22 Juni 2025
PAKET JENAZAH DARI KOTA X
Oleh Riska Widiana*

“Dalam beberapa tahun ini, kasus pembunuhan di kota X meningkat, dari perkiraan. Setelah mengadakan survei lapangan minggu lalu, sekitar empat puluh kali peristiwa di kota X ini terjadi dalam satu bulan. Tidak ada kejelasan bagaimana kronologisnya. Sementara ini polisi dan pihak bersangkutan masih melakukan penyelidikan. Bagi Masyarakat di kota X harap waspada ketika berada di rumah atau pun di luar, pastikan anda tidak sendirian, laporan berita saya kembalikan.”
Klik, Natasha mematikan TV tua berukuran 21 inci. Ia menghela napas berat, seraya meminum setengah teh yang sudah hampir dingin dan menghabiskan sepotong roti yang tinggal seperempat, lalu teleponnya tiba-tiba berbunyi. Panggilan dari ibunya yang menanyakan kepastian Natasha untuk pulang.
“Pulang biar dijemput Papa, ya,” tawar Ibunya.
“Enggak perlu, Mama. Natasya sendiri saja. Minggu depan pasti pulang,” jawabnya menenangkan.
“Ya sudah, tapi tetap hati-hati. Mama cemas, katanya di kotamu …”
“Enggak, Mama. Tenang saja, itu bukan kota Natasya, tapi kota lain,” jawabnya memotong ucapan.
“Oh, ya sudah.”
“Tapi sebelum pulang, Natasya mau mengirimkan barang-barang dahulu. Biar lebih ringan.”
“Baiklah, ongkos kirimnya biar Mama yang bayar.”
Telepon mati. Ia kembali menatap hampa ke luar jendela, sambil menghembuskan napas berat. Terlihat ranting-ranting pohon mengering dan daun-daunnya berjatuhan ke tanah.
Korban terus berjatuhan dari hari ke hari. Ia sendiri cemas karena tinggal dalam apartemen sendirian. Sebenarnya Natasya hendak pulang lebih awal. Mengingat keadaan kota X terus mengalami peristiwa mengerikan, bahkan pelakunya belum terungkap.
Keadaan kota itu seperti kota mati. Biasanya siang atau pun malam, aktivitas tiada henti. Sungguh jauh perubahan terjadi, semenjak pembunuhan meningkat akhir-akhir ini, penduduknya lebih memilih berdiam di rumah, keluar seperlunya dan membeli keperluan dalam jumlah banyak. Itu pun tidak sendiri, minimal berdua biar aman.
Pembunuhan terjadi tidak hanya malam hari, bahkan siang hari pun demikian. Anehnya kejadian itu benar-benar tanpa diketahui oleh siapa pun. Hanya menyisakan jasad yang dikirim ke alamat-alamat si korban. Unik tapi mengherankan. Itulah alasan utama kenapa Natasya menunda kepulangannya karena tidak ingin mengundang kecurigaan sang Ibu.
Natasya nekat untuk tetap meninggalkan kota X meski dalam keadaan genting, karena hingga hari ini Ibunya tidak tahu perihal kejadian mengerikan itu. Ibunya hanya tahu bahwa kota X adalah kota lain yang dikatakan Natasya agar Ibunya tidak cemas. Alasan utama ia pulang juga karena kegentingan kota X kini seperti kota mati.
Pagi itu kota X benar-benar sepi. Kendaraan hanya terlihat satu-dua. Orang-orang berjalan seperti diikuti oleh penguntit, saling berpasangan dan tergesa-gesa.
Natasya tetap memasukkan barang-barangnya ke bagasi mobil. Tiba-tiba sebuah tangan memegang bahu dan membuatnya tersentak.
“Kembalilah ke rumah Nak, di luar tidak aman.” Seorang wanita tua bermantel coklat memperingatkan.
“Iya, Bu. Saya hanya ada beberapa keperluan.”
“Sebaiknya jangan sendiri, berdua lebih aman.”
Wanita tua itu lalu beranjak meninggalkan Natasya yang mematung. Ia terus berjalan seraya tidak melepas pandangannya pada Natasya. Entah tatapan seperti apa, Natasya sendiri tak mampu membaca apa yang ada di pikiran wanita itu.
Natasya beranjak meninggalkan halaman apartemen, mobil meluncur menuju bandara. Sepanjang jalan kota X, berita-berita terus disiarkan melalui televisi besar di sepanjang jalan, tentang pembunuhan itu tanpa ada yang memperhatikan. Layar-layar itu seperti berbicara pada batu-batu, bangunan bisu, dan jalanan yang lengang. Diinformasikanlah bahwa ada lima pembunuhan terjadi tadi malam, hal itu membuat Natasya bergidik. Ia menaikkan gas mobil untuk segera sampai ke bandara. Ia benar-benar ingin segera meninggalkan kota X ini.
Di bandara pagi itu, sambil menunggu jadwal penerbangannya, Natasya sempatkan menelepon ibunya dan mengabarkan akan berangkat sekitar setengah jam lagi. Selesai menelepon Ibunya, ia duduk sebentar, seraya melihat jam tangan. Ada sisa waktu sekitar 20 menit sebelum berangkat.
Natasya memutuskan ke toilet untuk menenangkan perasaan, sejak tadi malam tidak tidur nyenyak. Selalu dihantui tentang pembunuhan. Di dalam kaca toilet ia bercermin melihat dirinya sendiri. Jantungnya berpacu, napasnya memburu. Ia menghembuskan napas berkali-kali, agar tenang.
“Tenang, ya. Sebentar lagi kau akan meninggalkan kota ini. Hanya dalam beberapa menit lagi.” Ia menggenggam tangannya sendiri sambil menguatkan diri.
