LiteraSIP

28 September 2025

Puisi-puisi Indri Anggraeni

Oleh Indri Anggraeni*

 

 

Kenapa Tak Ada Kata ‘Rumah’ di Silsilahku

aku mencari namaku di lembar-lembar tua,
tapi hanya menemukan alamat yang disilang,
tanda tangan yang buram, dan tanggal pindah
yang ditulis tergesa, seolah hendak lari dari sejarah.

ibuku berasal dari gerobak soto yang tak pernah menetap,
ayahku dari kontrakan sempit yang selalu diganti setahun sekali.
aku lahir dari suara gaduh tetangga
dan azan yang tersesat di gang-gang sempit.

nenekku pernah bilang:
kita tidak butuh rumah, cukup tahu ke mana harus pulang.
tapi bahkan arah pun kini berganti nama,
jalan tempat aku bermain jadi perumahan cluster,
masjid tempatku mengaji digusur untuk parkir minimarket.

di silsilahku, tak ada kata rumah—
hanya tempat-tempat singgah yang tak pernah menyimpan kenangan,
hanya tembok yang dibangun agar cepat dijual,
hanya kata ‘asal’ yang tak pernah sempat jadi ‘akar.’

Garut, 2025

 

Manifesto Lapili

jangan suci-sucikan dirimu
yang datang dengan helm dan peta.
aku bukan ladang berkat,
aku luka purba
yang menyimpan nyala dalam dada silikat.

kau tanam alat-alatmu
seperti menancapkan salib di tubuh perawan—
apa kau kira aku akan pasrah?

aku menyimpan dendam
dalam rongga endapan:
fosil-fosilmu yang kau sebut masa depan,
akan meleleh
jadi puisi panas yang tak bisa kau eja.

tubuhku bukan mesin.
panasku bukan hak waris.
aku bernapas dengan letupan,
dan bila waktunya tiba,
akan kuludahi langit
dengan serbuk lava yang pernah kau caci.

Garut, 2025

 

Jendela Kuarsa

aku membuka pagi
lewat jendela kuarsa—
tak bening,
tapi merekam denyut cahaya
seperti sisa mimpi
di gigi yang belum dibersihkan.

di sisi luar,
langit mengaduk awan
dengan sendok aluminium bekas perang.
di dalam,
dinding berdiskusi
dengan bayanganku sendiri.

jendela itu tak pernah benar-benar terbuka,
ia hanya retakan elegan
yang membiarkan waktu
menyusup lewat celah teratur:
semenit per kesunyian.

kau tahu,
kuarsa menyimpan matahari
lebih lama dari kulit manusia menyimpan luka.
dan setiap aku menatapnya,
ada musim gugur
yang gagal tumbuh di mataku.

Garut, 2025

 

Ruang Tunggu Rumah Sakit

kursi-kursi plastik menampung
lebih banyak doa daripada tubuh.
semua orang di sini diam,
tapi ada yang menangis lewat tumit.

bau obat menggantung
seperti pertanyaan yang tidak dijawab,
dan jam dinding
tidak berdetak
ia menghakimi.

seorang ibu menyimpan firasat
di dalam termos teh manis,
sedang aku,
mencari letak namamu
di papan rawat inap
seperti mencari alamat pulang
di kota yang tak pernah kukenal.

di luar, langit memerah,
tapi kami semua memilih tetap menunggu.
karena di ruang tunggu,
waktu bukan milik kita
hanya milik kemungkinan.

Garut, 2025

 

===

*Indri Anggraeni lahir di Garut, 11 Juni. Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Siliwangi, Tasikmalaya. Tulisannya dimuat di beberapa media, lokal dan nasional. Menjadi salah satu juara lomba Cipta Puisi yang diselenggarakan Bank Indonesia Tasikmalaya, 2025.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *