LiteraSIP

25 Agustus 2024

Ketukan Pintu

Oleh Muhammad Faisal Akbar*

 

 

Laju mobilnya tertahan ombak perkotaan. Dlobaone, lelaki bertampang garang dengan kulit cokelat kemerah-merahan, duduk di jok belakang sambil merengut masam. Lengkingan Rod Stewart yang menggebu-gebu di radio menyertai pikirannya yang pening. Tanpa sepengetahuannya, Mercedes putihnya telah tiba di garasi rumah.

Semua kekalutan itu berawal sejak tiga hari lalu, ketika sekretaris memberi tahunya bahwa ada teman lama yang terus menelepon dan ingin bertemu. Peristiwa itu berlangsung nyaris tanpa jeda. Namun, Dlobaone enggan menerimanya, sebab dirinya tak memiliki seorang teman bernama Amer. Lebih tepatnya, Amer Djojonegoro.

Di lain pihak, Dlobaone juga tak punya selingkuhan laiknya para sejawat. Betapa ngeri dirinya membayangkan ada perempuan nekat yang menelepon kantor dan mengaku-ngaku telah bermain cinta dengannya. Di antara renungannya yang makin kosong, sebuah ketukan pintu membuatnya bergidik seketika.

“Tuk, tuk,” ketukan itu bernada lirih.

“Siapa yang ingin bertamu malam-malam begini?” bisiknya dalam hati.  “Atau jangan-jangan ada maling? Mana ada maling yang paham tata krama? Penagih utang pun mustahil, karena seluruh cicilan baru dibayar kemarin lusa.”

Isi kepalanya makin runyam, menerka-nerka segenap kemungkinan yang dapat terjadi. Masih dengan rasa penasaran, Dlobaone sontak beranjak perlahan dari tempat tidur. Maka, sembari berjingkat, ia meraih sebuah stik golf di pojok ruangan, memutar gagang pintu kamar dengan lembut, kemudian melangkah lambat-lambat ke pintu depan.

Lantas, Dlobaone berdiam diri tepat di sisi pintu untuk sekian detik, menunggu hingga suara itu muncul kembali. Apakah itu cuma bunyi dahan jatuh? Dlobaone mundur beberapa depa, berusaha menyalakan lampu ruang tengah.

“Tuk! Tuk!” ketukan itu datang lagi, kali ini lumayan nyaring. Dlobaone curiga, orang di balik pintu itu menyadari di mana ia berdiri.

“Siapa?” sergah Dlobaone dengan suara yang agak dikeraskan.

“Kawan lama,” balas suara itu halus.

“Hem, siapa?”

“Amer. Amer Djojonegoro. Masa, lupa? Sudahlah, tolong buka pintu ini dulu. Aku tidak mau macam-macam, kok.”

“Buktinya? Hati-hati, Bung, ada pistol di sini.”

“Ah, kamu ini sudah banyak berubah ya, Dlob.”

Dlobaone terperangah. Tidak ada yang memanggilnya lagi dengan sebutan itu semenjak lulus kuliah. Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir, ia hanya disapa One. Kendati begitu, ia tetap saja bersikukuh bahwa nama Amer Djojonegoro tidak pernah ada dalam daftar pertemanannya.

“Tidak kenal. Kamu pasti orang yang sejak tiga hari lalu menelepon ke kantor, kan?” tanya Dlobaone, masih waspada, mengingat maraknya aksi kriminal yang dilakukan lewat hipnotis.

“Betul! Habis, aku tidak punya nomor ponselmu. Aku juga tahu nomor telepon tempat kerjamu dari LinkedIn. Jadi jangan salah sangka, aku tak berniat menyakitimu apalagi keluargamu. Sumpah! Jadi, mohon bukakan pintu ini dulu. Di luar sini dingin, tahu!” sambut Amer Djojonegoro.

“He, kalau memang aku abai, coba beri tahu siapa dirimu. Atau empat peluru pistol ini bakal menembus pintu lalu melukaimu,” bentak Dlobaone dengan suara yang lebih tinggi. Stik golf mulai bergetar di pucuk jemarinya.

“Sabar, Dlob! Tanpa kuberi tahu pun, kamu nanti pasti ingat. Apa kamu lupa malam itu, tatkala kamu sedang berkumpul di indekos milik koncomu dulu?” cerocos suara itu.

Dlobaone mengernyitkan dahi. Keringatnya bermunculan di sekujur punggung. Pria jangkung itu bungkam seribu bahasa, memberi ruang kepada orang asing di luar untuk berbicara.

