LiteraSIP

28 September 2025

Amplop yang Berjalan Sendiri

Oleh Djoko ST*

 

 

KANTOR kecamatan masih lengang, pagi itu. Suara mesin pendingin ruangan berdengung pelan, menyala sejak semalam karena pegawai lembur lupa mematikannya. Mentari masih malu-malu menunjukkan parasnya. Seorang pegawai muda menyapu halaman dengan gerakan malas, membiarkan sebagian debu berputar di udara.

Dari ruang kerjanya, Mego — camat yang dikenal rapi dan teratur –terlihat gelisah. Tangannya meremas map cokelat berkali-kali, seperti mencari jawaban di sela kertas. Matanya sesekali melirik laci meja yang terbuka setengah. Ada sesuatu yang tak beres di sana.

Dari balik kaca jendela, suara burung pipit dan teriakan anak-anak sekolah terdengar sayup, tapi tak cukup membikin hatinya tenang. Ia mencoba mengingat-ingat, kapan terakhir kali melihat amplop itu utuh. Ingatan sekilas membuat dadanya malah kian sesak, seolah ada sesuatu yang luput dari genggamannya.

“Ini aneh sekali…” gumamnya. Amplop putih yang seharusnya berisi uang tunjangan bulanan kini kosong melompong. Hanya menyisakan kertas catatan kecil, seolah menertawakan dirinya.

Mego segera menekan bel kecil di meja.

“Bu Ratna, bisa ke sini sebentar?” suaranya terdengar tegang.

Tak lama, sekretarisnya itu masuk dengan langkah tergesa. Ekspresinya penuh kecemasan kala melihat wajah atasannya yang pucat.

“Apakah ada orang masuk ke ruangan saya, kemarin petang?” tanya Mego tanpa basa-basi.

Ratna menggeleng pelan. “Saya kunci pintu seperti biasa, Pak. Cuma Bapak sendiri yang pegang duplikatnya,” tegasnya. Suaranya penuh keyakinan.

Mego terdiam. Nafasnya berat. Alisnya mengernyit rapat. “Kalau begitu… uang itu hilang begitu saja?” katanya sambil melihat ke arah jendela. Di luar, bunyi sepeda motor lewat terdengar samar-samar.

Kabar lenyapnya tunjangan itu pun kemudian menyebar cepat, lebih cepat dari angin siang. Para pegawai mulai berbisik di lorong dan warung di sebelah kantor kecamatan.

“Katanya hilang jutaan rupiah,” ucap Tondo, petugas arsip, sambil menyeruput kopi murahan. Bibirnya bergetar sedikit, entah karena panas atau karena gugup. Matanya melirik kiri kanan, mungkin takut ada yang mendengar.

“Lalu, kira-kira siapa yang berani nyolong di kantor camat?” timpal Sri, pegawai honorer, sambil melahap sepotong ubi goreng. Suaranya pelan, tapi penuh rasa ingin tahu. Beberapa orang menahan senyum sinis, seolah punya dugaan masing-masing.

Bisik-bisik pegawai soal lenyapnya uang tunjangan itu sampai pula ke telinga Mego. Pikirnya, semakin lama dibiarkan, semakin besar pula bara yang bisa menyulut wibawanya.

Mego akhirnya mengambil ponselnya. Tangannya sempat ragu sebelum menekan nomor seorang kenalan lama. Ia seorang detektif swasta bernama Darma, yang dulu sering membantunya di kala muda.

“Kehilangan uang di kantor pemerintah, bukan hal baru, Pak,” katanya sambil duduk tanpa basa-basi. Ia merogoh saku, mengambil sebungkus pastiles, lalu memasukkan satu ke mulutnya. Harum mint menyebar memenuhi ruangan. “Tapi, mari kita pastikan siapa yang benar-benar membutuhkan uang itu.”

Mego terkejut. “Maksud kamu, ini soal kebutuhan, bukan sekadar pencurian biasa?” Suaranya naik sedikit, menahan emosi.

“Biasanya begitu,” jawab Darma enteng. Tangannya membuka buku catatan kecil dengan cepat. “Kalau boleh, saya ingin bicara dengan para pegawai satu per satu.”

Mego mengangguk, meski hatinya masih tak tenang. Bayangan buruk berkelebat. Jika sampai ada pegawai yang terlibat, toh ia pula yang harus ikut menanggung malu.

Di ruang arsip, Darma menatap Tondo dalam-dalam. “Semalam pulang jam berapa?” tanyanya.

“Jam lima lewat sedikit, Pak. Saya langsung ke rumah, anak saya lagi sakit.”

“Sakit apa?”

“Gejala demam berdarah, Pak. Harusnya dirawat di rumah sakit. Tapi, biayanya…lumayan besar.”

