LiteraSIP

19 Mei 2024

Mendung

Oleh Sigit Candra Lesmana*

 

 

Priuk itu berteriak ketika Mak membuka penutupnya. Mak melongo ke dalam hingga wajahnya tertelan mulut priuk yang terbuka lebar, gelap dan kosong. Hanya suara gesekan sendok batok kelapa dan priuk berbahan tanah liat yang terdengar ketika Mak mengais-ngais dasarnya. Tangannya lalu terhenti, Mak menatap lekat-lekat priuk itu dengan cemas.

Dengan bergegas, Mak kemudian berjalan meninggalkanku seorang diri yang sedang meletakkan kayu bakar di dapur. Entah akan menuju kemana, Mak tampak begitu terburu-buru. Berselang satu jam, Mak kembali dengan membawa sekantung beras, dan sebuah tas kresek hitam berisi beberapa potong daging ayam, beberapa bawang putih, bawang merah, cabai, ranti, sepotong kecil terasi, seplastik bumbu kuning basah, garam, micin, seplastik minyak goreng, dan dua batang serreh.

Usai menaruh barang bawaannya di atas lincak, Mak langsung memerintahkanku menyulut api di tumang.

“Kita makan enak malam ini, Mak? Dapat uang dari mana?” aku antusias sekaligus keheranan dengan barang bawaan yang dibawanya.

“Sssttt..,” Mak menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.

Setelah api membesar, Sebuah dandang alumunium kutelakkan di atas tunggu, sedangkan di atas tungku satunya, sebuah panci berisi air bertengger di atasnya. Mak menyuruhku untuk memasukkan beras yang sudah dicuci bersih ke dalam dandang yang telah mendidih airnya. Sedangkan Mak memasukkan potongan daging ayam bersama bumbu kuning basah dan dua batang serreh yang telah digeprek.

Buih mulai keluar dari celah kecil antara badan dandang dan penutupnya setelah beberapa saat, pertanda tak lama lagi nasi di dalamnya akan matang. Di sisi lain, panci berisi daging ayam masak kuning sudah diangkat lalu ayam yang sudah menguning itu ditiriskan.

Sebuah wajan lalu diletakkan di atas tunggu yang kosong, menggantikan tempat panci yang sudah diangkat tadi. Mak lalu menuangkan semua minyak goreng dalam plastik ke dalam wajan. Menunggu minyak goreng itu panas merata, Mak lalu memasukkan ayam yang telah ditiriskan dan menggorengnya hingga berwarna kecoklatan. Aroma rempah dan rimpang menguar di dalam dapur, membelai-belai indra penciumanku. Hampir saja air liurku menetes. Perutku yang sudah keroncongan sedari tadi menjadi semakin berisik mendendangkan irama lapar.

Nasi di dalam dandang telah matang. Aku memindahkan nasi tersebut ke dalam bakul agar nasi segera dingin. Mak nampaknya juga telah selesai menggoreng semua ayam. Segera dia menggoreng beberapa cabai, ranti, dan terasi. Beberapa saat bermandikan minyak mendidih, cabai, ranti, dan terasi itu diangkat. Dengan cekatan Mak menguleknya di dalam cobek bersama sejumput garam dan micin.

Dia lalu menyiapkan beberapa bak kecil berbahan plastik dan menata nasi serta lauk di dalamnya. Dari sini aku mulai curiga. Makanan mewah yang telah dimasak ini bukan untuk kami makan sendiri.

“Ini untuk apa, Mak?” Tanyaku penasaran.

“Untuk selametan di langgar[1], Bing[2], besok kan sudah puasa,” ucap Mak sembari tangannya terus bekerja dengan cekatan.

“Bukannya kita tidak punya apa-apa, Mak, dapat uang dari mana?”

“Tadi pinjam ke Pak Samsul, untung dikasih,” ucap Mak sembari tersenyum tawar.

Aku menghela nafas. Apa yang kukhawatirkan ternyata benar adanya. Pak Samsul, terkenal sebagai lintah darat di kampung ini. Memang dia tidak sesadis lintah darat yang diceritakan dalam sinetron-sinetron hikmah, tapi tetap saja yang namanya lintah darat pasti menghisap darah warga dengan bunga pinjaman yang tinggi.

“Untuk apa sih, Mak?”

“Untuk selametan, Bing. Kan Mak sudah bilang.”

“Iya, tapi untuk apa selametan itu, Mak?” Aku semakin gusar.

Mak tetap dengan sigap dan lihai menata nasi dan lauk-pauk. Kali ini di bak plastik yang kedua. Setelah itu, kedua bak plastik yang telah terisi itu dibungkus kresek hitam. Mak lalu mengikat kedua pegangan kresek. Wadah plastik yang telah terisi itu tertutup dengan sempurna.

“Besok sudah bulan puasa, Bing. Kamu tidak dengar apa kata Pak Kiai. Kita harus menyambut bulan puasa dengan hati gembira. Allah mengharamkan api neraka bagi siapa saja yang menyambut Ramadan dengan hati gembira,” ucap Mak sembari menirukan ucapan Pak Kiai di pengajian beberapa waktu yang lalu.

“Tapi, selametan kan tidak wajib, Mak. Apalagi bagi kita yang untuk makan sehari-hari saja susah.”

“Memang tidak wajib, tapi ini sudah menjadi tradisi.”

Baru saja hendak kubantah, aku teringat petuah Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang disampaikan Pak Ustaz. “Jangan gunakan kefasihan bicaramu (mendebat) di hadapan ibumu yang dahulu mengajarimu bicara,” ucap Pak Ustaz.

Aku memilih untuk diam, tak enak hati rasanya jika aku terus membantah Mak meskipun ada gemuruh yang belum usai di dada. Bagaimanapun, dia adalah ibu yang tentunya sudah banyak berjasa dalam hidupku. Ibumu, Ibumu, Ibumu.

“Ini sebagai wujud kegembiraan kita dalam menyambut bulan Ramadan.” Seutas senyum yang tulus melintang di wajahnya. Tapi, di kedua matanya kulihat awan mendung yang sangat kelam bersarang di sana.

“Apa Mak benar-benar bergembira?” kata-kata itu meluncur begitu saja seperti sebuah anak panah yang langsung menerjang lurus ke arah dada Mak dan menusuk hatinya.

Mak lalu menatapku lekat-lekat dengan matanya yang sayu. Sekali lagi, kali ini dengan terpaksa seutas senyum kembali dilemparkannya untuk meyakinkanku bahwa dirinya benar-benar bergembira. Namun, tetap saja awan mendung di mata Mak tak mau beranjak dan bayangan Pak Samsul yang sedang membawa buku bon bergelantungan di bawahnya.

 

*) Jember, 3 Ramadan 1445 H

 

[1] Musala

[2] Cebbing, Bahasa Madura, julukan untuk perempuan yang lebih muda atau anak perempuan.

 

===

*Sigit Candra Lesmana adalah pria kelahiran Jember, 12 Maret 1992. Saat ini bekerja sebagai penulis lepas. Senang menulis artikel, cerpen, dan puisi. Beberapa cerpennya memenangkan lomba dan diterbitkan di beberapa media seperti Janang.id, Kedaulatan Rakyat, Suara NTB, Kurungbuka.com, Sastramedia.com, dan Langgampustaka.com. Aktif berkegiatan di Forum Lingar Pena cabang Jember dan Prosa Tujuh.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *