LiteraSIP

17 Agustus 2025

Si Anak Kambing

Oleh Dini Ridwan*

 

 

Bapak pemilik kumis beruban itu senyum-senyum saja, walaupun semua orang di Balai Desa, tua, muda, bocah, menyoraki putranya Adi Kambing! Adi Kambing! Sementara dukun kampung menyembunyikan senyum tipis di balik cambang putih. Dua puluh tahun lalu, matanya melotot mendiagnosis Adi.

“Ada kelainan. Terus-terusan bertanya, kok, taik kambing mirip permen coklat? Kenapa anak kambing baru lahir bisa langsung berdiri; anak tetangga tidak. Kenapa kambing mengembik ‘mbeeek!’ sementara kucing mengeong. Apa benar kambing malas mandi? Apa pemiliknya yang malas memandikan? Kenapa kambing berjenggot mirip saya, dukun masyhur di kampung ini! Apa jenggot kambing tua akan beruban seperti saya?! ” Dukun itu mendelik pada Adi yang menguap, lalu terbatuk asap kemenyan.  Pak Amin segera minta maaf sambil menunduk.

“Main sama anak-anak lain tidak mau. Baru delapan tahun, sudah tanya-tanya keputusan Tuhan.”

“Kenapa dia lahir sendiri, tidak kembar seperti anak tetangga. Kenapa salat Jumat; kenapa tidak Sabtu saja? Atau Minggu, hari libur.” Raut wajah Pak Amin resah.

Pak Dukun bergidik, menambah resah Pak Amin. “Dia kena guna-guna,” ujarnya lirih dengan mata melotot.

“Saya orang baik! Tidak mungkin punya musuh!” Pak Amin merasa terhina sekali.

Dukun kampung itu melirik Adi yang sudah tidur bersandar di bahu Pak Amin, lalu pada cawan tembaga di hadapannya, seraya mengelus jenggotnya yang panjang meruncing mulai beruban.

Pak Amin meletakkan selembar uang lima puluh ribu. Karena dia suka beramal—untuk memanggil rezeki kata Pak Ustaz pada khotbah Jumat—dia memberi tambahan lima ribu. Dukun kampung mengangguk-angguk mengulum senyum.

“Apa Mbah tahu, siapa yang mengirim guna-guna itu?” Pak Amin menahan geram, merasa dikhianati oleh entah siapa.

Dukun itu berhenti mengelus jenggot. “Diterawang dulu. Untuk saat ini….” Dengan mata terpejam, dukun itu mengucapkan apa yang harus dilakukan, dielakkan, ditemukan oleh Pak Amin demi kesembuhan Adi dengan suara seperti bisikan.

“Kembalilah dua minggu lagi,” ujar dukun itu sebagai penutup dan membuka matanya.

Pak Amin pulang tidak hanya dengan catatan di kepala, tetapi juga prasangka. Keesokan harinya, Pak Amin tidak lagi menyapa nenek tetangga atau membantu Ucup Timpang menurunkan karung pupuk dari pikap. Pak Amin sibuk menyiapkan beberapa dedaunan dan kembang tertentu tanpa menjawab pertanyaan orang kampung, walaupun tetap saja seisi kampung tahu, dedaunan dan kelapa muda itu untuk Adi yang kena guna-guna. Seisi kampung mengamini diagnosis dukun kampung yang pernah menyembuhkan retak tulang si Udin dengan media telur yang diusapkan di sepanjang lengan. Sebulan kemudian, Udin tidak  lagi merasakan sakit di lengannya. Seisi kampung gempar dan semakin memercayai dukun itu.

Tepat dua minggu kemudian, Pak Amin yang wangi kembang membawa Adi menemui dukun kampung. Dukun itu tersenyum, lalu melirik sekilas cawan tembaga di samping kemenyan bakar. Pak Amin segera meletakkan selembar uang lima puluh ribu tanpa tambahan. Gabahnya masih belum terjual, menambah kuat prasangka ada yang iri dengannya.

“Rezeki seret?

Pak Amin mengangguk, terlihat lebih putus asa dari sebelumnya.

“Mesin fotokopi!” seru Adi. “Fotokopi uang, Yah!”

Pak Amin mengusap kepala putra semata wayangnya, lalu memandang dukun dengan pandangan putus asa. Dukun itu mencengkeram ubun-ubun Adi dengan mata terpejam; mulut komat-kamit.

Malam itu Pak Amin pulang membawa resah. Dimulai dari malam itu pula, Adi menyiksanya membeli mesin fotokopi untuk menggandakan uang. Seisi kampung mulai ikut resah ketika anak-anak mereka ikut-ikutan mendesak orang tua mereka membeli mesin pengganda uang itu.

Pada suatu sore yang berangin, sehari sebelum Adi dipasung dan semua orang kampung memakluminya, Ibu Ati—istri Pak Amin—menyambut kedatangan Pak Amin pulang dari sawah dengan wajah berseri. Adi sudah mau main dengan anak-anak lain. Sekarang mereka beramai-ramai ke Balai Desa, ikut menyambut kedatangan mahasiswa dari kota. Hilang seketika penat Pak Amin. Tidak sia-sia dia mencari bermacam dedaunan dan kembang hingga ke pelosok kampung. Dia bahkan telah mengungsikan kambing-kambing peliharaannya untuk sementara ke kampung sebelah untuk dipelihara adiknya.

Tanpa mengganti pakaiannya yang basah oleh keringat, Pak Amin bergegas ke Balai Desa. Di sana dia mendapati Adi sedang bertanya pada seorang pemuda berkacamata tentang kambing. Pak Amin menyeret pulang Adi meski bocah itu meronta-ronta kesetanan.

“Abang itu punya kitab kambing!” jerit Adi dari kamar.

Pak Amin dan Bu Ati saling pandang, lalu mengembuskan nafas berat. Tak disangka pada malam harinya, sebelum mereka berangkat ke rumah dukun di kaki bukit, pemuda berkacamata itu dan lima mahasiswa lain berkunjung ke rumah Pak Amin didampingi Pak Kepala Desa. Para mahasiswa KKN itu besok pagi mengadakan penyuluhan di Balai Desa. Pak Amin dan beberapa warga yang memiliki ternak diharapkan untuk datang.

Meski tidak lagi memelihara kambing, Pak Amin tetap berangkat ke Balai Desa karena Adi. Anak itu berguling kesetanan di lantai, membuat resah. Adi menyimak penyuluhan, tidak berlarian dan membuat ribut seperti anak-anak lain. Setelah itu dia menghampiri pemuda berkacamata itu, bertanya tentang kambing lagi.

Jawaban pemuda itu memancing pertanyaan Adi yang semakin lama, semakin membuat pusing dan malu Pak Amin. Masalah lain muncul, ketika Adi merengek minta kitab, yang di mata Pak Amin tidak ada mirip-miripnya dengan Alquran. Huruf biasa saja, yang terlihat di mana-mana, tetapi tidak kunjung bisa dia rangkai jadi kata. Untunglah pemuda itu punya jalan keluar. Meminjamkan kitab itu pada Adi.

Malamnya, Adi menolak tidur sebelum menamatkan kitab bergambar kambing itu. Awalnya Pak Amin melarang, tetapi segera dihentikan lengking tangis Adi yang akan menambah gunjingan tetangga. Pak Amin hanya bisa saling pandang dengan istrinya, menunggui putra mereka, sembari terkantuk-kantuk, lalu terpana mendengar nasihat Adi soal penyebab anak kambing peliharaan mereka sering mati.

Semenjak saat itu, Adi minta dibelikan kitab-kitab kambing. Baru sebentar sudah tamat dan minta lagi yang baru. Meskipun berat, Pak Amin dan istri terpaksa menyanggupi. Rasanya lebih melegakan hati daripada memasung Adi. Bertahun-tahun kemudian, Adi berhasrat kuliah di kota. Pak Amin berusaha keras menyanggupi. Kali ini diselimuti rasa bangga dan harapan.

Sekarang, Adi berdiri di atas panggung di halaman Balai Desa. Gagah sekali dengan seragam dinas yang bikin segan itu.

“Kita tidak usah ke kota untuk kehidupan yang layak! Kampung ini bisa maju dengan beternak, salah satunya kambing! Buktinya Bapak saya!” Adi berpaling pada ibu bapaknya yang duduk pada deretan depan bersama Pak Kepala Desa. “Saya akan membimbing warga kampung ini beternak kambing!”

“Adi Kambing! Adi Kambing!” sorak warga.

 

===

*Dini Ridwan lahir dan dibesarkan di Padang. Dia Sarjana Pertanian lulusan Universitas Andalas dengan hati yang selalu terpaut untuk menulis cerita. Linktree pada bio akun instagramnya @dinirid memuat tautan beberapa cerpennya yang telah dimuat media online.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *