6 Juli 2025
Puisi-Puisi Galeh Pramudianto
Oleh Galeh Pramudianto*

Personifikasi Plastik
aku terlahir dari kilau pabrik
berbentuk sachet mungil pengemas rasa instan
dibawa angin digelinding hujan
menyusuri got, sungao lalu samudra kesepian
tubuhku tak membusuk hanya pecah menjadi mikroplastik
mengendap di antara sedimen dan tulang ikan mati
plankton mencicipiku dikira aku serpih cahaya matahari
aku diantar angin muson dari ribuan daratan
hingga tiba di negeri tropis berjubah terumbu karang
menyambutku di muara menjadikanku raja tanpa mahkota
di sini, aku beranak-pinak—botol, kresek, styrofoam
mereka menyebutku limbah tapi terus memelihara hidupku
aku bertemu karibku: tali rafia, botol shampo
sedotan meleyot, semuanya gagap
secara organik kami membentuk kerajaan senyap
menghuni perut ikan dan penyu
yang bahkan kami tak mau
tubuhku mengapung dengan angkuh
seperti jubah raja dari zaman peradaban hilang
aku tertawa pada ombak yang tak bisa menenggelamkanku
suatu malam arus pasang mempertemukanku
dengan sesosok wangi ganggang dan bisu karang
ia menatapku seperti ubur-ubur bercahaya
“aku menari di antara bangkai paus dan jaring nelayan,
sementara engkau menari bersamaku tak pernah larut
kau adalah kutukan modern
yang tak bisa kuhanyutkan ke dunia arwah”
di laut aku jadi legenda
hantu tak terlihat tinggal di perut bumi biru
sesosok itu terus mendekat
jari-jarinya menjalar seperti ubur-ubur malam
“aku bisa mencuci segala prasangka,” katanya lirih
“tapi bukan dirimu
yang bahkan laut pun
tak bisa meluruhkan.”
Kami Datang Tanpa Paspor
I
secarik plastik dari benua biru
dibungkus dalam daur ulang palsu
naik kapal menyeberangi samudra biru
dunia melemparkanku seperti utang tak pernah lunas
siapa yang kirimkan kontainer-kontainer itu
dan memintamu tersenyum sambil membakarnya?
aku dibungkam atas nama diplomasi
aku bukti bahwa ketidakadilan bisa dibungkus rapi
dikirim lintas samudra dan disebut kerja sama global
kami ini datang tanpa paspor
menumpuk seperti utang kolonial yang dikirim ulang
halaman rumah menjadi museum merek asing
anak-anakmu bermain di antara serpihan bungkus cokelat Swiss
di antara plastik bekas keripik tortilla Amerika
deretan makanan beku Selandia Baru
hingga kemasan karton bertuliskan “keeping your kids safe”
II
aku menyelinap di sela insang ikan
bersembunyi di daging kerang
setiap tetes air dan sedimen menyimpan tubuhku
aku bukan hanya sampah
telah jadi bagian dari rantai makanan
mikroplastik telah larut di lambung manusia
III
plankton bekerja dalam senyap
penjaga napas dunia
tapi kini aku menyumbat napas itu
pompa karbon biologis tak lagi mengalir
aku mengacaukan siklus nitrogen
meracuni mikroba laut
yang bekerja tanpa upah bagi planet ini
triliunan diriku menari di lautan luas
mengancam banyak hal
yang jelas sudah kamu ketahui
lebih dulu.
2025
Aku yang Terbakar
aku bisa menjadi apa saja; kantung kresek,
bungkus permen, botol sampo dan minuman sachetan
menimbun paraumu sementara waktu
napas sintetis dari zaman tergesa
ketika kau menyalakan api kau kira kulenyap
sementara kuhanya malih rupa
menjadi racun di udara
asapku mengepul menyusup
ke paru-paru mungil
belum mengerti dunia
aku merayap ke janin
meninggalkan jelaga dalam rahim
yang tak pernah kau curigai
kau membakarku berkali-kali
agar halaman lengang bisa buat berkelakar
tapi tanahmu menangis meresap jejakku dalam akar
mengantar sehimpun racun di meja makan
penuh selubung kecemasan
aku terbakar di samping pagar
tak benar-benar moksa
hanya pindah menyamar
menjadi senyawa yang tak bisa kau eja
dan saat kau batuk tanpa sebab
ingatlah itu aku
dari api yang kau nyalakan sendiri.
2025
Prosopagnosia
nyalakan mimpimu yang tersimpan
di mesin penyimpan adegan
dari gulungan peristiwa penuh igauan
juga tubuh dan ruh bersatu tatkala berada di beranda
di sebuah mimpi, domba-domba berjalan tanpa arah
menuju planet baru yang kau ciptakan dengan gelisah
untuk berteduh dari segala susah
domba-domba tetaplah domba-domba
seperti mimpi tetaplah mimpi
meski kita menampiknya dan mencubit pipi
domba terus berjalan tanpa penghabisan
di mesin penyimpan adegan
seolah-olah semua prosopagnosia
tersesat oleh kawanan wajah
dan kumpulan nubuat dari hari-hari berkilat
karena langkah-langkah mungil menuju planet baru
tak membenci airmata dan tak menumbuhkan duri
hanya
memandang bintang dari ketinggian
menghitung domba saat tidur
kian melenyapkan kecemasan
meski hanya seujung jengkal
dan yakin esok sampai.
2023
Di Luar Koloni
kami menatap
titik biru pucat
dan bersiul
angin merapat
kantata tanpa jeda
opera megah di sudut kota
bawah jembatan
suara parau
tikus terjepit
kami amsal pertama
dan stipulasi tentangnya:
mengunjungi
tak sama
dengan mendiami
di luar kami
seolah-olah
tak ada lagi.
2025
===
*Galeh Pramudianto, lahir Juni 1993. Berdomisili di Tangerang Selatan. Bekerja sebagai pendidik di Tzu Chi School. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019). Pada tahun 2019 ia meraih Acarya Sastra dari Badan Bahasa, Kemendikbud. Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke bahasa Inggris di Jurnal Mantis, Stanford University dan Arkansas International. Puisinya “Laut yang Tak Bisa Disunting” meraih lima puisi terpilih pada Cipta Puisi Piala Kebangsaan 2025.