29 Juni 2025
Zuri dan Hewan Buruannya
Oleh Kasadasa*

Siang itu di sabana Afrika, matahari seakan tengah berusaha membakar setiap inci kehidupan maupun bebatuan dan pasir di sana, termasuk naluri berburu Zuri, sang singa betina.
Zuri melepaskan terkamannya dari leher wildebeest betina yang sudah diintainya sejak lama itu. Hewan berkaki empat yang malang itu tidak menendang-nendang lagi, dan Zuri yakin, nyawanya saat ini sudah putus. Ari-ari masih menggelantung menyedihkan di liang belakangnya. Wildebeest itu baru saja melahirkan bayinya. Di saat Zuri tengah mengendap-ngendap, merendahkan tubuhnya hingga warna bulunya menyaru dengan tanah tandus di sabana itu, si wildebeest tengah memperhatikan bayinya berdiri dan mencoba berjalan dengan kaki-kaki kecilnya yang gemetar. Sepasang ibu dan anak itu tak awas dengan bahaya yang mengintai. Dan akhirnya, ketika jarak antara predator dan mangsanya itu sudah dekat, semuanya sudah terlambat.
Zuri sudah mulai mengoyak perut si wildebeest, ketika tiba-tiba si bayi wildebeest itu berjalan mendekatinya. Zuri mengaum, menggertak makhluk kecil yang sekujur tubuhnya masih berselaput lendir dan sisa darah. Si bayi sesaat tersentak, mundur ketakutan. Tapi karena terlalu kecil untuk paham dengan bahaya yang dibawa oleh makhluk besar bertaring di hadapannya, dia kembali mendekat. Sepertinya, si bayi mencari ibunya.
Wildebeest yang semula Zuri kira sudah tewas, ternyata masih hidup. Sangat sekarat, tapi masih hidup. Zuri mundur. Dari perut, pandangannya pindah ke kepala si wildebeest yang terkulai lemah. Dia memperhatikan mata si wildebeest mengikuti bayinya, yang semakin berjalan mendekat.
Sang induk meneteskan air mata.
Zuri berjalan mengelilingi bangkai itu, seperti sedang dihantui kegelisahan yang tak lazim. Keinginannya untuk mengoyak perut si wildebeest terhenti. Dia melihat air mata hewan buruannya itu terus mengalir. Di dekatnya, si bayi wildebeest melangkah dengan kaki-kaki yang goyah, beberapa kali terhuyung, mungkin sedang mencari puting ibunya. Mudah saja bagi Zuri untuk menamatkan hidup si bayi juga, tapi entah kenapa, dia tidak melakukan itu.
Dan begitulah. Di siang terik yang membakar itu, di bawah pohon yang meranggas, putuslah nyawa si wildebeest. Menyisakan air yang menggenang di matanya yang kini menatap kosong. Meninggalkan bayinya yang masih mencari air susunya.
Zuri masih belum mendekati bangkai hewan buruannya itu. Dia masih terus berjalan mengelilinginya. Sejenak menghampiri bangkai wildebeest itu, lalu kembali beringsut menjauh. Lalu kembali mendekati bangkai itu, mengendus kepalanya. Melihat sisa air mata makhluk yang sudah mati itu.
Si induk menangis, tapi untuk alasan apa? Kesakitan akibat luka yang menyayat lehernya itu? Menangisi hidupnya yang sudah habis? Atau menangisi anaknya? Zuri tak melihat air mata itu sebelumnya, tidak sebelum bayinya berjalan mendekatinya. Apa dia menangis karena anaknya kini harus hidup sendirian?
Zuri masih tetap dengan tindakannya yang ganjil, sehingga dia tak awas dengan sosok besar bersurai lebat yang berjalan tanpa suara, kontras dengan tubuhnya yang besar mengerikan, menuju ke arahnya. Barulah ketika Zuri mendongak, pandangannya terpaku ke satu titik, sosok itu mengaum ganas, dan melompat hendak menerkam. Entah apa yang mendorongnya, Zuri menarik si bayi wildebeest yang masih menyusu itu dari bahaya terjangan Khamani.
Khamani, singa jantan dewasa pemimpin kelompoknya, datang mengambil haknya. Hukum alam yang berlaku di kalangan para singa, yaitu singa betina yang pergi berburu, tapi singa jantan dewasalah yang berhak lebih dulu memakannya. Khamani mana tahu tentang si wildebeest yang menangis menjelang ajalnya, atau si bayi wildebeest yang masih menyusu pada ibunya yang sudah mati itu. Tak ada bahasa yang bisa menjelaskan hal seperti itu dalam hidup para singa.
Si bayi masih ingin mendekati tubuh ibunya. Zuri menghalaunya dengan tapak kaki depannya. Sementara Khamani sudah mengoyak perut si wildebeest, membenamkan nyaris seluruh kepalanya yang besar ke dalam perut bangkai hewan itu.
Zuri terus mendorong si bayi menjauh. Tapi si bayi kembali mendekati Zuri, menanduk pelan kaki singa betina itu. Si bayi seperti ingin berlindung pada Zuri, setelah kehilangan ibunya. Tapi Zuri tak menaruh minat dengan bayi itu. Berkali-kali si bayi mendekat, menanduknya dengan tenaganya yang lemah, berkali-kali pula Zuri mendorong menjauh. Baru setelah Zuri membentak si bayi dengan raungannya, si bayi ketakutan. Dia menjauh, tak mengganggu Zuri lagi.
Zuri menoleh ke bawah pohon mati di belakangnya itu. Tubuh si wildebeest berguncang, bukan karena dia masih hidup, tapi karena di baliknya, Khamani tengah mencabuti daging dan usus dengan gigi-giginya yang tajam. Laparnya masih belum tuntas. Wajah singa jantan itu penuh berlepotan darah.
Saat Khamani sudah selesai makan, apa yang tersisa dari tubuh wildebeest itulah hak Zuri. Tapi Zuri hanya berbaring di tanah tandus, membelakangi pasangannya dan bangkai si wildebeest. Zuri lapar, tapi air mata terakhir si wildebeest masih terus membayanginya.
===
*Kasadasa. Hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang menyukai buku dan menulis. Lahir, tumbuh besar, dan (nantinya akan) bertambah tua di Bali.