LiteraSIP

3 Agustus 2025

Puisi-Puisi Rafidah Nur Hidayati

Oleh Rafidah Nur Hidayati*

 

 

Libellulla

 (Siapkah?)

 Sore menjelang
Angin membawa aroma aspal dan debu kota
Aku duduk di balkon lantai empat
Menyesap teh yang lebih pahit dari ingatanku sendiri
Ketika makhluk bersayap itu datang
Mengoyak kesunyian dengan dengungan lembutnya

Seekor capung, hijau metalik
Bersinar seperti rahasia yang ingin dibuka
Tapi tak pernah benar-benar diceritakan
Dia mendarat di tepi gelas tehku, melihatku
Seolah aku adalah hal yang aneh di dunia ini

“Apa kau tersesat?” tanyaku
Tapi dia tidak menjawab
Dia tidak berbicara bahasa manusia
Tidak pula bahasa serangga

Diamnya penuh arti
Seperti penulis yang enggan menyelesaikan bab terakhir
Apakah kau terbang dari taman yang jauh?
Atau hanya melompat dari balkon tetangga
Yang menanam bunga liar di pot bekas cat?
Bagaimana kau bisa sampai di sini
Di ketinggian tempat burung pun jarang singgah?
Aku tidak tahu apakah dia peduli dengan pertanyaanku
Tapi aku tahu satu hal:
Capung itu datang bukan untuk menjawab teka-teki
Melainkan untuk mengingatkanku
Bahwa tidak semua yang datang perlu penjelasan

Dia terbang pergi setelah beberapa saat
Sayapnya seperti serpihan kaca yang menari dalam cahaya
Dan aku duduk di sana, mencoba memahami bahwa beberapa pertemuan
Memang hanya untuk dikenang
Tanpa pernah benar-benar dimiliki

 

Horologium Dilatum

Mereka tidak berdetak, juga tidak berbunyi. Pada pagi yang malas, aku melihat bayangan: Tiga sosok bersandar pada angin, dengan tangan yang kosong dan langkah yang lamban, Mengenakan jubah waktu yang terlupakan; Mereka melayang seperti kabut di atas hutan yang tidur. Menyapu bayangan seperti lembaran mimpi yang berguguran.

Yang pertama adalah keraguan,
Menelusuri setiap jalan hanya untuk berputar kembali. Menghapus tujuan bahkan sebelum semangat tumbuh. Yang kedua adalah Keengganan. Pipinya seperti daun layu, penuh penundaan; Ia menari tanpa melangkah maju.

Dan yang terakhir,
yang paling kucintai meski sering kutolak,
Kemalasan yang lembut, dengan wajah seteduh senja, mengundangku duduk di tikar waktu, tanpa janji.

Mereka berbisik, “Apa gunanya terburu-buru?” dan aku tergoda, karena angin tidak memanggil, matahari tidak memaksa.
Dan tugas-tugas bersembunyi di balik tabir alasan yang indah.

Namun saat bayangan memudar dan matahari condong.
Aku mengerti keindahan waktu yang terbuang. Bukan dalam pelarian, tapi dalam istirahat.
Yang panjang, tempat impian tumbuh tanpa batas.

Jadi, selamat tinggal kalian hantu yang lamban,
Aku telah menikmati setiap detik yang kalian berikan; Tapi kini aku ingin berdansa lagi.
Di bawah panji waktu yang bergerak.

 

Hymen

Di dalam diriku, kau hadir tanpa aku sadari
Sebuah benteng yang kuat
Yang menjaga kehormatanku
Aku membayangkanmu sebagai dinding kokoh
Yang melindungi bagian dalam tubuhku dari segala bahaya

Kau adalah gerbang yang cantik
Yang membuka jalan bagi kebahagiaan
Tapi juga pagar yang kuat
Yang melindungi aku dari segala kekhawatiran
Kau adalah pintu yang elegan
Yang membuka jalan bagi cinta
Tapi juga piñata yang pernah ada
Yang menyimpan kejutan bagi aku

Berapa banyak tempat di tubuh
Yang diciptakan untuk dihancurkan sekali?
Tapi kau tetap kokoh
Seperti secangkir arteri yang cerah
Yang membawa kehidupan dan kebahagiaan bagi aku

Dan betapa beruntungnya kita
Memiliki kau sebagai pelindung dan penjaga
Yang menjaga aku dari segala bahaya dan kekhawatiran
Kau adalah bagian dari tubuhku
Yang menjaga kehormatanku
Dan aku akan selalu berterima kasih padamu
Atas perlindunganmu yang kuat

 

Kepak Kecil Kupu (Butterfly Effect)

Bocah kecil, polos, lugu, tidak berdosa
Terjatuh, menendang batu tanpa sosa
Batu menggelinding, tak terhenti
Menjatuhkan pohon, yang runtuh dengan sendiri
Pohon runtuh, menumbangkan menara
Menara jatuh, menghancurkan pasar
Pasar hancur, ekonomi runtuh
Kota ambruk, dalam sekejap, tanpa peringatan

 

Kucing Schrödinger

Ada seekor kucing di dalam kotak.
Kita tak tahu—
apakah ia hidup,
atau sudah mati.
Mungkin dua-duanya.
Mungkin tidak satupun.
Dunia belum membukanya.

Kita mengetuk dinding,
mencari jawaban dari keheningan.
Tapi logika hanya berputar,
dan kenyataan terasa kabur,
seperti bayangan di air yang bergoyang.

Paradoks ini bukan sekadar tentang hidup atau mati,
tapi tentang segala hal yang mungkin.
Tentang dunia yang bercabang-cabang,
seperti jalan setapak yang tak pernah bertemu kembali.

Di satu semesta, kau berhasil.
Di semesta lain, kau bahkan tak sempat mencoba.
Kau mencintai seseorang di sini,
tapi di tempat lain, kalian tak saling kenal.
Begitu halus batas antara nyata dan nyaris.

Kucing itu tahu apa yang tak kita sadari:
bahwa hidup bukan satu garis lurus,
melainkan lapisan-lapisan tipis yang saling bersentuhan,
saling menunggu untuk disadari.

Schrödinger—
ia hanya diam di sudut semesta,
menyaksikan kita bingung
dengan pilihan-pilihan
yang tak pernah benar-benar pasti.

Mungkin semesta ini hanya satu
dari begitu banyak versi yang berjalan bersamaan.
Dan kita?
Hanyalah sekelebat kemungkinan
yang berusaha memahami dirinya sendiri.

Relativitas menggulung waktu seperti benang,
dan partikel saling terikat walau terpisah jauh.
Tapi tak semua bisa dijelaskan oleh rumus.
Tak semua bisa dimengerti dengan kepala.

Kucing Schrödinger tidak menyuruh kita memilih.
Ia hanya ingin kita berhenti sejenak—
merenung:
Apakah hidup ini tentang hasil?
Atau tentang berjalan di antara semua yang tak pasti,
dengan hati yang tetap bersedia merasakan?

Dan mungkin,
kita tak perlu membuka kotaknya.
Karena hidup bukan tentang membuktikan sesuatu.
Melainkan tentang menerima:
bahwa di tengah segala kemungkinan yang membingungkan,
kita sedang ada.
Dan itu—sudah cukup.

 

===

*Rafidah Nur Hidayati. Kelahiran 20 Maret 2002 ini mulai menulis puisi sebagai cara merekam hal-hal yang sulit ia ucapkan, mulai dari halaman belakang buku pelajaran hingga catatan kecil yang diselipkan di balik bantal. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di bidang kedokteran, tapi justru di tengah kesibukan akademik dan klinik itulah ia semakin rajin menulis.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *