LiteraSIP

1 Desember 2024

Markus

Oleh Maulidan Rahman Siregar*

 

 

Aku tidak menduga sama sekali kalau Markus ternyata masih Kristen. Ia datang pada minggu ke-2 Ramadan, ikut puasa, dan, meski salat sendiri, ia kelihatan beberapa kali salat di rumahku. Khusyuk, dan tumakninahnya bagus. Mirip orang salat betulan.

Sepengetahuanku dari mantan instrinya yang manis, Markus dulunya memang Kristen, menjadi Islam karena menikahi seorang perempuan –si perempuan manis itu. Ia merantau jauh ke negeri yang belum pernah ia datangi, dan berhasil mendapatkan perempuan itu saat kuliah di Univeritas yang belum pernah ia sebutkan kepadaku. Ia kuliah pada jurusan yang tak penting-penting amat, Sastra Indonesia.

Ia datang ke rumahku untuk mengakali gabutnya yang hebat setelah ia bercerai dengan istrinya itu. Gabutnya yang hebat itu ingin ia akali dengan banyak belajar sastra dan agama. Setibanya di rumah, ia sempat mengajakku pergi ke gereja dekat sini untuk menyerahkan injil yang ia bawa ke mana pun itu, tapi kusarankan padanya untuk tak perlu repot menyerahkan injil. Di gereja mungkin sudah ada beberapa, biar kau simpan saja di sini, kebetulan rumah ini juga belum pernah disinari cahaya injil. Aku hanya pernah membaca beberapa keping ayat, kataku. Ada beberapa ayat injil yang menjadi favoritku, kata-katanya indah, puitik, meski Markus tak pernah kelihatan peduli amat dengan ayat favoritku itu.

Di rumah, Markus memang seperti Islam. Sangat mirip, hanya jubah yang tidak ia kenakan. Sahur dan berbuka dengan makanan pemberian sekolah tempatku mengajar yang kulebihkan untuknya. Menyantap sahur dan buka, ia tengadahkan tangan, dan mengucap basmalah dengan lembut. Merokok pun ia hanya malam, itu pun rokok murah yang khusus kubelikan untuknya. Kadang, ia sambar juga rokok milikku, dan aku relakan. Perkara gampang saja itu.

Ia ikut merapikan rumah, kusuruh mencuci piring dan gelas ia mau, menyapu, dan mencuci bajunya sendiri pun ia rapi. Tidak banyak juga yang bisa ia kerjakan, dan bagiku, itu tidak amat penting juga. Rumahku itu juga sebenarnya sering kosong, aku lebih sibuk dengan urusan-urusan di sekolah. Jujur, aku ke rumah hanya buat mandi, dan berak belaka.

Hanya sekitar belasan hari Markus bertahan di rumah. Ia tak kunjung dapat kerjaan. Sudah kusarankan ia untuk keliling komplek mencari pekerjaan, menawarkan apa yang ia punya ke warung-warung di depan jalan raya. Atas penuturannya, ia bilang kalau ia memang sudah keliling dan mencoba menawarkan diri ke warung-warung. Aku sih percaya saja. Memang, belakangan susah jadi pekerja. Markus sadar kalau ia bukan pekerja, ia penyair, yang kebetulan sekarang lebih sering murung saja.

Sudah kusarankan juga Markus ke Padang, mencari kerja ke kantor pos, namun ia tidak mau.

Ia belum terlalu akrab dengan Padang. Baginya, seperti kebanyakan masyarakat umum berpendapat, Padang punya berjuta manusia pelit, jarang berbagi, dan rumahnya lebih sering tutup.

Ini kali pertama Markus datang ke kota ini, dan di rumahku. Ia yang pertama kali membuka dua buku Gabo yang bahkan setelah kubeli, belum ada niat membacanya. Bukan tidak ada niat sebenarnya, hanya saja, aku memasang standar pada kepalaku, ketika aku rasanya belum sanggup membaca buku, bukunya hanya akan kubeli saja. Aku perlu menyiapkan diri dan tentu saja, waktu yang banyak untuk sebuah buku.

Pernah kubaca artikel yang ditulis penulis Amerika Latin yang bilang kalau seluruh buku yang kau beli, tidak harus kau baca. Beli saja dulu, setidaknya itu adalah bentuk dukungan pada dunia perbukuan. Anjay.

Buku Gabo itu yang barangkali bikin Markus berani bilang kalau ia dapat pekerjaan. Ia memintaku menyuruhnya ke sana. Ke suatu tempat yang katanya menawarkan jasa kurir pengiriman barang. Kata Markus, ia dapat rekomendasi dari temannya, bahwa jasa pengiriman loket ini sedang butuh pegawai buat mengangkat barang-barang dan packing.

Alhamdulillah, Markus akhirnya dapat pekerjaan. Tapi setelah kuantar ia ke sana, bagiku, itu hanya loket.

Markus mungkin mengira kalau aku berhasil ia kelabuhi, ia mengira kalau aku sebenarnya padahal sebenarnya aku tahu, sebenarnya ia sudah tidak tahan di rumah, dan ingiin kembali ke tempat asalnya, di Palembang. Ia ingin pulang belaka, mungkin gabutnya telah selesai. Tak banyak juga yang bisa ia lakukan di sini, dan 2 minggu di kota lain barangkali cukup.

***

Aku masih saja pura-pura tidak tahu, dan sesekali bertanya keadaannya. Markus sendiri yang bilang kalau ia sudah tak lagi di kota ini, setelah 2 Minggu berikutnya.

Bagiku imbang. Aku ia lukai dengan keyakinannya. Dan ia (mungkin) terluka setelah sebenarnya aku tahu, sebenarnya ia ingin pulang, tapi bingung cara bilang. Gelagatnya ingin pulang itu sebenarnya sudah saya ketahui sejak ia bilang kalau dua

Sekarang Markus yang kutahu, adalah Markus yang Kristen. Yang setiap hari membagikan potongan-potongan ayat injil, di status WhatsApp-nya. Tentu, dengan sesekali ia sematkan emoticon dan gambar hati di bawah ayat injilnya.

Bagiku, Markus sekarang seakan lebih baik ketimbang ia jadi pura-pura Islam dahulu.

***

Aku lupa kapan persisnya dapat kabar dari Ica, mantan istri Markus bahwa sekarang, di tahun-tahun yang sulit ini, Markus sudah meninggal dunia. Tak lupa ia kirimkan gambar Markus yang sudah menutup mata itu sambil memeluk Injil yang ia bawa ke manapun itu. Gegas, aku mengucap istigfar.(*)

 

===

*Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang 03 Februari 1991. Menulis puisi, cerpen dan artikel musik. Bukunya yang telah terbit, Tuhan Tidak Tidur atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (2018), dan Menyembah Lampu Jalan (2019).

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *