21 September 2025
Puisi-Puisi Mentari Eka
Oleh Mentari Eka*

Paragraf Tua
Sebagai paragraf tua yang huruf-hurufnya mulai menciut, tiada lain yang kau inginkan selain datangnya titik. Kalimatmu telah purna menyampaikan seluruh makna. Meski terbaca getir di sepanjang goresannya. Ialah anakmu, yang kau harap datang membawa pena. Bukan untuk menambah lembar, tapi agar paragraf terakhirmu tidak ditulis dalam tinta yang pudar; nyaris tak terbaca. Pun agar kesepian bukanlah selimut yang kau kenakan saat nantinya sang titik datang.
2025
Hujan yang Tumbuh di Jendela
(1)
Hujan yang tumbuh di jendela
mengantarkan basah
pada pipi lelaki tua itu
Diusapnya kaca mengembun
dengan tangan renta
yang bahkan sudah lupa
cara membaca senyum anaknya
Ada yang tak ia mengerti
tentang roda-roda zaman
yang menggilas di luar sana
Adakah jarak
memang begitu sulit dilipat?
Ataukah kerinduan
memang tidak cukup hebat
menggerayangi mimpi-mimpi tiap malam?
Hujan terlalu gigil
untuk dipeluk oleh tubuh senja,
sedang buku-buku
sudah tak mampu memberi hangat
pada kisah-kisah malang
yang meluap dari jemari tua
(2)
Ketika satu gemuruh
berhasil memadamkan cahaya,
lelaki tua itu turun dari dipan reyot
yang selalu saja berderak tiap ia bergerak;
seperti irama musik tua favoritnya
yang menemani saat kesepian merayap
di dinding-dinding rumahnya
Diraihnya lilin dari laci
yang sudah terlalu sulit ia buka,
seperti hati anaknya
Ia pandang lamat-lamat
lilin yang berpendar
seolah sang cahaya
mampu mengantarkan
pesan kerinduannya saat itu juga
(3)
Bayangan di dinding mengabur
menjadi potongan masa-masa silam
Ia gerakkan jari-jemarinya,
lalu terbitlah rupa-rupa bayangan hewan
Tawa anaknya menggema
dan ia terus meraba-raba suara itu:
di dinding,
di lantai,
di meja makan,
di piring favorit anaknya
Namun, tak ia temukan apa pun
kecuali gigil tak berkesudahan
Dan rumah seketika menjelma kotak kayu tua
yang menyisakan debu dan ingatan yang sudah karatan
2025
Ayunan Tua
Lihatlah ayunan tua
berderak-derak dipeluk angin
bertarung dengan kenangan usang
tentang tawa bocah-bocah
yang beranjak dewasa
yang lupa tertawa
Lihatlah ayunan tua
meringkuk sepi
menunggu ambruk
terkubur dedaunan
2025
Kehilangan Nama
Ia kehilangan nama
Padahal sudah ia selipkan di dadanya
pun ia timang-timang sepanjang malam
Ia terus mencari-cari
Mungkin di teras, barangkali jatuh saat menjemur ingatan
Atau di dapur, saat ia menghangatkan umur
Atau di meja makan, tempat kesepian berdenting bersama sendok dan kenangan
Atau …
Atau …
Ia menatap cermin, mengusap dadanya yang renta
Namanya masih hilang, tapi ia ingat wajah di cermin itu
Wajah itu …
Wajah yang menunggu anaknya pulang
2025
===
*Mentari Eka. Perempuan kelahiran kota Semarang ini pernah menempuh pendidikan di Politeknik Negeri Semarang. Ia menyukai dunia sastra sejak kecil. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, dan fiksi mini sudah pernah dibukukan dalam bentuk antologi bersama di beberapa penerbit.