27 Juli 2025
Puisi-Puisi Saifa Abidillah
Oleh Saifa Abidillah*

Situs Muara Jambi
tidak ada jam tidur, setiap jam tidur
adalah hantu yang menakutkan.
kau duduk di beranda matamu
membaca buku tua penuh api purba.
matamu, puzzle arkaik yang sukar
dipecahkan ilmuwan paling berpengalaman.
sebuah peradaban besar lahir
dari mata mungilmu yang jenaka.
mata mungil yang lebih menyala,
dari hingar kosmologi prambanan,
dan korpus borobudur yang tertidur.
matamu, situs arkeologi abad ke-5
yang ditemukan dari gundukan tanah
terhampar ratusan hektar.
pecahan keramik yang cantik,
miniatur patung buddha yang eksotik,
seperti senyum manis gadis eksodus.
kepingan batu bata merah masa lalu,
tersingkap malu-malu dari debu tubuhmu,
dari rerimbun hutan pengasingan.
sebuah peradaban besar lahir
dari mata mungilmu yang jenaka.
mata mungil yang tampak begitu gagah
menjelma matahari waktu,
yang mengakar
di meja perjamuan malam kita.
2025
Konstruksi Sampah Plastik
/I/
pada akhirnya setiap rumah ibadah adalah pelukan,
dan kau bangun rumah paling nyaman untuk masa depan
yang tidak rentan dengan cuaca buruk,
atau ledakan nuklir yang bikin getir—
dari gundukan plastik yang arkaik,
mosaik demi mosaik kau semai dengan teknologi paling gotik.
/II/
karena rumah ibadah adalah tempat pulang paling nyaman,
kau bangun dengan senyuman, dan dekapan.
bunga-bunga matamu tumbuh abadi di situ,
mekar seperti arkaik candi plastik paling unik
dan di masa depan, pelukan adalah rumah idaman
bagi seseorang yang selalu merasa kesepian.
/III/
kau bangun rumahmu dari gundukan sampah,
aku bangun rumahku dari tumpukan debu buku,
dan kita tidak pernah bertemu, meski hanya sekadar
menyebut haha atau huhu di ruang tamu
kecuali dalam doa ibu, dan dekrit rindu yang halu,
berharap besok atau lusa, menjadi peluru paling jitu.
Dungkek, 2025
Konsep Hidup Minimalis
minimal kamu berkumis tipis,
tanpa pemanis buatan yang eksotis,
berlapis gamis plastik paling tipis,
dan yang pasti kamu anti gerimis.
sedikit apatis, dan tidak begitu ateis
dan mengerti cara kerja kosmis,
dan hal-hal yang berbau teologis,
dan berlagak sebagai yang kudus:
agamaku adalah agama plastik sintetis,
jangan usik aku dengan dogma kukis
yang berlapis kismis, atau tumis hadits
dari kepul asap dapurmu yang tak higinis.
Dungkek, 2025
Jam Terbang
jika miliaran plastik yang memenuhi planet ini
adalah doa yang terpancar dari tangan manusia,
maka begitu sangat padat jam terbang
plastik-plastik itu memenuhi alam semesta:
tidak ada lagi tempat untuk tumbuh bagi pohon-pohon,
tidak ada lagi tempat yang layak bagi ikan-ikan
setiap tempat adalah keterasingan,
akrobat bau busuk menjadi ancaman bagi masa depan—
kota dibunuh oleh penduduknya sendiri,
desa-desa dibius habis sampai waktu tidak ditentukan.
Dungkek, 2025
===
*Saifa Abidillah, lahir di Sumenep. Kini mengajar di Fathimah International Elementary School. Buku puisinya Kuil Bawah Laut (2021).