3 Agustus 2025
Tanah Sangkolan [1]
Oleh: Abdul Warits*

Semenjak bapak meninggal, aku tidak lagi membawa buku-buku yang hanya membisu itu. Aku kembali merawat tanah dengan cangkulku. Sebab, tanah mengajariku tabah menjalani hidup sebagai petani. Meski ibu selalu membujukku untuk sekolah, aku tetap ingin menjaga tanah sangkolan wasiat bapakku. Biarkan hidupku beraroma tanah, dengan bismillah aku melangkah di tanahmu yang menyimpan seribu berkah.
***
Anak pedalaman sepertiku hanya bisa hidup dengan tanah-tanah yang asri. Bukan tanah yang senantiasa menyimpan resah dengan kehidupan perkotaan metropolitan. Bagi orang-orang pedalaman, tanah adalah harga diri yang harus dijaga agar tidak dikuasai pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab kepada lingkungan sekitar. Pada sepetak tanah, aku berharap mengembalikan segala nasibku dan masa depan negeri ini. Barangkali pada tanah kita bisa menjaga marwah dan menggempur masa depan yang gersang.
Terik matahari di siang hari memang garang terasa pada badanku. Di desaku musim kemarau adalah peristiwa paling menakutkan apalagi ketika di musim pancaroba tiba petani akan gusar untuk menentukan nasib tanamannya. Segala kebutuhan sangat sulit untuk didapatkan karena segala hasil pertanian telah habis dijual untuk kebutuhan keluarga. Meskipun keadaan mencekam, aku tetap bangga menjadi anak seorang petani di daerah pedalaman desa. Bentangan sawah di desaku barangkali menjadi penampung nasibku untuk melanjutkan sekolah hingga hari ini.
Siang itu, aku pulang dari sekolah dengan perasaan lelah. Badanku seperti kehilangan tenaga untuk melangkah sampai ke rumah. Kemarau panjang yang melanda desaku membuatku seringkali tidak mandi sampai satu minggu karena kehabisan air. Aku hanya bisa minum secukupnya saja. Maklum, desaku berada di bebukitan yang sangat tinggi sehingga tidak perlu heran apabila aku terbiasa berangkat ke sekolah hanya bermodalkan bulir air wudu saja. Sebab, bagi orang desa, wudu lebih penting dari mandi. Pada tiap tetesnya, mengucur berkah yang melimpah. Kata ibuku, wudu adalah perkara sakral yang harus ditunaikan sebelum belajar. Hampir setiap hari kebiasaan itu kulakukan dengan sepenuh hati.
“Nak, kelak kau akan menjadi apa?” tanya bapak, saat aku sedang melepas lelah di dangau, tempat biasa untuk berteduh dari hujan dan sengat matahari ketika menanam beberapa bibit tanaman tembakau. Aku masih seumuran jagung.
“Aku ingin menjadi orang penting, Pak,” jawabku polos.
“Orang penting itu banyak. Kamu mau pilih yang mana?” lanjut bapakku.
“Aku ingin menjadi orang yang berguna bagi bangsa, agama, dan negara,”jawabku singkat dengan penuh bangga.
“Kamu jadi petani saja, nak,” lanjut bapakku dengan penuh semangat.
“Menjadi petani hidupnya melarat, Pak,” aku protes kepada bapak yang sedang mengepulkan asap rokoknya.
“Kalau tidak ada petani, bangsa ini mau makan apa?” kata bapak padaku. Lalu, ia kembali bergegas ke tengah sawah.
“Untuk apa aku disekolahkan, kalau pada akhirnya hanya akan menjadi seorang petani, Pak?” aduku kepada bapak.
“Agar kamu itu menjadi seperti padi. Semakin berisi akan semakin menunduk,“ kata bapakku spontan.
Aku tertegun dengan kata-kata yang diucapkan bapak. Lalu, menatap bapak yang begitu letih di tengah sawah.
***
Lelaki berkumis panjang itu memasuki rumahku. Ukuran songkok di atas kepalanya begitu tinggi sekitar 12 meter. Tubuhnya semampai dan gagah. Orang-orang di desa ini biasa menyebutnya sebagai Kalebun[2] Sumadin. Lelaki itu terkenal dengan auranya yang garang. Segala bentuk sikap lelaki itu seperti mencerminkan desaku yang tandus dan gersang.
“Assalammualaikum,” lelaki itu mengucapkan salam di beranda rumah.
“Waalaikum Salam,” ibuku membukakan pintu.
“Mana Bahri, Ni?” tanya lelaki itu dengan wajah ramah.
“Oh, Pak Kalebun. Saya panggilkan dulu, ya. Kang Subahri di belakang. Dia sedang masat[3],” ibuku bergegas ke belakang rumah, menemui bapak yang sedang mengiris tembakau untuk dipanen.
“Ada pak kalebun, Kang!” panggil ibu kepada bapak.
“Di mana?” bapakku berdiri menuju ke ruang tamu.
“Di depan rumah, Kang,” ibuku berlalu menuju dapur.
“Sampean, Pak kalebun. Ada apa datang ke rumah saya? Tidak seperti biasanya,” ucap bapak seraya bersalaman dengan ramah.
Mereka berdua duduk di kursi yang terbuat dari anyaman bambu.
“Begini, Bahri. Almarhum bapakmu punya utang kepadaku,” Sumadin mengadu.
Bapakku terkesiap. “Memang berapa utang bapakku, Pak Kalebun?” tanya bapakku memburu.
“Seratus juta!” jawabnya.
Jantung bapak sepertinya gusar seakan baru saja diterpa angin sakal dari tengah samudra. Belum kelar ia menafkahiku aku sekeluarga, kini, musibah itu datang lagi memburunya, ia kembali harus membayar utang kakek yang berjumlah seratus juta itu.
“Mungkin ini berat bagimu, Bahri. Aku baru bisa mengatakan hal ini kepadamu sekarang karena sejak kemarin aku masih dihantui perasaan khawatir terhadap keluargamu, apalagi bapakmu baru meninggal satu minggu ini,” ucap Sumadin berkeluh kesah.
Bapak diam saja.
“Tetapi aku mempunyai tawaran solusi kepadamu, bagaimana kalau bentangan tanah yang subur itu menjadi jaminannya?” Sumadin membujuk.
Bapak hanya mengerutkan dahinya, menyimpan rasa curiga.
“Lho, untuk apa, Pak?” tanya bapak.
“Soalnya, tanah itu bagus. Cocok untuk dibangun pabrik. Ada investor yang ingin membelinya dengan harga mahal. Barangkali harganya bisa berlipat ganda, nanti keuntungannya kita bagi dua. Separuh untuk utangmu padaku dan separuhnya lagi kuberikan padamu. Bagaimana?” papar Sumadin.
“Tidak, Pak Kalebun! Aku tidak akan menjual tanah sangkolan itu. Tanah itu warisan dari bapakku sebelum ia meninggal. Biarlah aku yang akan melunasi utang-utang bapakku,” ucap bapak dengan nada tegas.
“Ya, baiklah, kalau seperti itu keputusanmu, aku tidak akan memaksa. Tapi, empat bulan lagi, aku akan kembali ke sini untuk menagih utang bapakmu,” Sumadin kemudian langsung berpamitan. Langkahnya semakin jauh dari pandang mata.
***
Berkali-kali Kalebun Sumadin datang ke rumahku. Tetapi, bapak masih teguh dengan pendiriannya untuk tidak menjual tanah itu. Kalebun Sumadin berambisi untuk menjual tanah bapak ke pihak investor asing. Tetapi, bapak tidak mau menjualnya karena menjual tanah warisan bagi orang Madura sama saja dengan menjual harga diri apalagi salah satu penghasilan masyarakat di desaku tumbuh dari dalam tanah.
Seperti biasa, selepas pulang sekolah aku berteduh di dangau. Bapak menyiram tanaman tembakau yang ada di sawah. Kulihat ke tengah sawah, Kalebun Sumadin dengan beberapa aparat desa menghampiri bapak yang sedang asyik mencangkul dan ibu yang menyirami tembakau. Aku kembali mengalihkan pandangan kepada buku-buku yang ada dipangkuanku. Beberapa lama kulihat bapak sudah tidak ada di tengah sawah. Aku menduganya ia masih membasuh tangan dan kakinya ke tepi sungai sementara ibu berteduh ke dangau untuk menyiapkan makan siang bersama.
“Tolong! Tolong! Tolong!” suara salah satu warga dari kejauhan. Aku terkesiap dan berlari menuju rerimbunan tembakau yang menghijau. Kemudian kudengar suara itu dari pinggir sungai. Aku dan ibuku bergegas menuju ke asal suara itu.
“Bapakmu Ilham,” suara histeris Sulastri, tetanggaku.
“Bapakmu, berlumuran darah di sana,” lanjutnya.
Aku bergegas menggotong bapak yang sudah berlumuran darah yang mengucur di dahinya.
Dengan lirih bapak berkata, “Nak, senga’ jege tana, jege na’ poto[4].”
Kemudian nafas bapak terhembus entah kemana.
Aku berteriak. “Tidak! dasar biadab kamu Sumadin!” ucapku diringi tangisan ibu yang menderu di sampingku.
Lalu, ibu berucap menabahkan hatiku. “Lebih baik menjadi krikil yang diinjak dari pada menjadi pejabat yang tidak bijak,” pesan ibu padaku. Aku memeluk ibu dalam maha duka.
[1] Tanah warisan nenek moyang.
[2] Kepala desa (Bahasa Madura)
[3] Mengiris tembakau (Bahasa Madura)
[4] Nak, awas Jagalah tanah dan anak cucu. (Bahasa Madura)
===
*Abdul Warits, Penulis lepas, lahir di Grujugan Gapura Sumenep Madura, 07 Maret 1997. Mahasiswa Pascasarjana Studi Pendidikan Kepesantrenan, Instika,Guluk-Guluk Sumenep Madura.