Darma mencatat tanpa banyak komentar. Ia hanya sempat melirik ke arah tangan Tondo yang gemetar.

Di ruang administrasi, Darma bersua Sri. Perempuan itu sedikit ragu. Tangannya menggenggam erat buku catatan kecil yang sudah lusuh.

“Pulang jam berapa?” selidik Darma.

“Saya pulang sore, Pak. Terus, mampir dulu ke warung… saya harus utang lagi barang belanjaan. Maklum, gaji honorer nggak cukup buat makan sebulan.”

Darma mengangguk. Ia tidak menuduh, hanya membiarkan kata-kata Sri keluar bebas.

Lalu giliran Ratna ditemuinya. Wajahnya lebih tenang dibanding yang lain.

“Saya tidak ambil uang itu, Pak,” jelasnya, dengan suara serak. “Tapi, petang itu ada banyak warga datang. Mereka mengajukan bantuan. Ada yang bicara soal sekolah anak, soal harga beras yang makin mahal, biaya rumah sakit. Saya sampai bingung mau jawab apa.”

Darma mengusap-ngusap dagunya. “Siapa saja yang datang?” tanyanya lembut.

“Nama-namanya tidak saya catat sih. Tapi, wajah-wajah mereka terlihat menyimpan kecemasan.”

Buku kecil Darma makin penuh coretan. Tangannya bergerak cepat membuat catatan. Wajahnya tetap datar, sementara Ratna menunduk, seolah merasa bersalah tanpa sebab.

Sore menjelang, Darma keluar dari kantor kecamatan. Ia memilih berjalan kaki menyusuri gang sempit di belakang gedung kecamatan itu. Bau air got menyengat. Dinding-dinding rumah reyot berdempetan. Dunia tampak kontras dengan ruangan dan meja rapi di kantor kecamatan.

Anak-anak berlarian tanpa alas kaki. Mereka tertawa riang meski perut mereka mungkin keroncongan. Seorang bocah berkaos robek di bagian lengannya, dengan koreng di dengkulnya, memegang kaleng bekas biskuit. Ia menabuhnya, seolah sedang memainkan dram. Darma tersenyum tipis. Hatinya trenyuh.

Di sebuah teras rumah kayu lapuk, seorang ibu duduk berselonjor sedang menimang bayi kurus. Mata ibu itu menatap Darma penuh pengharapan.

“Pak… katanya ada bantuan beras, ya?” tanyanya polos, tiba-tiba, seolah siapa pun yang berpakaian rapi bisa menjadi penyelamat untuknya.

Malam tiba. Darma kembali ke ruang kerja Mego di kantor kecamatan.

Mego masih duduk gelisah. Jarinya terus saja mengetuk-ngetuk meja tanpa henti.

“Saya sudah menemukan jawabannya,” ujar Darma.

Mego menegakkan badannya.

“Lalu, siapa yang malingnya?” tanya Mego, dengan nada setengah penasaran. Matanya berbinar, seakan segera mendengar nama seseorang disebut.

Darma menyilangkan tangan. Senyum tipis muncul di wajahnya. “Tidak ada pencurinya, Pak. Uang itu yang berjalan sendiri.”

Hah, apa maksudmu? Jangan main-main deh dengan aku!” Suara Mego meninggi.

“Uang itu keluar dari laci,” jawab Darma pelan, “dibagikan oleh seseorang yang tidak tahan melihat warga kelaparan, anak-anak berhenti sekolah, dan pegawai kecil berhutang. Seseorang yang lebih mendengar jeritan rakyat ketimbang suaranya sendiri.”

Mego terdiam. Bibirnya kering. “Lalu, siapa… yang melakukannya?”

Darma memandang tajam, lalu berkata mantap, “Pak Mego sendiri. Coba, ingat baik-baik — nuranilah yang menggerakkan tangan Bapak.”

Mego menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Ingatan samar pun perlahan timbul. Saat itu, ia pulang dengan langkah berat, kala melihat beberapa warga telah menunggu di gerbang kantor kecamatan. Tangan mereka gemetaran. Suara mereka lemah meminta bantuan.Tanpa pikir panjang, ia masuk kembali ke ruangannya, membuka laci, mengambil amplop, lalu membagi-bagikan uang itu.

Kini, duduk di hadapan Darma, ia baru tersadar akan perbuatannya itu. Bukan pencuri yang harus ia cari, melainkan keberanian untuk mengakui kenyataan.

Di luar jendela, adzan isya merambat pelan, mengingatkan bahwa kadang kehilangan bukan hukuman, melainkan pesan agar hati tetap berpihak pada sesama.***

 

===

*Djoko ST, penulis lepas dan bloger. Bisa disapa lewat IG @enambelaspas.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *