22 Juni 2025
Puisi-Puisi Amelia Halfa R
Oleh Amelia Halfa R*

Ruko yang Menangis di Tengah Malam
Di antara lampu neon yang pura-pura terang,
ruko-ruko tua bersandar lelah
penuh utang, penuh diam,
menyimpan cerita yang tak dibeli siapa-siapa.
Tukang parkir terkantuk di pojok warung kopi,
mimpi jadi bos tapi tak punya KTP.
Sementara itu, papan reklame berkhotbah
“Sukses bisa dicicil, asal jangan malas.”
Tuhan-tuhan baru bermuka aplikasi,
menjanjikan surga lima persen cashback.
Tak ada doa di jalan ini,
hanya sisa bising yang tak tahu kapan pulang.
2025
KTP Sementara dan Janji Permanen
Mereka tinggal di sewa bulanan,
hidupnya dicicil sampai mati,
anaknya lahir di gang sempit
yang bau pesingnya tak pernah ikut di sensor TV.
Setiap malam, mereka telan mimpi dengan sambal,
karena asin air mata tak cukup jadi lauk.
Kepala keluarga duduk di atas tumpukan tagihan,
menyusun doa-doa seperti tumpukan kertas bekas.
“Kita pindah, ya?” katanya.
Tapi tak pernah pindah ke mana-mana,
karena hidup hanya pindah dari satu kekalahan
ke kekalahan yang lebih terang.
2025
Lantai Dua Tanpa Langit
Di lantai dua kontrakan petak,
seorang janda memandangi bulan
lewat pantulan ember bocor.
Ia bilang itu lebih nyata dari bintang di aplikasi.
Anaknya menangis minta mainan,
tapi yang ada hanya panci bekas gorengan kemarin.
Ia lemparkan dongeng, bukan untuk menghibur,
tapi untuk membuat anaknya lupa lapar.
Kita sering lupa,
tak semua ibu di kota ini punya resep bahagia.
Ada yang cuma punya mi instan dan kesabaran,
tanpa takaran pasti,
tanpa garansi masa depan.
2025
Lift Rusak dan Tangga Tak Pernah Sampai
Gedung pencakar langit
hanya untuk yang siap diinjak.
Di bawahnya, ojek-ojek online berdoa
agar hidup bisa di-cancel tanpa penalti.
Gedung tinggi punya lift,
tapi nasib mereka lebih sering jatuh dari tangga.
Mereka tak naik,
hanya memutar di lobi sambil menunggu pesanan nasi bungkus.
Orang bilang
“Asal mau kerja keras, rezeki pasti ada.”
Tapi mereka lupa,
kadang yang keras cuma hidupnya,
sementara rezeki masih di-typing ….
2025
===
*Amelia Halfa R, lulusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang. Ia senang menulis cerpen, puisi dan esai.