7 September 2025
Puisi-Puisi Anindita Buyung
Oleh Anindita Buyung*

Tempuh
/1/
mari kita mulai perbincangan
dengan melupakan hujan yang berhenti
doa-doa urung disiarkan pelantang
sementara azan mulai berkumandang
bumi siap menangkap langkah yang kembali lekas
atau tubuh yang akhirnya rebah didekap tanah
di pelupuk mata tumbuh bayang-bayang
dari seluk hati yang menyerah
atau ego yang memaksakan diri
waktu bukan sinonim perjalanan
dan hidup bukanlah sajak-sajak
yang merebak di taman kematian
kesakitan adalah kesaktian memanipulasi hidup
supaya tidak jadi lurus-lurus saja
lantas, kita butuh akhir yang bagaimana?
/2/
hari ini adalah sejarah yang tak bisa ditoleh
sebab esok adalah sejauh-jauh harapan
dan kemarin adalah sedekat-dekat penyesalan
kata-kata menyerah meninabobokan waktu
yang tetap berputar mencari ruang
kini kita tak mengenal siapa-siapa selain doa
yang dilupa saat hujan sedang deras-derasnya
sementara hujan cenderung berakhir
dan aromanya tak kuasa memintas di hadap pembauan
meski angin berlarian di atas tubuh yang rebah di ribaan
tubuh yang kini berangan-angan
ingin hujan tak jadi berhenti
/3/
memulai perbincangan tentang
bagaimana dunia mengombang-ambingkan waktu
dan perjalanan adalah tempuh yang entah tibanya
pagi hari serupa hujan gigih
meretas daun-daun yang muda hijaunya
sementara pejalan kaki tetap menerabas
rajam gerimis yang berganti nama
langkah kaki terus ramai sendiri
sebab merasa raga masih belia
demi daun yang mengering
buat bumi yang kian tua
Magelang, 2024
Parangkusumo
di pasir yang dibelai angin dari selatan
kau lesap pada sebaris nama
menerima pujian yang basah juga resah
berandai-andai tentang perkara
tak bisakah ombak menunda angin
datang melantakkan yang tiada?
ku pikir masih ada waktu
adalah kesalahan hakiki manusia
sebab batas-batas tak bisa dijangkau logika
terlalu jauh dan fana
tak seperti garis batas di pantai ini
batas antara nasib dan penerimaan yang samudra
apakah kau ku lewatkan?
sebab nama yang pernah terukir di atas pasir
seketika lenyap tanpa menunggu waktu
menghanyutkan asa
menenggelamkan doa-doa
yang bahkan belum menguar ke udara.
Magelang, 2024
Yang Dirapalkan Doa-Doa
Kita boleh jadi belum mempersiapkan diri
sebab kata-kata yang kelak dirapalkan: sembunyi.
Berdoa dan mendoakan sungguh amat berbeda.
Kapan terakhir kali takdir kita amini?
Apa yang mesti dirapalkan kecuali doa-doa?
Tentang ruang-ruang singup; jendela-jendela yang terbuka.
Angin dari utara bersiap embus mengelus punggung.
Berkemas menebas napas kita yang limbung.
Inikah saat-saat mencari dan mencuri materi?
Milikmu dititipkan pada orang-orang yang tak ramah wajahnya.
Sedang kata Tuhan, padamu Ia selipkan sekilas napas ;
guna menawarkan gulita hati yang keras.
Apakah doa-doa sempat bersuara di senja nanti?
Ketika matahari mulai tenggelam di leher kita; jerat!
Kita menutup hari dengan hal-hal terlewatkan; dilewatkan?
Lantas, kepada siapa kita kelak mengantarkan sesal?
Magelang 2024
Malam Itu
Malam itu ibu memasak batu
yang ia pungut di halaman depan rumah kami.
Tak ada garam maupun penyedap hidup
meski hanya sekadar sehirup harap.
Hambar dan tentu tak sedap
namun kami menyantapnya lahap-lahap.
Malam itu bapak menyisir puntung rokok
yang ia telisik di dedaun halaman rumah kami.
Tak ada ia temukan barang sebatang
yang mungkin tersisa dari embus kemarin malam.
Kali ini tak ada kebul asap menguar ke udara
bersama keluh resah dan putus asa.
Malam itu aku dan adikku bermain boneka
yang bapak pungut dari tempat pembuangan.
Ada mimpi orang-orang yang menyelinap
di antara mata dan lipat ketiak.
Kata ibu, Tuhan Maha Baik menyiapkan nasib.
Namun, kita tak sabar menemukannya.
Malam itu ibu dan bapak mengemas dosa-dosa
dari tali dan dua pasang kursi lapuk-tua.
Mataku hampa, ibu mengalungkan tali di batang kepala.
Pun adikku, pun ibu, pun bapak, pun doa-doa.
Bapak menulis di jendela kaca: Tuhan, maaf.
Kami telah hampa dan dikalahkan dunia.
Magelang, 2024
Di Altar Kupersembahkan
Di altar kupersembahkan
sepiring puisi; segelas rayuan.
Pukul setengah sembilan malam
rombong pelancong dan parade bocah kasmaran
duduk tidak peduli.
Sebab kau adalah kesunyianku sendiri.
Malam minggu adalah kidung panjang
tentang pertemuan dan perpisahan.
Aku yang menyelami angin kemarin siang
atau kau yang meresapi senandung dan pujian.
Selalu ada waktu untuk bertemu.
Selalu saja ada asa untuk bersatu.
Apakah ego cukup kuat dan kuasa
menjauhkan kita dari cahaya?
Magelang, 2024
===
*Anindita Buyung, lahir di Banyumas tinggal di Magelang. Menulis puisi dan cerpen di sela kegiatannya sebagai pengajar. Beberapa cerpen dan puisinya pernah dimuat di beberapa media cetak, daring, serta antologi bersama.