“Waktu itu kalian tengah asyik berdiskusi. Sayang sekali, aku tak mengerti apa yang kalian obrolkan. Pokoknya, sesuatu yang serius! Sampai-sampai temanmu menumpahkanku ke celanamu,” sahut suara itu tipis-tipis.

Dlobaone belum juga bergeser dari tempat semula. Suasana masih sepi, rintik air mulai terdengar di atas genting. Malam pun semakin gamang, dan suara itu lanjut bercerita.

“Masih tidak ingat juga ya? Coba pejamkan matamu. Sudah? Bagus. Kala itu, rintik air hujan membasuh jalanan, tapi betapa senangnya diri ini saat kamu menjemputku—seperti biasa—di dekat pasar. Tahun itu merupakan salah satu yang terpenting bagimu. Bisa kuamati wajahmu yang keruh karena belum lagi tidur. Apa kamu tidak menyadari bahwa aku berada persis di sampingmu?”

Masih sunyi, hanya tebersit setitik bunyi yang mengikuti semilir angin. Rintik air kian berdenting dengan saksama, berharap agar diperhatikan.

“Dlob, aku memang tak semudah itu untuk diingat, lebih-lebih bila dibandingkan dengan semua mantan kekasihmu dulu! Hehehe. Yah, paling tidak kini aku sudah merasa lega mengetahui istrimu adalah seorang yang setia. Atau perlu kuberi tahu istrimu ketika kamu menangisinya semalam suntuk? Terus terang, aku sempat khawatir tidak ada yang sudi mendampingimu,” ujar suara itu sambil terkekeh.

Gemetar kaki Dlobaone beringsut surut. Matanya masih menatap lurus ke arah pintu, menjaga tubuhnya senantiasa sigap.

“Nah, dengar baik-baik bagian cerita yang ini! Apa kamu ingat momen saat badanmu tergeletak lemas setelah menegukku dengan brutalnya? Rambutmu basah terkena muntahanmu sendiri. Hahaha!” katanya terus berseloroh.

Keadaan semakin lengang. Lelaki yang dipanggil “Dlob” itu mengatur napas sedemikan rupa, tiada sepatah kata pun yang menyembul.

“Dlob, kamu betul-betul sudah berubah, ya. Aku masih ingat, dahulu, kamu dan kawan-kawanmu itu paling benci sama yang namanya pistol. Masa, kamu lupa? Malam itu—tepat hari ini, bertahun-tahun silam—kalian mengeluarkan sebutir peluru yang menancap di betis kiri salah seorang kawan. Siang harinya, kalian berdemonstrasi dan berujung ricuh. Asal kamu tahu, aku berada tepat di dalam tasmu. Sejujurnya, sedih juga rasanya tak bisa ikut membantu. Maafkan aku, ya?” tutur Amer Djojonegoro, nuansanya terasa getir.

Tanpa sadar, stik golf merek Callaway yang melekat erat di genggamannya merenggang. Dlobaone bisa merasakan gema percikan air di luar telah menyusup melalui sela-sela pintu entah dari kapan.

“Tidak masalah kalau kamu tidak mau membukakan pintu, sungguh! Aku tidak marah padamu. Aku cuma kangen saja, kok. Kerinduan itu penyakit, adakalanya mesti diobati dengan perjumpaan. Terkadang aku berandai-andai, apa kita bisa berteman seperti dulu lagi?”

Lelaki bernama Dlobaone itu, yang sedari tadi mematung, kini mencicipi air matanya yang menetes gontai di sudut bibir.

“He, maaf ya kalau aku bertele-tele. Aku hanya berpesan, jangan lupa dari mana kamu berasal. Manusia mustahil menghapus jejaknya untuk pulang. Yah, sampai berjumpa lagi, Dlob!” ucap Amer Djojonegoro merampungkan kalimatnya.

Pintu dikuak lebar-lebar. Suara itu lenyap dilahap kegelapan. Dlobaone kelimpungan. Sejurus kemudian, pandangannya tertuju ke bawah, pada sebotol anggur merah berisi penuh dan secarik kertas mungil yang tersampir di sumbat gabusnya:

La vie est trop courte pour boire du mauvais vin.

Hidup ini terlalu singkat untuk minum anggur yang buruk.

Hujan sekonyong-konyong berlindung di balik langit subuh. Dlobaone menghela napas, memandangi genangan yang bercampur embun.

 

===

*Muhammad Faisal Akbar lahir di Jakarta dan merupakan lulusan Hubungan Internasional yang menyukai sastra, komedi, dan sepak bola indah. Sejumlah karyanya terbit di berbagai media. Penulis dapat dijumpai melalui Instagram @icalbar.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *