinggiran kursi, menggelepar-gelepar di lantai. Suara dengus mirip kerbau disembelih keluar dari mulut. Pak Warag dan Istrinya membiarkan kondisi tersebut.

“Gara-gara ilmu ekonomi yang kau pelajari, warung bapakmu jadi berantakan.”

Racun celeng super yang ditaburkan mengantarkan sarjana ilmu ekonomi menemui malaikat Izroil. Mayat itu diseret kemudian dikubur di kebun belakang. Beberapa tumbuhan ditanam di atasnya sebagai kamuflase. Setelah semuanya selesai, warung kemudian dibuka seperti biasa.[]

 

===

*Sri Romdhoni Warta Kuncoro, mantan ojek online(ojol) yang punya hobi mancing ikan dan membaca buku. Beberapa tulisannya(artikel, puisi, cerpen) pernah di muat di media cetak dan online. Cerpennya ‘Jejak Sang Empu di Keheningan Solo’ masuk dalam 25 cerpen terpilih #nulisIndonesiana(2019)-storial.co dan Indonesiana(platform kebudayaan). Sekarang berdomisili di kota Solo.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *