21 September 2025
Berziarah ke Makam Ayah
Oleh Rifkah Mannaf*

Langit pagi itu seperti selembar kain abu-abu yang dilipat buru-buru. Tak ada cahaya yang benar-benar muncul, hanya bias samar yang membuat batu-batu nisan tampak mengambang dalam kabut.
Aku berjalan di belakang perempuan itu. Langkahnya lambat, tapi pasti. Gaunnya warna biru pucat, rambutnya sebagian telah memutih, tapi posturnya masih sama seperti dalam foto-foto lama yang aku simpan tanpa tahu untuk apa.
Dia ibuku.
Setelah tiga puluh tahun, ia datang tanpa pemberitahuan. Membawa dua koper dan sebuah kalimat, “Antar aku ke makam ayahmu.”
Kami tidak banyak bicara dalam perjalanan. Hanya suara rintik hujan dan deru mobil yang menyela diam di antara kami. Aku tak tahu harus bertanya apa. Dalam diamnya, ada dunia yang tidak kutahu di dalam dirinya seperti ruang kosong di rumah yang tak pernah dibuka.
Aku lahir dari rahimnya, tapi dibesarkan oleh ibunya – nenekku. Sejak usia dua tahun, aku tak lagi tinggal bersamanya. Katanya, ia harus bekerja di luar negeri. Katanya, ia akan pulang saat waktunya tiba.
Waktu itu ia tak pernah datang.
Ketika nenek meninggal, aku tinggal dengan bibik. Surat-surat darinya hanya datang beberapa bulan sekali, kadang lebih lama. Teleponnya pendek, seperti sedang menghubungi masa lalu yang sudah ia takuti.
Aku tumbuh dengan foto-foto dan sunyi.
Kini, ia berdiri di depanku, membawa tubuh tuanya ke makam seorang lelaki yang tak pernah kucicipi kasih sayangnya. Ayahku. Nama yang hanya tertera di akta lahir dan sesekali disebut bibi jika sedang marah atau sedih.
Kami tiba di pemakaman. Ia berjalan tanpa ragu, seolah ingat betul letaknya. Di bawah pohon kamboja, nisan tua itu menyambut kami. Namanya terukir samar, tapi masih terbaca.
Ibuku jongkok. Diam. Jemarinya menyentuh tanah seperti menyentuh luka yang tak pernah sembuh.
“Ayahmu dulu mencintai bunga-bunga kecil,” ucapnya pelan, nyaris gumaman. “Ia suka menanamnya di belakang rumah. Tapi tak pernah tahu namanya.”
Ia tersenyum tipis, lalu berjongkok. Tangannya menyentuh tanah. Ia tidak berdoa. Hanya diam, seolah tengah mendengar sesuatu dari dalam bumi.
“Waktu itu,” katanya pelan, “aku hanya ingin marah. Ingin menjadi badai, padahal cuma punya tubuh sehelai ilalang.”
Aku menunduk. Angin seperti berhenti di tengah dadaku.
“Kau tahu?” katanya tanpa menoleh. “Ayahmu pernah mencintai seseorang di luar rumah kita. Aku tahu. Ia tahu aku tahu.”
Lama ia terdiam. Lalu berdiri, menatap nisan seperti menatap pantulan dirinya sendiri yang pernah hancur.
“Suatu malam, aku memintanya bicara jujur. Tapi ia diam. Matanya seperti kamar kosong. Aku lempar kata-kata. Ia tetap diam. Gelas pecah. Tanganku bergetar. Lalu ia berdiri.”
Aku menatap matanya. Ada riak yang lambat, seperti danau yang menyembunyikan badai di dasar.
“Langkahnya goyah. Kaki meja longgar. Tubuhnya terantuk. Ia jatuh, kepalanya membentur lantai. Tidak keras. Tapi cukup untuk merenggutnya.”
Ia menunduk. Suaranya mulai retak.
“Aku pikir ia pingsan. Tapi waktu mematung. Detik tak bergerak. Ia tak bangun. Aku duduk di samping tubuhnya yang hangat untuk terakhir kali.”
Aku menahan napas. Tak ada kemarahan. Tak ada amarah dalam kisah ini. Hanya kepiluan yang tak sempat ditutup.
“Orang-orang bilang ia sakit jantung. Bibik bilang begitu padamu. Aku tak membantah. Karena kadang, kebenaran tak menebus apa-apa selain luka.”
Kami duduk berdampingan. Di hadapan makam yang kini menjadi ruang terbuka bagi luka yang selama ini dikunci.
“Aku tidak membunuhnya,” katanya lirih, “tapi aku ada di sana. Aku adalah tempat di mana ia terjatuh. Dan seumur hidupku, aku tinggal dalam bayangan itu.”
Mataku memejam. Bukan karena marah. Tapi karena tubuhku tak tahu bagaimana harus menopang beban yang tak kukenal, tapi seperti diwariskan dalam diam.
“Ibu,” suaraku nyaris tak terdengar, “kenapa baru sekarang kau menceritakannya?”
Ia memandangku. Pandangannya tak menuntut pengampunan. Tapi mengajakku memahami sesuatu yang lebih luas dari benar dan salah.
“Karena butuh waktu untuk berdamai. Dan karena kini, aku tak ingin kamu mewarisi sunyi yang sama.”
Ia menghela napas, lama. Lalu berkata, “Cinta yang tak dijaga bisa tumbuh ke arah yang asing. Dan manusia, dalam keletihannya, sering lupa bahwa satu langkah kecil bisa meretakkan satu rumah penuh rasa percaya.”
Aku melihat wajahnya. Tua. Lelah. Tapi untuk pertama kalinya, tak bersembunyi.
“Maafkan aku,” katanya. “Bukan hanya untuk malam itu. Tapi karena membiarkanmu tumbuh dengan cerita yang tak lengkap.”
Aku mengangguk perlahan. Tidak untuk menyetujui, tapi untuk menyambut. Sebab ada luka yang tak bisa sembuh, tapi bisa dilihat dengan mata terbuka. Dan kadang, itu cukup.
Ibu menoleh untuk terakhir kalinya pada pusara itu. Langkah kami sudah hampir sampai ke gerbang makam ketika ia berkata, suaranya pelan namun seperti menembus sesuatu di dalam dadaku.
“Kau tahu, Nak… jangan pernah biarkan hatimu berjalan terlalu jauh dari akal. Cinta bisa memabukkan, tapi kita bukan hanya pecinta, kita juga manusia yang harus bertanggung jawab atas arah.”
Aku menatapnya. Ia tidak sedang menasihatiku. Ia sedang mengingatkan dirinya sendiri.
“Waktu itu, aku membiarkan kecewa membusuk, dan ayahmu membiarkan cintanya tumbuh di tanah yang bukan miliknya. Kami berdua salah. Tapi kesalahan tak pernah datang sendirian, ia membawa akibat, dan akibat itu… akan tinggal lebih lama dari siapa pun.”
Kami terdiam. Langkah kami lambat, seolah ingin memberi waktu bagi batu nisan itu untuk mendengar.
“Jangan pernah mengkhianati kepercayaan,” katanya lagi. “Karena kepercayaan itu bukan bunga liar. Ia tak tumbuh dua kali di tempat yang sama. Sekali kau lukai, yang tumbuh setelahnya hanya duri.”
Aku mengangguk pelan. Tak ada kata yang cukup menutup luka, tapi kalimat-kalimat itu seperti jahitan pertama pada robekan kain warisan.
“Dan satu lagi,” katanya, sebelum kami melewati pintu besi pemakaman, “jangan pernah hilang akal, Nak. Sebab kehilangan cinta itu menyakitkan, tapi kehilangan akal… bisa membunuh lebih dari satu jiwa.”
Kami bangkit. Ibu menyeka debu dari batu nisan. Lalu berbisik, “Jangan jadi aku. Jangan hidup dengan kebenaran yang hanya kau simpan sendiri. Ia tak akan menguburkan rasa bersalah, hanya menumbuhkan akar yang menusuk dari dalam.”
Kami berjalan pulang, menyisakan jejak di tanah basah. Di belakang kami, nisan itu berdiri sendiri. Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa ia tak lagi kesepian. Karena pagi itu, seseorang telah berpamitan dengan masa lalu. (*)
===
*Rifkah Mannaf. Lahir di Sidoarjo. Lulusan S1 Psikologi. Saat ini di tahun 2025 sedang menempuh studi magister di bidang yang sama di Yogyakarta. Menulis puisi dan prosa di sela-sela belajar memahami manusia, termasuk dirinya sendiri.”