12 Mei 2024
Puisi-Puisi Andri Kurniawan
Oleh Andri Kurniawan*

Dalam Cahaya Senja
Di tepian sungai tua yang mengalir perlahan,
Terhamparlah kota tua dengan keanggunan senja.
Dinding-dinding batu berbicara masa lalu,
Memori terpatri dalam tiap retakannya.
Setiap sudut menatap dengan rahasia tersendiri,
Di balik jendela-jendela, cerita terpendam merayap.
Jejak langkah para leluhur terdengar samar,
Di antara reruntuhan dan bangunan yang usang.
Kota tua, tempat di mana waktu berhenti sejenak,
Menyaksikan pergantian zaman dengan heningnya.
Namun, di dalam diamnya, kehidupan terus berdetak,
Sebuah legenda yang tak pernah pudar.
Sidoarjo, 2024
Awan Kelabu
Awan kelabu menyelimuti langit kota tua,
Seolah ingin menyembunyikan segala cerita.
Di bawah langit yang merana, jalanan sunyi,
Hanya derap langkah seorang yang terbiarkan berjalan.
Di tiap gang sempit, sejarah menari lambat,
Mengungkapkan rahasia yang terkubur dalam lekuk dinding.
Rintihan angin malu-malu merayap,
Menyentuh hati yang rapuh dan usang.
Kota tua, bagai perahu yang terdampar di tepi waktu,
Memandang masa lalu dengan tatapan pilu.
Namun, di antara reruntuhan dan kesunyian,
Tetap ada kehidupan yang menyala, walau redup.
Kebumen, 2023
Jendela Kuno
Di balik jendela kuno, cerita terpampang,
Menyambut mata yang haus akan petualangan.
Dari sudut ke sudut, panorama sejarah terhampar,
Seolah memanggil untuk dikenang kembali.
Jalanan berkerut, memori terukir dalam setiap batu,
Mengalir seperti air di sungai zaman yang tak pernah kering.
Kota tua, kau seperti buku terbuka yang usang,
Namun di dalamnya tersimpan harta yang tak ternilai.
Di setiap lorong, aroma masa lalu menguar,
Menyentuh jiwa yang haus akan nostalgia.
Kota tua, kau adalah pelukis yang merenda,
Mengabadikan keindahan dalam kerapuhanmu.
Surabaya, 2024
Cahaya Pagi
Di bawah sinar matahari pagi yang lembut,
Kota tua terbangun dari tidurnya yang panjang.
Warna-warni kehidupan mulai memercik,
Menghidupkan kembali ruang-ruang yang sunyi.
Pedagang berjalan dengan langkah bersemangat,
Menyapa bangunan-bangunan dengan senyum ceria.
Anak-anak riang berlarian di antara gapura-gapura,
Membawa kehidupan ke dalam kisah yang terlupakan.
Kota tua, kau seperti lukisan yang hidup,
Mengalir dengan keindahan yang abadi.
Meskipun usiamu telah bertambah tua,
Namun semangatmu tetap muda dalam setiap detak.
Malang, 2024
Bangunan Cinta Lama
Di antara gemerlap kota yang ramai,
Tersembunyi sebuah bangunan tua yang sunyi.
Dindingnya yang retak, mengisahkan kisah cinta,
Yang bersemi di antara batu-batu usang.
Bangunan itu seperti penjara yang memeluk,
Mengunci kenangan dalam tiap ruangnya.
Di lorong-lorong gelap, bayang-bayang masa lalu,
Berdesir perlahan, mengisi hampa yang tercipta.
Dulu, di sini, cinta itu tumbuh subur,
Seperti bunga-bunga mekar di kebun rahasia.
Di bawah langit senja yang merah jambu,
Mereka bersatu, tak terpisahkan oleh waktu.
Namun, seiring berjalannya musim dan angin,
Cinta itu seperti bunga yang layu dan gugur.
Puing-puing kebahagiaan berserak di lantai,
Meninggalkan hanya kenangan yang menyayat hati.
Tetapi bangunan itu tetap berdiri tegak,
Menjadi saksi bisu dari segala keindahan dan kesedihan.
Tiap sudutnya menyimpan cerita yang mendalam,
Sebuah perjalanan cinta yang takkan pernah padam.
Di malam yang sunyi, sering kali terdengar,
Desiran angin yang menyapa dinding-dindingnya.
Seakan memanggil, mengajak untuk terlelap,
Dan terbangun dalam mimpi-mimpi yang lama terlupakan.
Bangunan cinta lama, kau adalah simbol keabadian,
Meskipun cinta itu sendiri telah lama sirna.
Dalam reruntuhanmu yang hancur dan rapuh,
Masih tersimpan api yang tak pernah padam.
Mungkin suatu hari, di tengah reruntuhan ini,
Akan tumbuh kembali bunga cinta yang subur.
Dan bangunan ini akan kembali bercahaya,
Menjadi saksi dari kisah cinta yang baru.
Jombang, 2024
===
*Andri Kurniawan, lulusan Politeknik Negeri Jember Program Studi D3 Manajemen Agribisnis. Sejak lulus dari SMA, ia tertarik dengan jurnalistik dan tulisan-tulisan sastra.