Di luar toilet terdengar pengumuman mengenai jadwal keberangkatannya yang sudah tiba, Natasya bergegas menuju pesawat. Tiba-tiba seorang perempuan tua yang ia temui beberapa jam di depan apartemen memegang tangannya.
“Kamu mau berangkat, ya. Mari kita sama-sama. Aku terlalu tua untuk naik ke pesawat. Kau bantu aku.”
Natasya awalnya tercengang, tapi ia lekas-lekas mengindahkan pikiran buruk tersebut. Ia membimbing wanita tua itu menuju pesawat
***
Amelia, ibunya Natasya mendapat telepon. Ia yang sedang memasak bergegas mengangkat.
“Ya, halo.”
“Ada kiriman paket atas nama Bu Amelia.” Terdengar suara perempuan agak serak, tegas dan kaku.
Amelia hendak menjawab, tapi sambungan telepon telah mati. Sejenak ia tertegun, seperti ada keanehan tapi cepat-cepat ia menampik pikiran yang tidak-tidak. Ia melanjutkan memasak di dapur sambil menunggu kabar dari Natasya.
Jam tiga sore, seharusnya Natasya sudah tiba. Amelia menatap cemas dari pintu rumah, sambil mengamati telepon. Tak lama masuk sebuah pesan tak dikenal.
“Paketnya sudah sampai, silakan diambil.”
Amelia beranjak ke halaman rumah. Ia menemukan sekotak besar. Lalu membawanya ke dalam, tapi terasa sangat berat. Karena tak kuat mengangkat, ia menyeret kotak besar itu ke dalam rumah. Awalnya ia mengira paket itu berisi barang-barang Natasya, karena merasa heran sebab terlalu berat.
Amelia membuka paket itu dan betapa kagetnya wanita itu! Jasad perempuan telah terbujur kaku, terbungkus kain putih.
Amelia bergetar, tak sanggup berkata-kata, air matanya tumpah. Jasad perempuan itu adalah Natasya. Ia menangis sejadi-jadinya sambil meraung-raung memeluk jasad putrinya tersebut. Tapi ada satu hal yang ganjil di jasad Natasya, sebuah kertas tergenggam di tangan kanannya. Amelia mengambil dan membacanya:
“Siapa pun tidak ada yang boleh kembali setelah memasuki kota X. Sebelum pergi dari kota X, ia boleh pergi jika ruhnya pulang ke langit, dan jasadnya akan pulang ke kampung halaman. Sudah menjadi takdir untuk siapa pun pulang dalam keadaan tak bernyawa. Di kota X tidak ada yang boleh hidup, dan kembali dalam keadaan bernapas.”
Tangan wanita itu meremas-remas kertas tersebut. Rasa amarahnya membara, tapi ia tak tahu kepada siapa, bahkan nama si pengirim tak tertera. Wanita itu hanya meraung seperti orang gila, beberapa warga mulai berdatangan untuk melihat apa yang terjadi.
***
Di bandara pada jam 09.30 WIB. Natasya bersiap akan naik ke pesawat, sebab jadwal penerbangannya telah tiba. Seorang wanita tua yang ia temui di depan apartemen meminta untuk naik ke pesawat secara bersamaan. Awalnya ia ragu. Karena terdesak waktu, ia langsung membimbing wanita itu untuk menuju pesawat, tapi alangkah malang, Natasya disekap oleh perempuan tua tersebut, dibawa ke tempat sepi pada sebuah gubuk tua, dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Dari sudut ruangan terdapat kalender tua. Perempuan itu melingkari angka lima puluh. Genap sudah angka pembunuhan dalam satu bulan. Ia tersenyum puas. Misinya berhasil. Sambil melihat Natasya yang sudah tak bernyawa di atas ranjang kayu. Semenjak itu kota X benar-benar sunyi, tidak ada lagi penduduknya.
Kematian Natasya adalah penutup dari kisah pembunuhan misterius tersebut. Sejak saat itu, kota X lenyap. Hanya sebuah hutan luas dan berita mengenai kota X masih disiarkan.
***
Riau, 2025
===
*Nama Riska widiana. 25 November 1997 berdomisili di Riau, Kabupaten Indragiri hilir. Alumni 1 Pondok pesantren Daarul Rahman Riau. sedang tergabung ke dalam komunitas menulis kepul (kelas puisi alit) dan kelas menulis bagi pemula. (FB) Pensyair Berkarya. (DSI) Diskusi sahabat Inspirasi dam Sastra Indonesia. Karyanya pernah termuat ke dalam media cetak seperti Klasika kompas, Pontianak post, cemerlang waspada (Medan), Koran Merapi, Suara Sarawak (Malaysia), Harian sinar Indonesia Baru, Radar Madiun, Malut post, Majalah elipsis, Majalah Semesta seni, Radar pekalongan, BMR FOX Dll. Juga media online seperti Magrib id. Cendana news, Barisan.co. Maca Web. Bali politika, Uma Kalada News, Metafor Id. Dunia santri, Tiras times, DLL. Juga di beberapa antologi seperti (FSIGB festival internasional Gunung bintan 2022) (100 Tahun Chairil Anwar 2022) (HPI Perayaan Tanah puisi, Masyarakat jember 2022) (Sanglah Hospital Bali, Suatu Hari Dari Balik Jendela Rumah Sakit 2021) (Alam sejati 2022) (Hari puisi sedunia 2022) (Antologi negeri poci 12 Raja kelana 2022). Pernah menjadi kategori puisi terbaik tingkat nasional oleh penerbit Alqalam batang dan penerbit Salam Pedia 2021) Buku novel solo (Singgasana Cahaya 2016) antologi puisi (Dalam kata aku mencipta 2020).